Bukan Bangsa Indonesia, tapi Hedonesia - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, August 9, 2012

Bukan Bangsa Indonesia, tapi Hedonesia

dikisahkan suatu saat Lukman Hakim (seorang wali Allah yang namanya diabadikan dalam alqur'an) bertanya pada anaknya, "Wahai anakku, setelah aku mati nanti, apa yang akan kau sembah, nak?"

tentu saja, karena Lukman Hakim adalah seorang salih, anaknya pun demikian. "Allah, wahai bapak. Aku akan selalu menyembah Allah,"

***

mungkin benar dunia ini semakin mendekati kehancuran total. bukan hanya alam yang semakin rusak, lebih tepatnya dirusak oleh makhluk berperadaban tinggi bernama manusia. tetapi juga akhlak atau moral dan budaya pun tak luput dari sasaran pengrusakannya. bulan ramadan yang identik dengan puasa, nyaris tidak ada bedanya lagi dengan hari-hari biasa. setiap pagi saat kuliah subuh dan menjelang berbuka puasa, generasi muda Indonesia beramai-ramai kongkow di jalanan dan tempat wisata bersama kekasihnya. berpelukan erat dan bercanda ria seakan suami istri yang sesungguhnya. mereka berdalih, "Yang penting gak sampai hamil," betapa indah peradaban bangsa Indonesia kini.

sementara itu, saat berbuka puasa, orang-orang seakan tak pernah belajar, bahwa puasa mendidik manusia agar hidup sederhana meski kemewahan ada di sisinya. andai saja para orang kaya tidak pamer, orang-orang yang kere tak mungkin berani mencuri atau mencari harta dengan cara yang salah. jika seseorang berbuka puasa hanya dengan air putih dan kurma, ia harus belajar, apakah enak hidup seperti itu? jika tak enak, bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang sedang berada di bawah 'ketiak' kemiskinan? bagaimana dengan kehidupan orang-orang semisal di Rohingya (Myanmar) dan Gaza (Palestina) atau pelosok-pelosok NTB dan NTT sana? manusia Indonesia, di bulan puasa yang mengajarkan hidup sederhana, mampu berfoya-foya di atas kesengsaraan saudaranya. bukankah itu 'indah'?

sebagai pengamat masyarakat kawakan, Jon sangat paham dengan kondisi kejiwaan anak muda saat ini. mengetahui bahwa bermesraan dengan yang bukan istri sendiri 'dibolehkan', Jon sangat menyesal. bukan karena ia prihatin melihat kondisi generasi muda bangsanya yang semakin menjijikan dan dipenuhi pemuda yang menyimpan otaknya di pantat. melainkan ia menyesal karena dulu pernah menjasi siswa SMA yang 'agak' baik. tahu berbuat amoral - yang penting tidak hamil - 'dibolehkan', semestinya Jon menikmati ajakan beberapa teman ceweknya yang rela menyerahkan tubuhnya bulat-bulat (teman cewek Jon sejenis bola). beberapa wanita yang tulus ikhlas bahkan lilahita'ala menyerahkan tubuhnya untuk Jon. (ituh kok ya lilahita'ala???)

sebelum orang tua anak-anak muda yang menyimpan otak di pantat itu mati pun, mereka sudah 'menyembah' segala sesuatu yang memuaskan jasad mereka. harta, wanita berdada rata (eLah?) atau berdada penuh 'daya', waktu muda, atau keterkenalan tingkat RT. mereka tidak paham dengan nasehat dari orang tua para pendahulunya. bahwa hidup, ada kalkulasi tepat yang akan menghukum manusia ketika saatnya tiba. tentu saja, kisah Lukman Hakim bagi mereka hanya dongengan belaka, seperti kisah qur'an lainnya. kisah fiktif belaka yang jika ada kemiripan tokoh dan peristiwa, mohon dimaklumi saja. karena bagi kaum muda, kitab suci hanyalah dongengan huruf kriting semata.

barangkali karena mereka ditakdirkan hidup di negeri Hedonesia, mereka tak peduli selain isi perut dan kancut mereka sendiri. yang penting banyak duit, ada mobil atau motor smot, bisa makan mewah di mana saja dan bermain hasrat dengan wanita manapun yang penting tidak sampai hamil. tapi jika terlanjut hamil, tinggal aborsi, lalu berbuat nikmat lagi. kemudian aborsi lagi. nikmat lagi, aborsi lagi, nikmat lagi, aborsi lagi, aborsi, nikmat, aborsi, nikmat, aborsi, nikmaaaaat....semua boleh dilakukan orang kaya, karena ini bukan Indonesia, tapi bangsa Hedonesia yang tak masuk akal sehat.

No comments:

Post a Comment