Menjadi Wakil Rakyat - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 9, 2011

Menjadi Wakil Rakyat

Sabtu, 9 Juli 2011

Serial Jon Traktor

Sore itu – Sabtu sore, aku sengaja main ke rumah Jon Traktor yang hanya sepetak persegi 5x5 meter. Rumah yang dipenuhi buku dan papan tulis untuk merancang ide-ide untuk mengubah dunia itu, terasa adem meskipun tak ber-AC. Sore itu, aku berniat menceritakan mimpiku : Menjadi Wakil Rakyat.

“Ha ha ha…” tawa Jon menggelegak saat aku menceritakan mimpi itu. Entah di tahun berapa, mencalonkan atau dicalonkan, fotoku banyak terpampang di desa-desa. Banyak warga desa yang umumnya para petani dan tukang becak, malah segan berbincang denganku – setelah mereka mengenal siapa aku. “Itu membuatku tak nyaman, Jon. Padahal, mereka kan guru-guru kehidupanku. Teman ngobrolku,”

Terlebih saat aku terpilih, dan naik ke ‘bangku’ yang dibeli dari duit rakyat itu. Walaupun memang, aku hanya menikmati sisa gajiku saja, karena sebagian besar aku bagikan pada rakyat kurang mampu sebagai modal. Selain itu, aku juga menggunakan gajiku – yang sebenarnya duit rakyat juga, untuk beasiswa sekolahku, membangun infrastruktur desa-desa, membeli mobil kecil khusus untuk orang yang sakit. Selebihnya, aku bersyukur dapat membeli motor untuk keperluanku sebagai wakil mereka. Fasilitas mobil dan rumah, aku tolak. Namun supir yang telah disediakan, aku jadikan ia teman ‘motor-motoran’ setiap aku berkeliling desa di malam hari minggu.

Aku teringat saat masih mahasiswa – saat aku menulis ini, seringkali aku mengatakan pada teman-temanku, “Kekayaan dan kekuasaan, merupakan ujian tak bergerak. Cobaan hidup yang mati. Namun lawan jenis – wanita, adalah ujian bergerak. Ia hidup. Jika yang pertama lawan hanya ada satu, yaitu di dalam diri kita sendiri – nafsu diri, maka ujian yang kedua itu lawannya ada dua. Satu dalam diri kita sendiri dan yang kedua juga ada di luar diri. Itu salah satu alasan mengapa banyak orang kalah di ujian terakhir itu,” aku mendapatkan kesimpulan ini setelah banyak diskusi dengan si Jon itu.

“Dunia dan kehidupan akan mengenalmu, sejauh engkau mengenal dunia dan kehidupan ini,” pesan Jon. “Isa as atau Yesus, Muhammad, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Soekarno, mereka orang-orang yang mengenal dunia secara universal. Kau akan dikenalnya, sejauh engkau mengenalnya,” lanjut salah satu guruku itu.

“Tapi bagaimana dengan hatiku ini, Jon?” aku sering di tes oleh Jon, tentang mengingat Tuhan di manapun dan kapanpun. Ia pernah mengetes, “Coba kau bayangkan, Allah ada di dekatmu, ia mengawasimu, ia mendengar suara dan detak jantungmu,” lalu aku mengangguk sambil menutup mata. “Terus bayangkan…” lanjutnya. “Sudah?” aku mengangguk lagi. “Buka matamu, sekarang kita mainan catur,” papan hitam putih itu telah disusunnya rapi dihadapan kami.

Sekitar dua jam kami main catur ditemani teh panas dan kacang kulit. Ketika beres main – kali ini aku menang, “Masihkah kau mengingat Allah yang dekat dan mengawasimu, selama kita bermain tadi?”

kRik… KriKk… kRiiKk…

Seketika, ritual mengunyah kacang saat itu berhenti. Beberapa kacang jatuh dari mulutku. Aku tersentak – dan nyaris terjungkal ke belakang. Aku memang menang bermain catur dengannya – yang mungkin ia sengaja. Namun aku kalah telak dengan ujian yang ia berikan. “Seperti itulah yang dilakukan para pendahulu kita,” katanya. “Mereka yang dikuasai oleh tiga ujian itu, akan terlupakan hanya ditandai dengan batu nisan kecil. Dan mereka yang menguasai tiga ujian itu, karena selalu mengingat-Nya, merekalah yang akan ‘hidup’ selamanya,” nasehat Jon padaku.

Hanya senyuman malu yang mampu aku ekspresikan saat itu. Ini bukan kali pertama aku dites olehnya. Mungkin kesebelas atau kelimabelas. “Tapi, Jon. Bagaimana dengan pola hidup zuhud ala sufi yang sering kita diskusikan?” aku memecah kebisuan karena rasa maluku tadi.

“Kita sebaiknya mampu menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akherat. Rasul kita pun mengajarkan seperti itu. Kita masih muda, kan? Jemput kekayaan dan kekuasaan agar mampu melayani kita,”

“Kebutuhan ya…” aku sejenak termenung.

“Ada ungkapan, sumber daya alam di dunia tak mampu mencukupi kebutuhan manusia di dunia di masa depan..” Jon belum menyelesaikan kalimatnya.

“O, tentang teori deret ukur dan hitung itu ya?”

“Tepat,” jawabnya cepat. “Sebenarnya bukan kebutuhan, tapi keinginan. Sumber daya alam akan cukup, bahkan sangat cukup, jika hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tapi tidak untuk keinginan,”

“Lalu, bagaimana kita mampu membedakan kebutuhan dan keinginan kita, Jon?”

“Begini,” ia mulai serius. Tawa kecil yang dari tadi ia tampakan, mulai hilang. “Orang lain mungkin melihatku sebagai orang miskin penggila buku. Tapi kau dan beberapa orang terdekatku tahu, aku memiliki investasi di berbagai perdagangan dan jasa di kota ini,”

“Maksudmu, seperti yang sering diceritakan Kyosaki, Jon? Menjadikan uang melayani kita?”

“Benar lagi,” jawabnya. “Tapi aku belajar, seperti kau yang terus belajar, untuk mengendalikan keinginan-keinginanku. Aku kedinginan, dan aku memerlukan rumah. Memerlukan rumah, itu kebutuhan. Tapi rumah yang seperti apa, itu keinginan. Kita lapar, kita membutuhkan makan. Tapi makan apa dan di mana, Warteg atau Masakan Padang, itu keinginan,” jelasnya.

“Lalu bagaimana dengan mimpiku itu, Jon?”

Tawa kecilnya kembali muncul, “Ya silahkan kau interpretasikan (tafsirkan) sendiri,”

“Ehm..” aku berusaha berpikir keras. “Berarti… itu mungkin saja? Dan di usia mudaku ini, aku mesti belajar untuk menguasai diri, dan membedakan antara keinginan dan kebutuhan?”

“Nyaris tepat,” celetuknya. “Ada satu lagi yang lebih penting, yang sering kita pelajari bersama dijalanan,” senyum kecilnya menyembul.

“Oh! Praktek!”

“Yoi,”

“Mengimbangi teori dari buku dan kampus dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari. Berhenti berharap – karena akan membuat kita kecewa, dan terus bekerja keras, begitu,” tak terasa maghrib hampir menjelang.

“Kalau sudah tahu, silahkan, malam ini jatahnya istriku untuk berduaan denganku, monggo…” ia tersenyum nakal sambil menjulurkan tangannya ke pintu. Kami sudah biasa bercanda senakal-nakalnya, jadi ‘pengusiran’ seperti itu tak berarti dihadapan kami.

“Iya iya, sunnah rasul sih sunnah rasul, tapi nggak usah ngusir kali..” aku menggerutu sambil keluar dari rumah mungilnya. Seperti biasa, ia menemani hingga aku meninggalkan halaman rumahnya.

No comments:

Post a Comment