HIDUP TIDAK SESEDERHANA YANG KITA UCAPKAN - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 16, 2012

HIDUP TIDAK SESEDERHANA YANG KITA UCAPKAN

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang hari-hari ini mengganggu pikiranku. Seperti saat aku masih sibuk bergelut dengan tugas-tugas kuliah kemahasiswaan. Sebagian pertanyaan aku dapatkan hasil dari merenungkan buku yang ku baca, sebagian lagi dari pengalaman hidup. Dari buku 'One Littre of Tears' misalnya, ada pertanyaan, "Mengapa suatu penyakit mengerikan datang pada orang yang baik?" atau...

mengapa kejadian buruk menimpa orang-orang baik?

Tuhan berfirman, "Layukalifullah nafsan illa wus'aha" Tuhan tidak akan membebani hambanya di luar kemampuannya. Tapi pada kenyataannya, banyak orang yang bunuh diri atau gila/hilang akal saat ditimpa musibah. Bagaimana merasionalkan ini?

Tuhan ada, tapi wilayah 'keberadaan-Nya' tidak bisa disentuh oleh pikiran manusia sedikitpun. Ini hidup kita (manusia), kita sendirilah yang 'menanam' dan 'memanen' setiap tindakan yang kita lakukan. Namun seringkali, kita menyangkal. Kita orang baik, rajin beribadah, taat pada orang tua, hormat pada yang tua dan sayang pada yang muda, tapi mengapa saya diuji seperti ini? Barangkali kita pernah berpikiran seperti itu. Teman atau sahabat kita yang tidak mengalami pengalaman hidup seperti kita akan sangat meremehkan, dengan mencoba menasehati kita. Tanpa mereka sadari, sebenarnya nasehat yang mereka berikan justru memperparah perasaan kita.

Tuhan sering 'berbohong' dalam ayat-ayatNya. Dalam ayat di atas, Ia tidak pernah memberikan beban pada manusia. Ini hidup kita, bukan hidup Tuhan. Segala konsekuensi kehidupan, kita yang mengawalinya dan menanggungnya. Mungkin kita bertanya, dalam hal ini (adanya penderitaan) siapa yang harus disalahkan? Tidak ada yang salah. Hidup bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Hidup adalah bagaimana cara kita bisa lebih baik, lebih kuat di hari ini. Paling tidak, ada beberapa fase saat kita mengalami ujian berat kehidupan. Pertama, kita menyangkal. Kita lari dari permasalahan yang menimpa kita. Pikiran kita membela, bahwa kita tidak salah, saya orang baik, saya tidak pernah melakukan kejahatan seperti yang teman-teman kita lakukan. Tapi berjalannya waktu, kita akan sadar, kemanapun kita lari, masalah akan selalu membayangi kita sebelum permasalahan itu selesai. Kita tak bisa lari, tak bisa bersembunyi darinya. Satu-satunya cara adalah menghadapinya dengan keberanian diri.

Fase kedua yaitu, memberontak. Muncul banyak pertanyaan dalam pikiran kita. Atau jika kita emosi, kita akan mulai menyalahkan orang lain, atau bahkan Tuhan. Kenapa saya? Dosa apa yang membuat saya ditimpa permasalahan seperti ini? Saya orang baik!

Dan fase terakhir, yaitu penerimaan. Bahwa apa yang kita alami, murni untuk diri kita sendiri. Ujian kehidupan datang pada kita tidak selalu karena kita banyak dosa, kita melakukan kesalahan besar, atau bahkan karena kita tak percaya Tuhan. Kita hidup di dunia yang tak pernah berhenti kecuali saat kita mati. Penderitaan dan kebahagiaan seperti jam pasir, ia tidak hilang. Hanya berkurang, dan berganti. Seperti kita menghendaki Tuhan sebagai sosok yang sempurna : Tuhanpun demikian. Ia menghendaki manusia yang sesempurna diriNya. Memberi tanpa membutuhkan kembali. Berbuat baik tanpa berharap timbal balik. Dan terus berkreasi, bekerja keras. Tapi yang pasti, kehidupan tidak sesederhana seperti yang kita ucapkan. Ia (kehidupan) menuntut kita ikhlas.

Pada kasus 'One Littre of Tears', tentu saja barangkali tidak ada yang mau jika ditawari kehidupan seperti itu - pada awalnya. Tapi, bagaimana jika yang merasakan kehidupan seperti itu (menderita) bukan kita, melainkan orang yang kita sayangi? Apakah kita rela? Khusus untuk Kitou Aya, engkau luar biasa. Mimpimu terwujud, Live On Forever : engkau telah hidup selamanya dengan membuka hati para manusia.

No comments:

Post a Comment