Tuhan Tidak Ada, yang Ada Hanya Kita - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, July 11, 2012

Tuhan Tidak Ada, yang Ada Hanya Kita



Don’t believe what you see, because sometime you can see after you believe…

Topik pembicaraan diskusi sore itu sebenarnya adalah tentang satu tulisan dari seorang teman ‘mantan’ ikhwah – panggilan aktivis dakwah kampus – yang tersadarkan dari jalannya. Isi tulisannya berkaitan dengan sepuluh kesalahan yang biasa dilakukan mahasiswa-mahasiswa yang baru belajar – agama. Berikut sepuluh kesalahan tersebut :

1. Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar.

2. Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain.

3. Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah

Keras dan kaku dalam berdakwah

Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar

Menganggap orang diluar dakwah ahlus sunnah (organisasinya) sebagai saingan bahkan musuh

Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/tokoh agama tertentu Tidak serius belajar bahasa arab

Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik

Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang yang shalih serta tengelam dengan kesibukan dunia

Sembunyi-sembunyi pacaran, karena takut imej yang buruk.

Taklid

Dalam diskusi sore itu, kami hanya fokus pada dua poin : merasa lebih tinggi derajatnya (eksklusif) dan tidak serius mencari ilmu agama sebagai penyeimbang kebutuhan lahir dan batin (duniawi dan ukhrawi).

Pertama tentang eksklusifitas, baik (atau jangan-jangan ini tidak baik?) anggota ataupun organisasi secara keseluruhan. Kita tak perlu menyalahkan organisasi lain. Karena sesungguhnya, sangat mungkin, kita tidak menyadari keeksklusifan kita sendiri. Ada tiga hal yang kita diskusikan dalam kajian yang diadakan di tempat ‘ilegal’ milik orang lain – toh ini Bumi Tuhan, kita bebas menempatinya. Pertama tentang bahasa, cover (penampilan), dan output (pemikiran) – menulis sebagai hasil outcomes belum terlalu nampak.

Bahasa, ini yang membuat saya bingung dari empat tahun yang lalu. Jika mahasiswa yang mengaku sebagai kader dakwah – terlepas mereka aswaja atau bukan (kemungkinannya sama besar) – kampus, tidakkah mereka pernah membaca alqur’an? Berapa ayat yang mengatakan bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya? Kita tak mau disebut sebagai Rasul Tuhan, tapi tak ‘lucu’ juga jika disebut kader dakwah, tapi tak paham (atau jangan-jangan membaca pun tidak?) alqur’an? Kita orang sunda – paling tidak, wajah penulis rada ‘nyunda’, tapi belagu menggunakan bahasa arab, yang jelas-jelas itu penghinaan pada bangsa Indonesia. Mengapa penghinaan? Karena digunakan sebagai bahasa sehari-hari, dan tidak dilakukan dalam pembelajaran – misalnya di pesantren/jurusan bahasa arab.

Wamaa arsalna min rusulin illa bilisani qoumihi, liyubayina lahum… kami mengutus setiap rasul, dengan bahasa kaumnya, agar mereka memberikan penjelasan pada kaumnya. Siapa yang kita contoh dalam hal ini? Ustadz, kyai, mentor, murabbi, senior, imam masjid, atau rasul kita? Ulama yang tidak mencontoh rasulnya, adalah ulama tolol. Bukankah rasul menggunakan bahasa arab? Dan kita memang harus mencontohnya? Kalau kita berkata begitu, silahkan berdialog dengan onta.

Bahasa apapun harus kita pelajari, untuk mentranslit – mengartikan – bahasa-bahasa asing itu dengan bahasa kita. Tugas seorang rasul adalah menafsirkan bahasa ‘langit’ menjadi bahasa bumi untuk kaumnya. Tugas seorang intelektual, ulama, ilmuwan, adalah menafsirkan ilmu-ilmu rumit, menjadi kata-kata sederhana yang mudah dipahami banyak orang. Bukan sebaliknya, justru menyesatkan banyak orang!

Kedua cover – penampilan. Perlu kita ketahui, tingkatan pengetahuan seseorang itu tiga : pengetahuan indera, akal, dan hati. Orang-orang yang masih dalam tahapan indera, kita tak boleh menghujatnya, hanya karena mulut dia/mereka mengatakan kita (misalnya) jelek (wajah ataupun pemikiran), hasil laporan dari matanya. Karena memang masih dalam tahapan awal. Barangkali kita termasuk golongan ini, mudah menyimpulkan dari hasil indera. Rel kereta api yang tak pernah menyatu, dalam pandangan kita, semakin menjauh rel kereta tersebut menyatu. Matahari itu sangat besar, karena mata kita yang terbatas, matahari terlihat kecil. Akal, atau pikiran – alam yang ada dalam akal, juga mudah tertipu. Misalnya, kita bertemu dengan seorang sahabat, tapi ketika kita memberikan salam dan senyum, ia justru cemberut. Pikiran kita akan tertipu, berpikiran ‘mungkin dia marah ke saya’ atau ‘salah saya apa kok salam saya nggak dijawab?’ atau asumsi-asumsi lain yang belum tentu itu benar : bisa saja sahabat kita lagi sariawan. Akal tidak mampu mencapi kebenaran, tapi ia mampu membangun tangga-tangga menuju kebenaran. Bagaimana dengan hati? Mohon maaf, pengetahuan ini rahasia : karena sebenarnya saya tidak tahu apa-apa.

Ketiga, pemikiran. Pepatah mengatakan, semakin berisi, padi akan semakin merunduk. Orang yang banyak bicara di luar forum-forum pembelajaran, dapat dipastikan omongannya tidak berbeda jauh dari suara kentut. Sedalam apapun ilmu kita, seradikal apapun filsafat kita (baik Islam ataupun non-Islam), sekalipun kita sudah mencapai tingkatan hati, makrifat kasyaf, bahkan wahdatul wujud sekalipun, kita harus semakin rendah hati. Bukan sebaliknya, banyak mengumbar pengetahuan-pengetahuan yang sebenarnya kita juga tak yakin, itu benar atau tidak. Filsafat Islam atau Marxis kita, cukup dengan orang-orang tertentu saja kita ungkapkan : orang-orang yang paham. Pada banyak orang, perbanyaklah diam, jika memang tidak dibutuhkan : paling tidak itu yang saya lakukan.

Saya kira itu belum cukup untuk menjadikan kita merenung bahwa kita juga sebenarnya eksklusif. Bahasa kita insya allah sudah merakyat, tapi penampilan kita, pemikiran kita, sudahkah merakyat – menggunakan bahasa-bahasa sederhana? Kebanyakan kita tak suka merokok, apakah kita akan merokok di hadapan mereka? Kebanyakan kita tak tahu apa itu Aswaja, apakah kita akan memaksakan pemahaman mereka? Mungkin kita mampu menghidupkan orang-orang mati, jika kesadaran kita bisa kita paksakan pada orang lain. Membaurlah seperti perintah Musa pada kaum Yahudi. Berkasihsayanglah pada kaum-kaum tertindas (baik secara akal ataupun materi) seperti yang diperintahkan Isa (Yesus). Dan bercintalah dengan Tuhan yang menjelma menjadi alam, baik alam kecil (manusia), ataupun alam besar (lingkungan), seperti apa yang dicontohkan Muhammad ibn Abdullah. Rasul kita sebagai rahmatan lil ‘alamin : cinta untuk seluruh alam. Bukan cinta parsial (sepotong), hanya untuk para kekasih kita saja. Hati kita masih terlalu besar, jika hanya untuk menglirkan cinta pada satu dua orang – wanita. Karena Tuhan pun, bersemayam di dalam hati kita.

Terakhir tentang pencarian ilmu. Kebanyakan kita, mendapatkan sedikit pengetahuan saja sudah banyak bicara, mirip perut yang mendapatkan asupan ubi dan memproduksi banyak gas : kentut. Dengan itu, banyak kader-kader muda yang mudah merasa tinggi derajatnya, merasa lebih suci karena telah belajar agama – yang sedikit tadi. Atau bahkan, hanya sekedar mendengar sepintas – karena saat diskusi lebih fokus mainan hape ­– lalu menyebarkan pengetahuan yang belum jelas itu. Mungkin tak terlalu masalah, mungkin, jika yang mendapat tuduhan tak baik hanya satu dua kader kita. Tapi bagaimana jika nama lembaga – dalam hal ini organisasi? Saya saja – sedikit curhat, sekalipun saya tak mau berbicara selain apa yang saya tahu (dalil Ash Shaff ayat 3), yang sering bercerita tentang ilmu agama, dikatakan sesat dan gila. Meskipun apa yang saya sampaikan itu dari buku atau bahkan kitab. Itupun, hanya saya lakukan saat disuruh bicara, karena saya lebih banyak diam atau bahkan tidur di pojok kelas saat masih kuliah dulu. Coba sahabat bayangkan, disuruh ngomong, tapi setelah ngomong, disebut sesat atau gila. Bukankah itu pujian yang sangat ‘Ajib?

Semakin tinggi ilmu kita, seharusnya semakin rendah hati. Semakin cinta dan sayang secara universal bukan parsial. Jujur saja, saya agak sebal pada orang-orang yang menggunakan dalil cinta universal untuk cinta parsial yang lebih sempit. Tapi tak mengapa, anggap saja saya yang belum pernah merasakan itu – cinta parsial, iri. Satu yang pasti, justru hati kita kotor saat merasakan hati kita suci. Mengapa? Falaa tuzak kuu anfusakum, huwa a’lamu bimanittaqo… maka janganlah kamu menganggap dirimu suci, Dia mengetahui siapa di antara kita yang benar-benar takwa. Sudah tak sholat, tak mempalajari sholat, pula. Mengaku kader Aswaja? Sungguh ter.la.luuu…

Ketika kita ditanya hal-hal sepele, bahkan mungkin sangat sepele semisal tanggal lahir Nabi Muhammad (9 Rabi’ul awal, 12 Rabiul awal itu perawi dhaif), atau nikahnya Aisyah (16 tahun, 6 tahun itu perawi dhaif) dengan nabi saja, kita tak tahu. Pada awalnya memang kita mengikuti, atau bahasa saya, berjalan beriringan. Karena saya ‘membenci’ orang-orang yang mengikuti dari belakang, namun ucapannya kontradiksi. Berjalanlah di samping saya, kita belajar bersama. Saya tak mau mengajari, apalagi diajari. Kita belajar bersama.

Tentang ilmu-ilmu kalam (filsafat), banyak ulama-ulama kita yang menganjurkan kita untuk menjauhi itu. Mengapa? Sebagian besar orang akan tersesat dan menyesatkan orang lain, tanpa bimbingan yang benar saat mempelajari itu. Seorang sahabat muda pernah bertanya saat saya mengatakan bahwa, “Marx, Engels, Frued, Ernest Bloch, adalah orang-orang alim yang mencapai makrifat tingkat dua,”. Apa yang anda maksud? Kurang lebih pertanyaannya seperti itu. Tingkatan makrifat secara umum dibedakan menjadi tiga. Tingkatan yang pertama, yaitu kita membayangkan bahwa Tuhan adalah sosok abstrak yang sangat besar, yang mengusai kita, yang menciptakan segala sesuatu. Tingkatan kedua, yaitu Tuhan berada dalam segala sesuatu (prinsip imanensi) dan meliputi atau mengatasi segala sesuatu (prinsip transendensi), ini sudah mulai rumit. Tingkatan yang paling tinggi, yaitu yakin bahwa tidak ada yang ada kecuali Tuhan. Jika kita ada, berarti kita adalah Tuhan. Bagaimana mungkin kita adalah Tuhan? Barangkali sahabat menyangkal itu. Wajar, dan sungguh tidak salah. Karena memang, kita tertipu oleh indera dan logika. “Jangan percaya dengan apa yang kau lihat,” kata seorang suster gereja. “Karena terkadang, kita bisa melihat setelah kita percaya,” Tuhan, tidak berada di mata kita, tapi di hati setiap hamba. Mereka yang tak merasakanNya, tak akan mampu melihatNya. Pesan saya, mohon jangan berlebihan berbicara pada orang-orang awam, berbicaralah sepuas pikiranmu pada orang-orang yang paham.

sekedar berbagi pengetahuan. sangat boleh perbeda pandangan.

*atau jangan2,saya ya yang sering ngomong aneh2?hehe

No comments:

Post a Comment