Jon Quixote Ternyata Cengeng - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 28, 2012

Jon Quixote Ternyata Cengeng

Serial Jon Quixote edisi 5 bulan ramadan, Rabu, 25 Juli 2012

Si Jon menangis di tengah malam puasa ke-5. Apa hal? Sakit giginya kambuh, menyerang ke saraf otak kiri, hingga ia tak bisa berpikir dan – saking hebatnya deraan sakit itu – ia berjalan miring. Sakit giginya hampir sama dengan ramadan tahun kemarin, namun kali ini nampaknya lebih parah. Giginya bukan Cuma bolong, tapi rusak sepotong. Jika di tahun kemarin Jon bisa mencurhatkan pada kekasih sementaranya (yang meminta Jon menikahinya hanya dengan mahar surat ar rahman), maka tahun ini hanya pada diri sendiri saja. Kenapa tidak dicabut saja giginya? Untuk operasi kecil gigi geraham paling ujung, satu gigi membayar 500rb rupiah. Dia ada dua gigi yang rusak, ujung kanan dan kiri, berarti paling tidak ia harus punya uang 1jt. Permasalahannya gampang jika Jon masih meminta pada orang tua. Tapi ‘kan ia dari SMA sudah malas meminta pada orang tua. Jadi ia hanya bisa menunggu hasil bekerjanya di ramadan tahun ini.

Dalam hal menangis, Jon tidak akan menangis kecuali di tiga waktu : air matanya mengering saat SMA kelas tiga. Saat marhabanan menyambut kedatangan rasulullah, saat mendoakan kakak sepupunya yang perempuan yang sampai umur 37th belum menikah, dan ketiga saat sakit giginya kambuh. Tahun kemarin bahkan ia sampai menyeruduk-nyeruduk dinding kamar, saking parahnya sakit gigi itu. Kekasihnya hanya tertawa saat Jon menceritakan ini. “Haha, kayak anak kecil ajah,” katanya.

Dia nampaknya sudah tak berhasrat pada dunia, hingga tak pernah menangisi apa yang luput dari ikhtiar kerasnya. Hanya saja, terkadang apa yang luput itu membuatnya berpikir, membawanya memasuki pemahaman kehidupan yang lebih dalam.

Pernah saat SMA kelas 2, ia ditabrak lari oleh motor di jalan raya pantura. Setelah ditabrak, tanpa pertolongan orang lain, ia langsung menyeret sepeda sayurnya ke pinggir jalan. Ia tak mau membuat jalanan macet. Di sisi jalan itu, dengan darah segar mengalir di beberapa bagian tubuhnya (kepalaa...pundak lutut kaki), ia membenarkan besi-besi yang bengkok. Lalu dengan blo’onnya ia pulang seperti tak terjadi apa-apa, tak jadi berangkat sekolah. Sampai di rumah ia langsung pergi ke bibinya yang buka toko kelontong, membeli perban dan hansaplas. Ia tak mau ibunya khawatir. Dengan darah masih mewarnai baju putih-abu-abu, bibinya Cuma geleng-geleng kepala : merasa aneh.

Di tengah malam itu, Jon yang tak mau meneteskan air matanya, tak mampu berbuat apa-apa. Rasa sakitnya begitu meledak, menyerang bukan hanya giginya, namun seluruh tubuh. Ia tak bisa membuka mulutnya. Saraf-saraf rahangnya mungkin kena. Dan ia hanya bisa menarik nafas panjang dalam dzikirnya.

“Kehidupan...begitu mudah datang dan hilang,” ucapnya dalam hati di malam itu. Ia menitikan air matanya sembari bersholawat, berdzikir.

“Menangis bukan karena dunia, itu sangat wajar,” ia terus menenangkan dirinya. “Bahkan rasul pun menangis saat ditinggal istrinya, Siti Khadijah. Kata beliau, kita tidak akan disiksa karena tangis dan kesedihan ini. Tapi karena mulut kita yang meratap. Bukankah menangis dalam kadar tertentu itu bagus? Manusia tak akan dianggap tak wajar hanya karena menangis,” ia terus menenangkan diri, hingga seperti biasa, membawa rasa sakitnya ke dalam mimpi.

Wajar sih wajar, Jon. Tapi yo uwis kaplak (sudah besar) kok ya nangis? Memalukan!

No comments:

Post a Comment