Mati Rasa - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, June 13, 2012

Mati Rasa

rabu, 13 Juni 2012, Masjid Alun-alun Bandung

Aku sering dengar, bahwa para pertapa Budha – entah apa sektenya, mampu mengapung (terbang) saat mereka bermeditasi. Salah satunya, aku baca dalam cerita Ajahm Brahm, bahwa orang yang memang berbakat dalam hal itu, mampu melakukannya tanpa sadar. Mereka mengapung, saat – mungkin – mencapai tingkat kesadaran yang sangat dalam. Namun tentu saja, inti dari tindakan itu – entah itu meditasi, yoga, sholat/dzikir – bukanlah pada tubuh kita yang mampu melayang. Melainkan kesadaran yang semakin dalam. Dalam sejarah, mungkin tidak ada yang bisa menandingi kedahsyatan ‘melayangnya’ Muhammad ibn Abdullah, yang mampu menerobos langit ke-7 – ‘bertemu’ langsung dengan Tuhan.

Salah satu tanda bahwa kita telah mengubah kesadaran – secara otomatis kehidupan – kita sendiri sebagai langkah awal untuk mengubah dunia yang lebih luas, dibuktikan dengan kebiasaan berbuat baik pada orang lain. Saat tindakan – kebaikan yang terus menerus – itu dilakukan, kita telah mengubah hidup kita dan mendapatkan apa yang orang-orang katakan sebagai ‘kepuasan saat memberi’. Dalam hal ini, yang digaris bawahi adalah ‘kepuasan’.

Di tahun 2010, aku mengalami – mungkin – puncak depresi tingkat awal seorang pemuda. Saat itu, aku merumuskan ‘hukum’ pesimistik terbalik, sebagai ‘alat ukur’ apa yang aku rasakan. Hukum pesimistik terbalik menyatakan bahwa, orang-orang yang melihat kenyataan tak selalu seperti apa yang ditujukan dari kerja keras yang ia lakukan, akan sampai pada fase yang dinamakan pesimistik terbalik. Namun pesimis yang muncul karena usaha gigih ini, sangat berbeda dengan rasa pesimisitas pada umumnya (rasa putus asa orang-orang utopis). Pesimistik yang lahir dari kerja keras yang berkesinambungan namun gagal, akan menciptakan moralitas yang nampaknya menyerah pada keadaan. Gerak, ucapan, dan tingkah lakunya terlihat seperti orang lemah, putus asa, bahkan menginginkan ‘mati’. Tapi di balik semua itu, ada energi tersembunyi, yang siap mengubah keadaan tanpa harus diketahui orang lain sebelumnya. Energi ‘peledak’ yang siap memacu gerak, yang tak mau diketahui orang lain di balik kepesimisannya. Orang-orang seperti ini biasanya tak mempan dengan dorongan semangat dari orang lain. Juga tak peduli dengan anggapan negatif orang lain. Mengapa? Apa yang disebut orang-orang sebagai ‘kepuasan’ saat melakukan kebaikan, aku tak merasakannya lagi. Serasa biasa saja. Senang atau puas, tidak. Tidak senang atau tidak puas, juga tidak. Biasa saja. Tidak ada sensasi apapun. Dan aku merenungkan itu hingga ku tarik kesimppulan bahwa ‘gelas yang terisi air hingga penuh, ia tak membutuhkan air lagi’. Maksudnya – dan ini kesimpulanku pribadi – aku mengalami apa yang dinamakan dengan ‘mati rasa’.

Seorang yang terlalu lama merasakan kesenangan hidup, pada satu ‘titik jenuh’ ia akan ‘mati rasa’. Ia akan mengalami kehilangan ‘rasa puas’ dalam kesenangan tersebut. Begitupun sebaliknya, orang yang merasakan kepahitan hidup secara terus menerus, ia akan kehilangan ‘rasa pahit’ (derita) di satu ‘titik jenuh’. Perasaan yang sama saja saat mereka dalam kesenangan ataupun kesedihan. Seseorang yang kekenyangan, ia tidak akan merasakan nikmatnya makanan paling enak sekalipun, saat perutnya terus diisi – bahkan ia bisa mual. Sama seperti tidur, atau tindakan/ucapan yang berlebihan itu seringkali tidak baik. Tapi dalam kebahagiaan atau kepahitan hidup, terkadang kita berpikir bahwa bukan kita yang mengatur semua itu – sebut saja Tuhan. Jika memang ada kesenangan, maka sewajarnya kita nikmati. Dan itu bukan suatu kesalahan – itu wajar. Lalu, siapa yang menentukan sesuatu itu berlebihan? Begitupun dengan penderitaan hidup. Kita harus sabar, tabah, dan berjuang sekuat tenaga agar bisa keluar dari rasa itu. Dalam artian, kita tidak tahu itu berlebihan atau masih dalam kadar kewajaran.

Barangkali ini yang divisikan oleh para ahli filsafat, bahwa belajar filsafat adalah belajar ‘mematikan’ diri – ego pribadi. Hampir sama seperti para sufi, yang mengatakan bahwa kesadaran tertinggi adalah saat ‘rasa’ kita telah menyatu dengan Tuhan. Kita dan Tuhan bersatu. Terlepas itu paham sesat atau bukan, kita tahu itu kontroversial, saat ‘rasa’ (ego) kita mati, kita akan merasakan kedamaian yang sangat dalam. Mampu tetap berbuat baik meski kehidupan seakan menginjak-injak kita dengan dakinya yang kotor. Dan secara perlahan – tanpa kita sadari, ‘mati rasa’ itu telah mengubah diri kita menjadi wujud yang lebih sangat sempurna dari sebelumnya. Dan kita, mampu menikmati penderitaan, seperti ketika kita menikmati kebahagiaan. Barangkali benar, di surga bukan tidak ada penderitaan, melainkan penduduknya telah mampu menikmati penderitaan, layaknya menikmati kebahagiaan. Penderitaan atau kebahagiaan, sama saja, enak.

No comments:

Post a Comment