Remember Marsinah and Dewi Sartika - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, May 2, 2011

Remember Marsinah and Dewi Sartika

Lebaran kemarin (tahun 2009), aku bertemu dengan salah seorang kawan SMA yang menjadi karyawan (bahasa sopannya, kasarnya buruh) di salah satu industri elektronik Bekasi. Setiap kali aku berbincang dengan masyarakat dalam golongan ini, ingatanku langsung terarah pada seorang pahlawan buruh asal Sidoharjo : Marsinah. Temanku ini – perempuan, digaji oleh perusahaan tempatnya bekerja dengan upah 2 juta sekian dalam dua minggunya. Jika dihitung dalam jangka waktu sebulan, ia mendapat gaji sekitar lima juta sekian. Ditambah tunjangan, keringanan hari libur – masa haid, sakit, nikah, dll – dan tentu saja tambahan di saat lembur. Hampir sama dengan beberapa kawan SD dan SMP-ku yang bekerja di perusahaan permotoran di daerah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa sudah memiliki kendaraan bermotor pribadi – dan aku kalah telak (hehe), sebagian bahkan mampu untuk membangun rumah dan membiayai pernikahan kakaknya. Ini kisah yang membahagiakan.

Berbeda dengan cerita salah satu sahabatku yang bekerja di daerah Sumatera – aku lupa lagi Sumatera daerah mana. Ia yang bekerja selama tiga bulan, jangankan tunjangan, gaji pokokpun masih tertahan di kantong para mandor. Ia yang sengaja merantau jauh-jauh untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, mendapatkan rizki dari mengajar ngaji dan bela diri di tempatnya ngekost. Ini satu antithesis dari cerita di atas.

Jika kita mencari siapa yang salah dalam sejarah, maka tentu saja kita pasti menyalahkan oknum-oknum yang berkuasa saat itu. Namun dalam penilaian itu, secara tak sadar kita tidak belajar dari sejarah, tidak semakin bijak dari refleksi masa lalu. Karena yang kita dapatkan dari sejarah bukanlah ‘yang salah’, melainkan ‘pelajaran’. Semakin kita mengambil hikmah dan pelajaran dari cerminan masa lalu itu, semakin bijaksanalah kita.

Kondisi kesejahteraan sebagian masyarakat kita dalam golongan ‘karyawan’ itu, sudah pasti tidak lepas dari peran pemerintahan. Namun, pemerintah kita juga tidak mungkin bergerak – memenuhi kesejahteraan buruh, jika para pahlawan buruh tidak bermunculan. Terlepas dari klaim oknum-oknum pemerintahan tentang keberhasilan mereka dalam hal ini, paling tidak aku teringat dengan dua pahlawan yang (di)gugur(kan) dalam masalah ini. Pertama, gadis muda yang penuh semangat dari PT. Catur Putera Surya sekitar 18 tahun yang lalu. Wanita yang bermental pria itu, ditemukan gugur setelah membela hak-hak kaumnya. Siapa dia? Bukan si Mawar atau neng Melati, meskipun namanya seharum bunga itu : Marsinah. Bahkan pendiri ICW – Teten Masduki – sempat berkomentar bahwa, “Barangkali tidak ada kasus kematian seorang pekerja rendahan yang menyedot perhatian luar biasa, kecuali kasus Marsinah,” kejadian itu di tahun 1993, dan hingga saat ini, pelakunya masih aman-aman saja. Namanya sempat dipahlawankan oleh masyarakat, bahkan menjadi nama grup Band Rock serta judul album dan lagunya.

Kedua, seorang pujangga desa, yang melantunkan puisi-puisi sederhana, yang dengan itu, ia hingga kini belum ditemukan keberadaannya. Tahun 2006 silam, ia sempat menjadi ‘panglima’ aksi demonstrasi buruh, yang karena ini, salah satu matanya buta terkena tonjokan senjata laras panjang. Ia adalah Wiji Thukul. Meskipun secara profesi ia bukanlah seorang ‘karyawan’, namun aku mengingatnya karena jasa-jasanya membela kaum yang terlamahkan itu.

Apa yang terjadi dengan kondisi kaum ‘karyawan’ tahun 2011 ini? Aksi dan demonstrasi mereka, paling tidak aku bisa mengartikannya dengan dua hal. Pertama sebagai kritik pada pemerintahan, dan kedua sebagai perayaan Hari Buruh itu sendiri. Meskipun tetap saja, peringatan hari buruh tersebut tidak akan optimal jika tidak ada kritik atas kinerja pemerintahan untuk memenuhi kesejahteraan mereka. Kritik para kaum buruh, bisa kita tafsirkan sebagai solidaritas mereka kepada rekan-rekan sesama buruh yang belum atau bahkan tidak mendapatkan perlakukan yang layak dari ‘majikan’. Meskipun tetap saja, berbagai aksi mogok kerja, baik pihak buruh atau perusahaan terkurung dalam satu masalah ; Uang. Seperti dalam esai- ku sebelumnya (Ketika Materi (Harta, Tahta, dan Rupa) Mendistorsi Cinta dan Keyakinan), bahwa kehidupan kita nyaris tak bisa lepas dari satu ’makhluk’ itu. Permasalahan ini mulai terjadi dari awal munculnya alat sah pertukaran seluruh dunia ini. Di satu sisi keberadaan uang sebagai satu solusi untuk memudahkan pembayaran, namun di sisi lain, uang juga yang menjadikan permsalahan dunia semakin rumit. Salah satunya dalam konsep perburuhan. Walaupun tetap saja, kita masih mampu beranggapan bahwa uang bukan satu-satunya yang terpenting dalam hidup ini – satu kenaifan kita. Hal ini pernah diungkapkan oleh seorang filsuf Jerman berjenggot tebal dan putih : Karl Marx.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seakan tak bisa apa-apa (berkreasi) tanpa uang. Hampir segala aktivitas kita tergantung pada uang. Semakin banyak punya materi (fuluz), kita bisa lebih bebas beraktivitas. Aktivitas kita bukanlah ungkapan otonomi individual kita. Karena ikatan dengan uang, aktivitas kita dari dan demi materi (fuluz).

Kekuasaan saya sendiri sama besarnya dengan kekuasaan uang. Kekayaan uang adalah kekayaan dan fakultas-fakultas saya. Siapa saya dan apa yang dapat saya lakukan, oleh karenanya, sama sekali tidak ditentukan oleh individualitas saya. Wajah saya buruk, tetapi saya bisa membeli seorang perempuan atau laki-laki yang cantik ataupun tampan. Dengan demikian, wajah saya tidak buruk lagi, karena keburukan saya ditutupi oleh uang. Sebagai seorang individu saya lemah, tetapi uang menyediakan 24 kaki untuk saya... saya menjadi tidak lemah lagi. Saya adalah orang yang menjijikan, hina, jahat dan bodoh, namun uang saya dihargai melebihi penghargaan orang lain pada pemiliknya. Uang adalah kebenaran tertinggi, sehingga pemiliknya juga demikian. Selain itu, uang menyelamatkan saya dari kesulitan, karena berbuat tidak jujur, saya dianggap jujur... uang merupakan inversi umum dari individualitas, yang mengubahnya menjadi sebaliknya dan mengasosiasikan kwalitas-kwalitas berlawanan individualitas tersebut.
Uang tampak sebagai sebuah kekuatan yang mengganggu individu dan ikatan-ikatan sosial, yang mengklaim menjadi entitas yang mandiri. Uang mengubah kesetiaan menjadi pengkhianatan, cinta menjadi benci, dan benci menjadi cinta, kebenaran menjadi kesalahan, dan kesalahan menjadi kebenaran, pelayan menjadi majikan, kebodohan menjadi kecerdasan, dan kecerdasan menjadi kebodohan..”
(Metode Pendidikan Marxis Sosialis ; Nurani Soyomukti. 107-108)

Para kaum buruh tidak akan marah, jika mereka dipenuhi hak-haknya. Hak-haknya sebagai pekerja, sebagai manusia, dan mungkin sebagai orang tua yang harus membiayai anak-anaknya. Marsinah memang hanya lulusan SMA (atau SMP?), namun kecerdasan nalarnya tidak kalah dengan para manusia terdidik. Karena konon ia aktif berdiskusi dengan almarhum Munir – dan mungkin mereka kini tengah berdiskusi ‘di sana’. Begitupun Thukul, meskipun keadaan ekonomi kehidupannya tidak memungkinkan baginya untuk menjadi ‘student’, namun mentalitasnya sangat terdidik. Tidak ada korelasinya anggapan bahwa pendidikan harus didahului oleh ekonomi atau sebaliknya. Bagiku, dua-duanya harus sejalan, seimbang, meskipun tidak harus dalam porsi besar.

Jika kita ‘menengok’ pada realitas sejarah, maka akan kita dapatkan bahwa pendidikan bukanlah permasalahan siapa yang ekonominya baik, atau ekonominya buruk. Ki Hajar Dewantara, dalam buku ‘Menuju Manusia Merdeka’ berkali-kali menekankan bahwa, ‘pendidikan itu sederhana, praktis, siapa saja di mana saja bisa dilakukan, dan sedikitpun tidak rumit’. Ketika seorang ibu mendongengkan anaknya sebelum tidur, itu pendidikan. Saat seorang kakek menasehati cucu-cucunya, itu pendidikan. Di waktu kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran, itu juga pendidikan. Tidak seperti yang telah dirumuskan dalam kurikulum yang rumit. Jika dalam suatu peradaban kebangsaan ada kendala penghambat kemajuan, maka dapat dipastikan ada permasalahan yang mengganjal. Korelasi keadaan ekonomi tidak begitu jelas terhadap pendidikan. Kita terbiasa melihat para pemuda ‘borjuis’ yang menyepelekan pendidikan. Sebaliknya, kita juga terbiasa melihat begitu banyak pemuda ‘kere’ yang begitu aktif dalam pendidikan. Anggapan bahwa masyarakat tidak akan memikirkan pendidikan selama ‘perut’ (ekonominya) kosong, ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena dalam masyarakat kita, tidak sedikit para pemuda yang dalam ‘kelaparan’ itu, mampu menghasilkan karya yang tak mampu diciptakan kaum pemuda ‘borjuis’.

Pendidikan dan ekonomi memiliki peran yang seimbang : penting. Jika kita melihat perkembangan peradaban kebangsaan yang lesu, maka dua hal itu yang seharusnya kita tengok lebih dulu. Misal dalam konteks kecil, apa yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah pelajaran-pelajaran yang terlupakan. Apakah kita masih ingat pelajaran-pelajaran saat kita SD, SMP, atau bahkan semudah pithagoras saat SMA? Kita (mahasiswa) mampu mengelak, bahwa kita bukan belajar di jurusan itu. Tidak tepat. Jika kita adalah mahasiswa universitas, sewajarnya pengetahuan kita juga universal – menyeluruh. Paling tidak, kita tahu sedikit tentang banyak hal. Itu yang pertama : pendidikan yang diciptakan untuk dilupakan. Kedua, jika kita belajar pengetahuan yang di masa depan terlupakan, maka jelas kita telah membuang-buang waktu kita. Bukankah ketidakefisienan – jika kita mengaku manusia modern – adalah sesuatu yang tidak baik? Bukankah kemubadziran – jika kita manusia yang mengaku beragama – adalah hal negative?

Mengapa kita tidak ‘mengintip’ sejarah kembali? Satu contoh yang diajarkan Dewi Sartika saat merintis awal pendidikannya : menjahit, memasak, dan calistung (baca tulis hitung). Terdengar mungkin sepele, tapi coba kita jabarkan satu persatu. Menjahit, adakah manusia-manusia modern berpendidikan yang menjahitkan baju suami atau anaknya saat pakaian mereka rusak? Kita lari ke tukang jahit yang lebih praktis. Memasak, berapa ribu ibu rumah tangga modern (yang mengaku berpendidikan) yang tak bisa memasak, lebih memilih membeli dan makan ‘di luar rumah’? Bagaimana dengan baca, tulis, dan hitung? Aku ambil saja satu hal yang mendesak – meskipun tidak bisa dilakukan jika tidak integral, menulis. Masihkah kita mengelak bahwa bangsa kita adalah bangsa yang lemah dalam hal menulis, atau bahkan berkarya? Berapa buku yang mampu kita ciptakan (jika kita mengaku sebagai manusia berpendidikan) selama ini? Alasan apa yang menjadikan kita tidak mewariskan pengetahuan kita pada generasi selanjutnya? Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah satu dari penolong kita saat ‘kontrak’ di dunia ini telah berakhir?

Senin 2 Mei 2011, Selamat hari buruh (1 Mei) dan Pendidikan (2 Mei), Majulah Indonesiaku!

No comments:

Post a Comment