Tersenyum Donk… - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 23, 2012

Tersenyum Donk…

Rabu, 13 Juni 2012 Masjid Alun-alun Bandung

Senyummu akan membuat hari ini lebih indah…

Mengapa seakan orang-orang berjalan tergesa, tanpa senyum, dan tak jarang pandangannya menyiratkan curiga pada sekitarnya? Apakah begitu susah untuk tersenyum? Aku suka baca dan dengar cerita tentang orang-orang ‘gila’ yang mudah tersenyum tenang, bahkan saat ada orang yang sedang memarahi atau menghujatnya. Menurut anda, bagaimana kejiwaan orang-orang ‘gila’ seperti itu? Atau, apa yang ‘bersembunyi’ dalam hati orang-orang tersebut?

Ada yang mengatakan, kebahagiaan seseorang tidak terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan apa yang ada di dalam hatinya. Bagaimana seorang Bunda Theressa mampu tetap senang meski dikerubungi orang-orang berpenyakit kusta di tempat jorok, Calcutta. Seperti Muhammad sang pencerah yang tetap tenang meski sorban di lehernya ditarik paksa oleh seseorang. Atau Gandhi yang mampu tersenyum dan berkelakar meski ia kemana-mana hanya menggunakan cawat? Hati mereka tak terisi dunia, namun lebih agung dari itu, Tuhan. Dunia akan habis jika dibagikan. Namun cinta Tuhan, akan semakin menyebar jika dipancarkan dari seorang manusia penyayang.

Banyak orang, terlebih mereka yang masih – merasa – muda, baru akan merasa bahagia jika impian-impiannya terwujud. Impian akan kesuksesan, menjadi kaya raya, punya motor atau mobil bergengsi, bahkan ada yang baru merasa bahagia saat mereka (anak muda) memiliki kekasih yang cantik/tampan. Atau mungkin, barangkali kita termasuk, baru akan merasa bahagia saat bertemu dengan artis idola, artis pop Korea misalnya? Itu wajar. Kita, sebagai anak muda seringkali belum mampu berpikir ‘dalam’ dan jauh ke depan dalam kehidupan ini. Bagaimana denganku – aku masih 23 tahun? Not exactly.

Saat aku masih menjadi mahasiswa, di semester lima, aku banyak membaca buku-buku karya orang hebat. Mulai tahun itu, aku benar-benar menjadi mahasiswa yang lebih miskin dari tahun-tahun sebelumnya. Semua dana terkuras karena aku sangat ‘nafsu’ pada buku-buku (bekas) karya orang-orang hebat. Untuk membeli buku-buku bekas saja aku harus mengorbankan jatah makanku, apalagi buku baru? Lalu, apakah dengan begitu aku tidak bahagia? Bahkan sebaliknya, tidak sedikit teman-temanku yang menganggapku ‘gila’ karena Nampak selalu bahagia. Satu rahasia, orang yang banyak baca buku, apalagi buku pemikiran, ia sebenarnya stress, namun ia pintar menyembunyikannya pada orang lain. Dari banyak baca buku-buku orang hebat itulah, muncul keinginan untuk bertemu dan dialog dengan mereka : Emha Ainun Nadjib, Goenawan Muhammad, Butet Kertaradjasa, Ajahm Brahm, dan masih banyak lagi tentunya. Tapi tentu saja, aku tidak mau bertemu dengan Soe Hok Gie cepat-cepat. Ia ‘kan sudah wafat! :p

Berjalannya waktu, kehidupanku serasa begitu berat dengan banyaknya ‘kerikil-kerikil’ (jika aku tak menganggapnya batu besar yang menggelinding mengenai tubuhku yang kerempeng) yang sempat menjadikanku putus asa. Benar-benar ku rasakan, masa depan berjalan begitu lambat perlahan, sedang masa lalu secepat kilat hilang dalam kenangan. Pernah suatu saat aku tidur di kost-an selepas sholat ashar. Sengaja aku tak mengunci pintu dari dalam : seperti kebiasaanku saat tidur. Mengapa? Aku putus asa, dan barangkali Izrail datang saat itu, tubuhku tidak akan membusuk sebelum ditemukan. Tubuhku akan ditemukan sebelum bau busuk daging perut dan kepalaku hancur oleh belatung dalam kamar. Anda boleh saja mengatakan, pernah mengalami cobaan hidup yang begitu berat, bahkan lebih berat dari yang aku alami. Tapi barangkali aku boleh menantang, tanpa memiliki computer, saat aku stress dulu, aku mampu menulis tiga buku pemikiran, satu novel kesejarahan, dan skripsi sampai selesai. Tanpa memiliki computer. Anda sanggup? Tentu saja, buku-buku itu belum diterbitkan.

Pada akhirnya, aku mampu bahagai meski tanpa bertemu dan berdialog dengan orang-orang hebat yang ingin ku temui itu. Hatiku pun berkata, “Dulu aku ingin bertemu kalian. Tapi kini, kalian-lah yang harus menemuiku – karena aku anak muda. Jangan mati dulu ya? Banyak hal yang harus ku ketahui tentang bangsa ini darimu. Tunggu aku! Tak mungkin aku menemui kalian dengan tampang gembel dan kere seperti ini? Tunggulah persiapanku,” begitu sombongnya aku saat baru selesai kuliah dulu. Sambil membaca buku-buku mereka, aku tersenyum puas : karena membaca buku mereka aku banyak belajar menulis bebas. Dan tentu saja, menambah kegilaanku untuk selalu tersenyum – mendapat wawasan baru. Seperti anak kecil yang mudah tersenyum. Bukan berarti mereka belum memikirkan dunia dengan segala kontradiksinya. Melainkan, mereka menikmati kehidupan yang diberikan-Nya dalam hati mereka. Dan kita selalu kalah dalam hal ini dibandingkan mereka.

No comments:

Post a Comment