Bukan Pengikut, tapi Bergabung - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, April 23, 2011

Bukan Pengikut, tapi Bergabung

Seorang teman memberikan kabar kepadaku tentang sebuah organisasi pemuda keagamaan yang baru ia – dan rekan-rekannya – bentuk. Suatu organisasi yang memiliki orientasi perubahan dari sisi keagamaan. Bukankah suatu hal yang luar biasa, di saat para pemuda mengejar-kejar dunia, mereka justru sebaliknya – menggapai Tuhan?

Ia menawariku untuk mengikuti penerimaan anggota baru yang akan diadakan minggu depan. Satu agenda yang menjadi metode perubahan yang akan dilakukan ke depannya oleh organisasi tersebut. Aku sangat menghargai itu, seperti aku menghargainya. Bagiku, tak perlu diajak, cukup diberitahu saja. Jika itu memang untuk kebaikan bersama, maka dapat dipastikan (tentunya dengan Izin-Nya) aku pasti bergabung. Karena hidupku sudah tanpa permintaan, atau bahkan pengharapan. Tak perlu meminta, cukup bertanya saja. Itu lebih egaliter, tanpa rasa berharap berlebihan. Aku tidak akan ikut, tapi akan bergabung bersamanya. Ikut dan gabung memiliki nuansa yang berbeda. Seperti di forumku misalnya, meskipun orang-orang di sana tak menolak disebut orang sebagai pengikutku, tapi aku tidak menganggapnya seperti itu. Kita bergabung, bukan mengikuti. Bergabung memiliki nuansa sejajar, setara, seimbang. Tidak ada yang lebih tinggi, pun tidak ada yang lebih rendah. Semua sama. Seseorang dijadikan ketua atau pemimpin bukan karena ia yang paling pintar atau bahkan paling suci. Tapi terpilih karena musyawarah mufakat yang dicontohkan Rasululloh dan para sahabat.

Berbeda dengan term ‘pengikut’. Seorang pengikut harus tunduk pada yang diikutinya. Seperti dalam forumku (lagi) misalnya, tidak ada pengikut, karena memang tidak ada pemimpin – seseorang yang harus diikuti. Sekedar penanggung jawab, yang menanggungjawabi semua yang terjadi di dalamnya. Karena setiap individu memimpin dirinya masing-masing. Lalu bagaimana untuk memecahkan dan mencari solusi permasalahan? Kita mengikuti aturan Tuhan yang dibawa rasul-Nya. Satu-satunya yang kita ikuti, tentu saja manusia yang menjadi utusan Tuhan. Rasul mengajarkan pada kita untuk berdialog adil, bermusyawarah tanpa emosi atau bahkan egoisme pribadi. Permasalahan bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Berbeda konteksnya jika itu dalam arena politik yang dipenuhi kepentingan. Dan yang terakhir ini, aku termasuk orang awam untuk memikirkannya. Bukan karena aku tak mau belajar politik, namun seringkali kita diposisikan untuk – jika tidak menjatuhkan lawan – siap-siap menerima pengkhianatan. Aku tak mau menjatuhkan siapapun, dan tak mau mengkhianati siapapun, atau bahkan apapun. Lebih suka mengalah, dan menjadi ‘pecundang’ dalam arena politik.

Sangat berbeda aksi dan reaksinya antara suatu organisasi dan suatu keluarga. Dalam keluarga memang dibutuhkan seorang pemimpin, sekaligus penangungg jawab. Seorang suami atau ayah menjadi pemimpin keluarga tak perlu melalui musyawarah. Karena sejelek apapun seorang suami, ia tetap menjadi imam sholat dalam keluarga. Semiskin apapun seorang suami, ia tetap menjadi pemimpin keluarga. Itu sunnatullah. Tentu saja, seorang pemimpin dalam konteks keluarga, seperti yang diteladankan oleh Muhammad ibn Abdulloh – bukan sebagai penguasa dan pengambil kebijakan mutlak.

Suatu organisasi akan dinamis, jika pemimpinnya menjadi ‘tali’ penyambung komunikasi antar anggotanya. Seorang pemimpin wajib mengambil keputusan, namun bukan dari kehendak pribadi. Melainkan dari hasil perenungan dari terkumpulnya berbagai pendapat para anggotanya. Seperti sebuah keluarga, saling melengkapi dan menyempurnakan. Kelemahan seorang pemimpin ditutupi oleh kelebihan para anggotanya, begitupun sebaliknya.

Ada pepatah yang berucap seperti ini, “Janganlah kau berjalan di depanku, karena aku bukan pengikutmu. Juga janganlah kau berjalan di belakangku, karena aku bukan pemimpinmu. Mari, berjalan di sampingku. Beriringan menuju jalan kebaikan dan kebenaran,” aku tak pernah mau menjadi pengikut. Pun tak siap untuk menjadi pemimpin. Karena aku tahu dengan kapasitas diriku sendiri. Sebatas teman yang selalu tertarik dalam kebaikan. Apalagi kebaikan ke arah perubahan universal. Itu sangat luar biasa. Tinggal pelaksanaan konkretnya saja bagaimana.

Sabtu 23 April 2011 jam 3 pagi

No comments:

Post a Comment