Pagi 17 Agustus di Hutan Nduwur - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, April 16, 2011

Pagi 17 Agustus di Hutan Nduwur

Pagi ini ada sesuatu yang beda di Kerajaan Hutan Nduwur. Tak seperti hari biasanya, pagi ini dengan dihiasi oleh kicauan burung, harumnya bunga-bunga, juga udara yang sejuk, walaupun Matahari belum begitu menampakan senyumnya. Warga Kerajaan Hutan Nduwur serempak menaikan bendera Merah Putih. Para burung dengan sayapnya mengikatkan Merah Putih di ujung pohon pinus dan cemara. Para semut membuat parade merah putih. sekumpulan semut merah dan semut putih, Lho? Kok ada semut putih? bagaimana ini? O, ternyata sebagian mereka ada yang rela meng-Air Brush-kan tubuhnya agarnya menjadi putih. sebenarnya ada apa gerangan? Kenapa pagi-pagi sekali Hutan Nduwur telah diramaikan dengan suasana Merah Putih?

“Paduka Raja, para prajurit telah siap untuk melakukan upacara peringatan HUT kemerdekaan Indonesia. Laporan selesai!” lapor perkutut kepada Raja Hutan. Oh! Ternyata mereka memperingati kemerdekaan Indonesia yang telah berumur 64 tahun. Mereka ternyata tak mau kalah dengan para manusia.

“Jika Engkau ditanya, Berapakah Jumlahmu? Katakanlah, Aku Satu, Indonesia!” Kancil memperagakan tokoh proklamator Indonesia, yaitu Soekarno. Rasa Nasionalismenya memang tak kalah dengan para manusia. Rasa cintanya kepada Kerajaan Nduwur dan Indonesia telah beberapa kali ia buktikan, dengan banyaknya luka di tubuhnya. Ia pernah memimpin pengusiran beberapa pembalak liar. Walaupun, dengan resiko yang telah ia dapatkan, kaki kiri bagian depannya tertembak, untungnya masih bisa diselamatkan. Ia juga pernah bertarung dengan kangguru yang mencoba merebut wilayah Indonesia dengan menguasai sebagian wilayah perbatasan, resikonya tubuhnya luka parah. Meskipun sekali lagi ia dapat diselamatkan dan kangguru berhasil diusir dari tanah air Indonesia.

“Bapak bangga punya anak kayak kamu, Cil. Bapak dulu juga kayak kamu, berjuang dengan jiwa dan raga waktu penjajah memasuki hutan di kaki gunung Slamet. Bapak berjuang dengan Jendral Soedirman, Cil.” Cerita bapak kancil.

“Wah! Terus terus? Gimana selanjutnya pak?” kancil penasaran.

“Bapak masih ingat instruksi beliau sebelum melancarkan strategi gerilyanya...” dengan semangat ’45 pak kancil bercerita.

“Sungguhpun Nyawa ini Hilang, Aku tak Akan Menyesal selama itu Untuk Indonesia!” semangat si Kancil semakin bertambah mendengar cerita tentang Jendral Soedirman.

“Tapi sayang Cil, para generasi muda Indonesia sekarang memalukan, bukannya mengisi kemerdekaan dengan berjuang dan belajar, malah bisanya cuman berfoya-foya. Anehnya lagi, yang bapak sering liat kalo lagi cari rumput di pinggir hutan, mereka tak pernah menyadari hal itu. Kamu jangan kayak kebanyakan manusia itu ya, Cil. Uhuk.. uhuk..” nasehat pak kancil.

“Iyah pak.”

Upacara kemerdekaan di Hutan Nduwurpun berjalan dengan khidmat. Raja hutan memberikan pidatonya di hadapan seluruh warga hutan dengan penuh semangat nasionalisme.

Kemerdekaan Sejati Hadir dari Keberanian Mengikuti Kata Hati

No comments:

Post a Comment