Lebai Malang di Kampusku - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, April 14, 2011

Lebai Malang di Kampusku

Masih ingat kah kita dengan kisah Lebai Malang saat masih duduk di kelas sekolah dasar? Hikayat seseorang yang – sebenarnya – rakus menginginkan ke-enak-an dalam sekali gerak. Alhasil, ia tak punya fokus yang jelas, akhirnya ia sendirilah yang rugi. Keberuntungannya yang satu hilang, sedangkan kenikmatan yang lain lenyap. Lalu apa hubungannya dengan kampus?
Entah para mahasiswa termasuk dalam golongan yang mana. Apakah kita termasuk dalam kelompok maghdlub, kita tahu tapi tak mau. Atau kita termasuk dalam ketegori dholin, orang yang mau tapi tak tahu. Lantas, apa maksudnya?

Seperti ‘ritual’ yang diadakan organisasi atau himpunan kampus dari zaman ‘Nabi Adam sunat’ sampai sekarang, akhir tahun adalah saat-saat para The New Agent Of Change mengikuti ‘sakramen’ Pengukuhan Anggota Baru alias PAB (Pembuangan Air Besar?). Selama hampir empat tahun saya kuliah di sini, selama itulah kegiatan monoton yang tak jelas orientasi dan tindak lanjut ke depannya, terus saja dilakukan. Lalu apa hubungannya dengan maghdlub dan dholin?

Maghdlub adalah orang-orang yang tahu tentang suatu pengetahuan, namun mereka tak mau menggunakan ilmu itu untuk kebaikan universal yang bertolak pada – jika bukan Tuhan berarti – kemanusiaan. Sedangkan orang-orang yang dholin adalah orang-orang yang tak tahu, bego, blo’on, namun mau melakukan tindakan yang sebenarnya ia tak tahu latar belakang sosio-historis dan kultural tindakan yang ia atau mereka kerjakan. Mungkin termasuk saya, karena terus terang saya awam – dalam hal ini – dengan organisasi, konteks yang tengah saya bahas.

Dalam pemikiran mahasiswa awam seperti saya, pengukuhan atau PAB yang dilakukan para The Old Agent of Change dengan membawa para The New Agent Of Change ke suatu tempat nun jauh dari kampus, sangat tidak rasional – namun bukan berarti saya memandang jelek. Menghabiskan waktu 2-3 hari di daerah tertentu dengan alasan ‘macam-macam’ yang dibuat-buat untuk menipu para generasi mudanya. Dan sepulang dari PAB, apa yang dihasilkan para Old’s terhadap adik-adiknya? Apakah mereka mendadak bisa dan suka berkomunikasi dengan para gelandangan? Para pengemis? Para PSK? Yang seringkali menjadi ‘tokoh-tokoh’ masyarakat yang seharusnya kita ‘sentuh’? apa lantas para kader tiba-tiba bisa berkarya, membuat buku – meskipun sepele – dengan pembekalan dari pengukuhan itu? Silahkan saudara cek, berapa mahasiswa tingkat empat – saya membicarakan tentang diri saya sendiri, yang bisa menciptakan hasil karya konkret. Dan saudara boleh berpendapat, sebenarnya mayoritas orang-orang yang merasa dirinya sebagai aktivis, termasuk golongan maghdlub atau dholin?

Saya salut dengan para saudara saya yang berusaha sekuat tenaga, dengan pengorbanan yang tidak kecil – dan sangat pantas saya acungi jempol, karena tidak melakukan ‘ritual’ di suatu tempat nun jauh dari kampus dengan membawa simbol-simbol kebermanfaatan.

Saya bertanya pada seorang adik dari jurusan bukan sejarah tentang PAB yang telah ia ikuti, “Ngapain aja acara malam minggunya?” ia jawab, “Mencari jejak, jalan ke pos-pos nyampe jam dua pagi,” sangat ‘membanggakan’!

Dan saya kaget – bahkan sangat sungguh amat kaget, ketika adik saya sendiri di satu jurusan, merencanakan mengadakan acara yang ‘lucu’ itu. Mengajak di suatu tempat untuk bersenang-senang, mengajari hidup dengan euforia yang ketika mereka kembali ke ‘kandang’ bernama kampus, ‘mengembik’ pun mereka tak bisa, apalagi menghasilkan ‘susu murni’ yang bisa dinikmati masyarakat.

Ada – bahkan banyak – bukan hanya kakak tingkat, tetapi juga adik tingkat – omong kosong senioritas-yunioritas, yang mengatakan, “Ah, si eta (saya) mah nyaho naon? Ha ha ha,” dengan pemahamannya bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang dunia kampus, dunia organisasi, dunia kemanusiaan. Mungkin saya tidak lebih pintar dari mereka, namun bagi saya aktif dalam pemberdayaan anak-anak jalanan dan akrab dengan para orang pinggiran, sudah cukup untuk bekal pembelajaran saya tentang nilai-nilai ‘kemanusiaan’.

Bukan masalah tahu atau tidak tahu apa-apa, ini masalah kemanusiaan, Bung! Kalau saudara merasa lebih tua dari saya, seharusnya anda bisa bijak dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna ‘kemanusiaan’. Toh, saudara seringkali tidak mampu mengubah apa yang diperdebatkan ini sesuai dengan hukum ‘kemanusiaan’, bukan hukum feodal ‘kebinatangan’ yang menjadi adat kita.
Kalau misalnya saudara lebih cerdas, seharusnya bangsa ini sudah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Mengapa saya harus melayani debat anda? Mana mungkin saya mempedulikan orang-orang yang tidak mempedulikan dirinya sendiri, meskipun secara materi orang-orang itu mampu?
Memangnya jika saya meladeni debat anda – tentang tetek bengek PAB, nilai akademis saya mendadak akan berubah menjadi A semua? Memangnya setelah debat dengan anda, adik-adik saya yang di pinggir jalan secara tiba-tiba akan berhenti menghinakan diri? Mengamen, mengemis, atau bahkan mencuri? Apa lantas orang-orang yang menderita, para kaum miskin kota ataupun desa, para kaum yang dibodohi di negeri ini mendadak akan bahagia setelah saya melayani debat anda?

Tugas saya hanya mengingatkan. Wong rasul saja diperintahkan sebatas untuk mengingatkan, kok. Apalagi saya yang jelas-jelas bukan penerus risalahnya, dengan simbol jidat hitam dan topeng-topeng yang menyertainya. Para The New Agent Of Change mau ikut ‘pembudayaan’ feodalisme, silahkan. Tidak ikut, ya bukan masalah. Toh, tidak berpengaruh sedikitpun pada kecerdasan otak kita. Mau berkarya lewat tulisan, ya pasti saya bantu, tanpa pamrih sedikitpun!

Lho, nanti kau dijauhi teman-temanmu karena ‘celotehan’mu ini...

Lucu. Dari mulai saya masuk ngampus di sini, jangankan teman, satu helai rambut pun saya tak punya. Wong semua ini milik Tuhan, kok. Manusia sebatas dititipi, kalau yang dititipi tak mau dicinta, ya bukan urusan manusia lagi.

Saya tantang saudara-saudara yang merasa ‘ritual’ PAB nun jauh dari kampus itu wajib. Ada paling tidak dua adik kelas saya yang, meskipun mereka dikukuhkan di kampus, namun mereka telah ‘menelurkan’ buku-buku sebagai karya nyatanya. Sama seperti saya, dua adik saya ini tak terfasilitasi komputer, apalagi laptop. Meskipun belum mampu tembus ke penerbit, tapi banyak orang lain yang turut termotivasi untuk menulis jua seperti mereka. Padahal mereka baru tingkat dua. Sedangkan para ‘senior’-nya? Yang punya komputer apalagi laptop? Atau bahkan yang kuliah 6-7 tahun?
Memberhalakan organisasi dan senior, atau bahkan ‘dewan penasehat’ organisasi? Mana karya anda? Sudahkah saudara terjun langsung menyatukan perasaan dengan orang-orang yang tidur ‘beralaskan bumi beratapkan langit’? dengan para gembel? Dan para pengamen ‘kecil’ yang mengais rizki-Nya disaat mereka bermain dan belajar? Dan dengan enaknya saudara mengatakan, karya nyata kan bukan sekedar itu...?

Kamis siang, 15 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment