Benar-benar Mati - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, July 12, 2012

Benar-benar Mati

Jumat, 15 Juni 2012

Seperti seorang anak kecil yang terlihat sangat bersemangat saat mengejar layang-layang putus. Ia, seperti halnya dengan orang lain, tahu bahwa layang-layang bisa didaptakan dengan harga yang murah, dengan pengorbanan yang mudah. Tapi bukan itu, bukan perkara jual-beli yang mereka inginkan. Mereka bersemangat, mereka menaklukan ketakutannya, bahwa ia mampu mengejar kemanapun layang-layang itu akan jatuh. Tidak peduli, dalam larinya ia akan jatuh, terpeleset, masuk ke lubang penggalian tanah, atau bahkan tertabrak kendaraan, yang bisa mengakibatkannya mati – hanya karena layang-layang.

Pernah ku tulis esai berjudul ‘Menjemput Izrail’ saat masih kuliah dulu. Saat aku begitu fokus mengejar seorang wanita, yang aku kira mau sedikit saja memberi semangat dalam kehidupanku saat itu. Aku berlari, seperti siapapun yang ingin mengejar impiannya, seperti anak kecil pemburu layang-layang yang tak peduli rintangan. Namun aku tak sadar dengan lariku yang tergesa-gesa itu, hingga akhirnya batu kehidupan menjadikan aku jatuh. Tersadar bahwa kenyataan bertolak belakang dengan harapan yang ada. Lari yang sangat kencang itu, membuatku jatuh tersungkur, tentu saja sakit sekali. Rasa sakit itu nyaris membuat gairah hidupku mati.

Di balik semua itu, aku paham. Jika peristiwa seperti itu tak pernah singgah dalam sejarah hidupku, maka sampai akhir kuliahpun bisa jadi aku tak pernah sampai pada maqomat sekarang : keheningan hidup. Melihat dunia lebih luas, dengan penglihatan yang lebih awas, sangat hati-hati. Terlepas begitu susahnya, melepaskan masa lalu itu, aku belajar, bagaimana seseorang akan bangkit jika ia tak pernah jatuh? Dan saat seseorang mengalami kegagalan, kita melewati proses, bahwa kita lebih kuat dari hari kemarin.

Memang ada yang aneh dalam kata-kata Tuhan, Ia berkata, “Tak akan memberi cobaan di luar kesanggupan manusia,” namun dalam kenyataan, tidak selalu begitu. Banyak dari kita yang bunuh diri atau menjadi gila, tak waras, karena cobaan kehidupan. Dapatkah mereka – orang yang menyerah – dikatakan sebagai orang yang sanggup? Atau mungkin, hidup dan mati mereka bukanlah ukuran sanggup atau tidaknya mereka menanggung cobaan? Lalu, apa ukurannya?

Dalam esai yang ku tulis itu, aku ceritakan saat aku tertidur setengah sadar, menaiki tangga pelangi ke atas langit. Pikiranku saat itu menebak, mungkin saat itulah aku benar-benar mati. Dan barangkali itu adalah tangga menuju akherat. Mungkin terdengar konyol. Tapi yang pasti, anda yang tak pernah merasakan, tak akan paham. Dan saat berjalan di tangga itu, ada suara yang terdengar, “Belum saatnya, belum saatnya, belum saatnya,” dan aku terbangun. Sebelum manusia mati, jika ingin mendapat akhir yang indah, ada yang harus dimatikan terlebih dahulu sebelum jasad kita : ego dan pikiran khayalan-khayalan diri.

Seperti orang yang berjalan membawa kotak kebahagiaan menuju Tuhan. Pandangan dan fokusnya akan teralihkan pada kotak itu. Kebahagiaan itu enak. Sebaliknya, orang yang membawa kotak penderitaan, pandangan dan fokusnya akan cenderung ke Tuhan – terlepas ia menghujat atau memuji-Nya. Penderitaan itu tidak enak. Kita menyangka – akui saja kita bertaruh pada kemungkinan – barangkali, Tuhan bisa menghancurkan kotak yang dibawa itu : dan menggantinya dengan kotak kebahagiaan. Atau, secara berlebihan, kita menginginkan kematian segera datang saat derita tak kunjung usai. Dalam ketidaksadaran, bahwa kematian tidak akan datang meskipun kita sangat menginginkannya namun tidak membutuhkannya. Sebaliknya, ia akan datang saat kita membutuhkannya meskipun sangat tidak menginginkannya. how we know? Barangkali saat kita, ego individual kita, benar-benar mati.

No comments:

Post a Comment