Sufi Gendeng - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 28, 2012

Sufi Gendeng

serial Jon Quixote edisi 4 bulan ramadan, selasa, 24 Juli 2012

begitu banyak manusia berpengetahuan tinggi di Indonesia. saking tingginya, terkadang masalah sepele bisa menjadi iwak peye' (booming). saking banyaknya manusia berpengetahuan, terkadang satu kota tumbuh begitu hebat, namun satu kota lainnya tumbuh dengan sekarat. logikanya, jika banyak intelektual berkumpul di satu tempat, maka tempat itu seharusnya maju, aman, dan 'tersadarkan'. namun berbeda dengan para manusia idealis, mereka tak punya tempat di dunia ini. makanya orang-orang idealis mesti membuat tempat untuk orang-orang sesamanya. Jon memang bukan orang idealis, tapi ia menimalis. bahkan sangat minimalis. kalau dia duduk di samping orang gendut, tangannya pasti berpegangan erat pada tempat duduk. ia takut kebawa angin saat orang di sampingnya kentut.

senin pagi, Jon mendapat sms dari seorang rekan mahasiswa : ia bertanya tentang tingkatan iman. ia teringat dengan tman-teman seperjuangannya di jalanan dulu saat masih di bandung. orang-orang berpengetahuan, yang mengidolakan tokoh-tokoh besar : Marx, Nietchze, Kiekeergard, Kant. berbeda dengan Jon yang tak punya rasa hormat sedikitpun pada the greatmen tersebut. ia dengan pethakilannya bilang, "Gua sih kagak kagum sama mereka. gua lebih kagum sama Semar," blo'on banget. tokoh nyata kok ya dibandinginnya sama tokoh khayalan.

tapi Jon mungkin wajar berjata seperti itu. the greatmen itu ternyata ya manusia-manusia juga. mereka punya kekuarangan, seperti Jon yang kekurangan berat badan. mereka tokoh yang berpengetahuan, namun belum tentu berilmu. Marx misalnya, ia membuat buku masterpiece-nya pesenan kaum iluminasi - Das Kapital dan Manifesto Komunis - dengan menghabiskan waktu 25 tahun di perpustakaan, dan semedi berhari-hari dalam kamar. istrinya kalau nggak kasihan padanya yang kurus dan kere, pasti akan menceraikannya. ia tidak pernah berdagang, bersikut-sikatan dalam bisnis, tapi membuat buku tentang persaingan modal. ia jauh dari kaum marginal - dia sendiri yang sebenarnya kere, tapi bikin buku Manifesto Komunis.

luar biasa si Jon itu. bacaannya sampai Karl Marx dan iluminasi. padahal orang-orang mengiranya cuma bisa baca komik doraemon sama majalah playboy dan eksotika.

Nietchze sendiri, ia takut perang. lihat darah saja dia langsung pingsan. tapi dengan gagahnya membuat buku 'Zarathustra Spoke' sebagai inspiring para tokoh dunia untuk berperang.

Imanuel Kant, dia pernah punya dua calon istri. satu istri ia tunda karena terlalu lama berpikir, akhirnya si calon menikah dengan orang lain. satu lagi pindah negara karena terlalu lama mengambil keputusan. ia tak pernah menikah. Om Kant terlalu mendewakan rasio, ia bilang, "dalam mengambil tindakan, kita musti banyak pertimbangan," akhirnya ia membujang seumur hidup. Jon sih sebentar lagi juga menikah, calonnya ada tiga.

Arthur Schopenhaeur, dia menulis buku filsafat wanita dan membahas pernikahan. padahal ia tak pernah menikah, bahkan para ilmuwan ragu ia pernah punya teman perempuan. berbeda dengan Jon, yang kabanyakan temannya perempuan, makanya ia dianggap bencis (banci).

orang-orang seperti itu masuk pada tingkatan manusia berpengetahuan. si Jon, dari guru ngajinya, hapal betul ayat yang menyindir muslim seperti itu. Ya ayyuhaladzina amanu limataqulunama la taf'aluun.. "Kenapa elu ngomong sesuatu yang kagak elu kerjain?" guru Jon pernah menasehati seperti itu. orang bisa saja tahu benar informasi senjata AK-49, namun belum tentu tahu ilmunya (bagaimana menggunakannya).

namun orang berilmu saja belum cukup, jika di hatinya tidak ada cinta. bisa jadi senjata itu digunakan untuk membunuh seperti the joker yang membantai penonton batman abru-baru ini. ilmu tanpa cinta, seperti kendaraan tanpa rem dan setir. memang sih, Jon juga paham, cinta itu terkadang nikmat, terkadang sangat menyakitkan. makanya orang-orang berilmu yang di hatinya penuh cinta, mesti naik derajatnya ke tingkatan takwa.

orang berpengetahuan belum tentu berilmu. orang berilmu belum pasti di hatinya penuh cinta. orang yang di hatinya penuh cinta, belum tentu juga bertaqwa. karena takwa itu menuntut ketawakalan, kepasrahan, keikhlasan dalam perjuangan keras, dan kerelaan tanpa butuh imbalan, in'ajriya illa alallah... dan puasa, mengupayakan manusia menuju tingkatan itu.

"Si Jon itu islamnya gimana sih?" tanya seorang teman pada sahabatnya Jon saat kuliah dulu.

"'Dia mah sufi gendeng, sableng," kata sahabatnya.

"Gendeng sableng gimana maxut-nya?"

"Masa dia pernah bilang 'Tuhan tidak ada, yang ada hanya kita',"

"Waduh, parah amat yak?"

"Bukan cuma itu, takbiratul ikramnya kalau sholat aja dia beda,"

"Beda gimana tah ?"

"Allahu Akbar Dzalika Anni. Allah Maha Besar demikianlah Aku,"

"Gila! bener-bener sinting tuh anak,"

tiba-tiba ada sms masuk ke handphone sahabatnya Jon.

"Uwis to. mbok ya ojo lebay (berlebihan)," sahabatnya Jon kaget, pucat.

"Tah lihat, si Jon tahu kita lagi ngomongin dia," mereka mulai khawatir.

padahal, Jon salah kirim sms. ia mau mengirim sms pada kakaknya, yang mentranfer uang jual sapi terlalu berlebihan. Jon kan nggak bisa hitung, 2 juta saja dibilangnya banyak.

No comments:

Post a Comment