Kecantikan yang Dituhankan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, June 16, 2011

Kecantikan yang Dituhankan

Aku masih ingat saat KKN (kuliah kerja Nangkring, eh Nyata maksut’e), bertanya pada seorang kawan yang pernah menjadi model fotografer (Kagak tahu tuh, buat majalah bobo atau trubus,hehe). ”Yang cantik dari wanita itu apanya sih?” wajar, aku termasuk pemuda yang tak normal. Baru benar-benar mengenal wanita saat memasuki semester lima kuliah. Waktu SMA pernah sih, jatuh cinta (monyet, lah, aku kan manusia? Hehe). Tapi waktu aku renungkan, ternyata itu bagian dari cinta universal. Karena waktu itu aku masih bisa mencintai semua manusia, jadi nggak individualis. Selain ini alibi, juga sedikit ngarang, pembaca (hehe).

Tidak ada jawaban pasti dari pertanyaanku itu, karena memang mereka (wanita) sendiri terkadang masih sulit memastikan bagian mana dari dirinya yang disebut cantik. Apakah hidungnya yang mancung (ke dalam? Hehe), bibirnya yang merah jambu, atau matanya nyang lentik (jari kalee..)?

Jung (tukang bubur, ya? Huz! Psikolog, tauu!) mengatakan, “20% Wanita mengidap kompleks kerendahan diri, dan 70% halusinasi,” ia bicara tentang penampilan. Wanita yang minder dengan penampilannya masih lebih kecil prosentasenya daripada wanita yang berhalusinasi, bahwa dengan kosmetik ia akan menjadi ‘ratu’ yang cantik jelita. Tuhan memberikan segalanya dalam alam. Alam kecil (mikrokosmos) dan alam besar (makrokosmos). Kecantikan bukan berada di luar diri wanita. Ia ada di dalam. Karena tubuh (alam kecil) telah menyediakannya secara alami. Ada beberapa zat yang memang tidak diproduksi tubuh – semisal omega 6 dan omega 3, tapi alam besar telah menyediakannya secara alami, tanpa harus melalui proses kimiawi. Wanita yang ingin menjadi cantik, tak perlu mahal-mahal. Cukup rajin berolahraga, makan-makanan berserat (kata siapa makanan berserat itu mahal?), suka membaca (karena kecantikan berhubungan dengan otak), suka berwudhu (kedokteran hanya menyarankan tiga kali m’basuh muka dalam sehari – selain mandi tentunya, tapi di Islam lima kali), murah senyum, suka bersosialitas, atau suka bermasyarakat. Di atas baru 90%, ke manakah 10%-nya? Wanita dalam kategori 10% itu, adalah mereka yang lebih memilih menjadi diri sendiri. Mencintai kehidupan dan tampil dengan apa adanya. Tidak neko-neko, sederhana, bersahaja dengan kecantikan yang diberikan-Nya. Karena ia menyadari kecantikan bukan berada di luar dirinya. But inside.

Cantik adalah berkulit putih mulus, rambut indah, perawakan langsing seksi montok, sehingga ketika berjalan di muka umum maka tiap mata tertuju padanya (mata kaki, mata sapi, matahari aja nyampe ngiler). Setidaknya, itulah prototipe cantik yang sekarang menjamur dan berakar dalam benak perempuan Indonesia, baik remaja maupun dewasa. Dampaknya, perempuan merasakan kesenjangan antara idealitas kecantikan dengan tampilan tubuh yang nyata, sehingga cenderung mengalami emosi negatif: kecewa, sedih, putus asa, jengkel, cemas, marah (Buss, Psychological Dimension of the Self, 2001). Pada akhirnya, ini berpotensi memicu para remaja maupun perempuan dewasa ke arah rasa kurang percaya diri dan perilaku konsumtif. Tidak heran, jika pusat-pusat kebugaran, salon-salon, sampai klinik kecantikan tumbuh subur di tanah air kita. Laris? Tentu saja.

Dewasa ini bukan hal yang aneh lagi jika kita melihat salon kecantikan, spa, wellness center, dan semacamnya sibuk melayani gadis-gadis belia yang siap menghamburkan ratusan ribu rupiah dalam tempo sekejap. Sepuluh tahun lalu salon hanya datangi perempuan batas usia termuda 18 tahun, tetapi sekarang salon biasa melayani gadis berusia 10, 12 dan 13 tahun. Mereka bisa datang dua hingga tiga kali seminggu. Ah, bukankah angka itu menunjukkan mereka masih di bawah umur? Di mal-mal gadis remaja juga gemar menghabiskan waktu untuk berbelanja produk kecantikan. Ada yang membeli body glitter, perona mata, pemutih wajah, sampai lotion untuk menghilangkan bulu kaki. Untuk apa semua itu?

Sejarah manusia mencatat, definisi cantik terus-menerus berubah. Di Eropa pada abad pertengahan kecantikan perempuan berkaitan erat dengan fertilitasnya, dengan kemampuan reproduksinya. Pada abad ke-15 sampai ke-17, perempuan cantik dan seksi adalah mereka yang punya perut dan panggul yang besar serta dada yang montok, yakni bagian tubuh yang berkait dengan fungsi reproduksi.

Pada awal abad ke-19 kecantikan didefinisikan dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh montok. Sementara itu, memasuki abad ke-20 kecantikan identik dengan perempuan dengan bokong dan paha besar. Di Afrika dan India umumnya perempuan dianggap cantik jika ia bertubuh montok, terutama ketika ia telah menikah, sebab kemontokannya menjadi lambang kemakmuran hidupnya. Tahun 1965 model Inggris, Twiggy, yang kurus kerempeng menghentak dunia dengan tubuhnya yang tipis dan ringkih. Ia lalu digandrungi hampir seluruh perempuan seantero jagat dan menjadi ikon bagi representasi perempuan modern saat itu. Menurut feminis Naomi Wolf, apa yang dilakukan dunia mode lewat Twiggy saat itu merupakan dekonstruksi citra montok dan sintal sebelumnya. Twiggy yang kerempeng adalah representasi gerakan pembebasan perempuan dari mitos kecantikan yang sebelumnya dikaitkan dengan fungsi reproduktif.

Definisi cantik dan mitos bagi perempuan memang berubah-ubah dari masa ke masa. Namun, seperti yang dikatakan Richard Dunphy, dosen politik seksual di Inggris, pada kenyataannya kita telah terperangkap di dalam berbagai citra dan mitos itu. Bukankah selama ini para perempuan telah dipaksa untuk berpikir dan bertindak sejalan dengan mitos dan citra kecantikan itu?

Aku jadi teringat dengan banyak sinetron picisan Indonesia, yang seringkali para tokoh utamanya (seorang pria), lebih memilih wanita yang biasa-biasa saja daripada yang cantik umum. Seorang pengusaha muda yang tertarik dengan kondektur angkot (seorang perempuan), atau seorang menejer perusahaan yang mencintai seorang guru (perempuan) bersahaja, atau cerita roman semacamnya.

Lalu apa yang menjadikan seorang perempuan itu cantik? Dan apakah itu memang yang inti dari kehidupan wanita?

* mohon maaf pembaca, penulis lagi belajar nulis lagi, abiz kena amnesia, jadi banyak paragraf yang sebenernya bukan original milik om penulis, pembaca. Mohon map! ;D



Rabu, 15 Juni 2011, 19:51 WIB, indekozt ingsun

No comments:

Post a Comment