Jon Traktor (Jangan ditiru!) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, April 26, 2011

Jon Traktor (Jangan ditiru!)

Serial Jon Traktor

Namanya Jon Traktor. Orangnya hitam, kurus, rambutnya gondrong, kadang sering merokok kalau lagi nggak ada orang. Katanya, waktu ditanya kenapa dia merokok, dia menjawab, ”Ngerokok boleh saja, asal jangan ngeganggu orang lain. Buat ngeringanin para buruh rokok..” ah, alasan saja itu.

Pakai bajunya kaos partai, tipis, hingga punggungnya hampir kelihatan dari luar, dipakainya terbalik pula. Entah mengapa dia suka pakai baju dengan gaya seperti itu. Juga suka pakai celana ¾, bekas celana osis SMA yang dipotong hingga betis. Keseharian rutin membantu emaknya di pasar, angkat-angkat sayuran dari jam enam pagi. Jam 10 siang ngejemput emaknya pulang. Katanya, ”Kalau saja menyembah ke manusia boleh, emak adalah orang yang satu-satunya dan pertama saya sembah. Karena ia perwujudan Tuhan di bumi..” welah! Bisa saja kau, Jon.

Padahal ia seorang mahasiswa, tapi penampilannya kayak orang gila. Dia juga jarang mengeluh, pernah suatu kali tomat yang dibawanya di keranjang jatuh, waktu naik motor. Tapi dia nggak jengkel, malah tersenyum. Padahal, beberapa tomat ada yang hancur. Dia benar-benar mirip orang stress, naik motor saja sambil senyam-senyum. Padahal, nggak ada orang yang disapanya. Katanya, ”Senyum itu sedekah, bukan untuk orang lain, tapi lebih utama untuk diri sendiri, biar kita nggak gampang stress. Tersenyum deh..” aneh, dia saja yang sering senyam-senyum sendiri nampak gendeng, kok malah ngasih saran buat orang lain. Dari penampilannya saja dia sudah kelihatan edan, kaos partai terbalik, celana tambalan yang kadang pantatnya kelihatan sedikit, rambutnya gondrong, sering nyeker kalau jalan, juga suka senyum-senyum sendiri. Tapi dia bilang biar nggak stress, senyum saja terus. Aneh kan?

Ada yang lebih aneh lagi. Setiap naik motor, duduk, berjalan, melongo, nungguin dagangan sayur emaknya, ia sambil komat-kamit tak jelas mulutnya. Katanya, ”Biar tiap detik adalah Cinta kita pada-Nya, hiasi tiap gerak dengan sholawat dan dzikir, meskipun hanya di dalam hati. Orang lain nggak perlu tahu kita ngelakuin ini, kecuali kalau nanya. Sholalloh ala muhammad..” ini orang kesambet di mana ya? Penampilannya aneh, omongannya juga ngelantur, padahal emaknya nggak pernah mengajarinya untuk bertingkah seperti itu. Orang-orang pasar juga terkejut, apalagi dengan bahasanya yang berbeda dengan ’kaum’ pasar. Ia melayani pelanggan sayur emaknya dengan bahasa lemes/sopan daerahnya, nggak kayak pedagang lainnya yang ’ceplas-ceplos’.

Malam terakhirnya di bulan ramadhan, ia menangis mengurung diri di loteng (rumah lantai duanya tempat para burung bertengger). Entah ia telah disakiti oleh siapa atau jangan-jangan ia telah ditolak karena cinta?

Waktu ditanya mengapa ia bertingkah seperti itu, ia menjawab, ”Sekeras apapun aku menangis, sesakit apapun mataku karena tangisan ini. Ia tetap saja akan pergi meninggalkanku. Hiks..” siapa, Jon? ”Padahal, aku ingin bersamanya lebih lama. Ramadhan, aku ingin kau di sini sedikit lebih lama...” ia gila, menangisi waktu yang tak mungkin disela, apalagi diputar ke belakang. Orang-orang justeru sebaliknya, gembira dengan datangnya lebaran, eh ia kok malah bersedih. Orang-orang pada pergi belanja ke mall dan pusat perbelanjaan, eh dia malah sering pergi ke kuburan dan menyepi. Entah dia lagi belajar jurus ajian apa, hingga melakukan tindakan-tindakan aneh kayak gitu. Buat pembaca, mohon dimaklum ya, soalnya dia pernah hilang ingatan, jadi mungkin ini akibat berkepanjangan dari amnesia itu. Jangan ditiru ya!

Rabu 8 September 2010

2 comments: