Dengan Tertatih, Akhirnya Berakhir Juga - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, August 17, 2012

Dengan Tertatih, Akhirnya Berakhir Juga

kehidupan, berawal dari penderitaan, dilanjutkan dengan rasa lelah, dan diakhiri oleh kematian. bayi-bayi yang baru lahir, mereka menderita karena kedinginan, kesepian, kelaparan, atau kesengsaraan lainnya yang belum mereka sadari. seorang pemuda yang baru mengenali hidup, ia harus bekerja keras, mengesampingkan pemikiran, bahwa 'hidup itu capek'. tindakan apa dalam kehidupan ini yang tidak capek? bekerja, capek. beribadah, capek (terlebih bagi mereka yang masih belajar). tidur, capek. nganggur, juga capek. Gandhi pernah memberi nasehat yang rasanya ia kutip dari Muhammad ibn Abdullah, "Saat kita lahir, orang-orang tersenyum bahagia melihat tangisan kita. saat kita mati nanti, wajarnya kita tersenyum bahagia, melihat air mata orang-orang yang mencintai kita : bahwa mereka merasa kehilangan,"

dalam hal tersebut, ada tiga tipe orang di masyarakat. pertama, orang yang kehadirannya menyenangkan orang lain. tidak adanya orang itu, orang lain akan merasa ada yang kurang. kedua, orang yang keberadaannya tidak dipedulikan. ada atau tidak adanya ia, sama saja. terakhir, orang yang keberadaannya diantisipasi orang. jika orang-orang sedang berkumpul, mereka berdoa agar jangan sampai orang tipe terakhir ini datang. silahkan, kita termasuk tipe yang mana?

tapi akan enak, jika ternyata tidak ada pengecualian. sayangnya, tidak ada manusia yang sepenuhnya baik. dunia ini tidak memberi kesempatan pada manusia untuk bebas dari kekhilafan dan kecerobohan. bahkan, orang-orang yang telah meminta maaf dan merasa khilaf, belum tentu diterima masyarakat dengan baik. entah orang seperti ini, harus membuktikannya dengan apa, agar orang lain menerima, atau menganggapnya ada.

seperti Jon Quixote yang tak pernah berhenti untuk meminta maaf pada seseorang yang telah disakitinya. terlepas dari Jon yang terlahir menjadi manusia hina - dan pantas dianggapnya tidak ada, ia bukan termasuk orang jahat. dalam dirinya seringkali berontak, saat kehidupan berkali-kali memposisikan dirinya dalam keadaan serba salah. ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, sedangkan dia sebenarnya punya urusan penting, hatinya akan merengek keras : ia harus membantunya. tak jarang ia berpikir, bahwa tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk menjadi orang baik. seperti tidak adanya orang yang mau melihatnya menjadi orang 'tidak baik' : jahat. Ia tahu, bahwa semua yang ia alami dalam kehidupannya adalah proses. perjuangan yang membutuhkan pengorbanan, yang terkadang dirasanya di luar batas mampu kemanusiaannya.

seperti malam terakhir tarawih lalu. motor tosa kakaknya macet di tengah jalan. saat orang lain telah nyaman berbuka puasa, ia masih berada di jalanan. ia sama sekali tidak mengeluh, karena mengeluh sedikitpun tak akan menyelesaikan masalah. pada akhirnya, dengan tertatih dan sedikit lelah hati, perjuangan membawa motor besar itu pun berakhir juga. sebenarnya Jon sudah tidak asing dengan perjuangan hidup di luar kapasitasnya. ketika masih kuliah saja, oleh orang tuanya tak boleh kuliah sambil bekerja. di sisi lain, ia harus menyelesaikan kuliah dalam waktu kurang dari lima tahun. ia harus membeli buku-buku, perlengkapan kuliah, praktik, bahkan, komputer pribadi pun ia tak punya. ia mempersilahkan bapaknya yang PNS tingkat 'datar' itu untuk lebih memerhatikan kakaknya yang masih kuliah juga : selama tujuh tahun. namun dalam keterbatasan itu, Jon membuat revolusi besar dalam kehidupannya. ia tak punya komputer, namun mampu membuat buku, termasuk skripsi. bagaimana caranya? ia benar-benar tertatih dalam jalan penyelesaiannya. ia kerempeng dan gembel, namun pemahaman agamanya melebihi rekan-rekan mahasiswa yang menyebut dirinya aktivis. ia kerempeng dan sering kelaparan, namun membuat forum jalanan bersama rekan-rekan yang mempercayainya.

tidak sedikit sahabat-sahabat Jon - yang kebanyakan perempuan, percaya bahwa Jon akan menjadi 'the greatmen' di masa depan. tapi untuk Jon sendiri, ia cuek. percaya, tidak. tidak percaya, juga tidak. seperti kecuekannya pada Tuhan. ada atau tidak ada Tuhan, ia tetap bekerja keras (konsekuensi hidup). dilihat atau tidak dilihat oleh Tuhan, ia tetap berusaha dalam jalan kebaikan, meski 'hanya' sebatas menyingkirkan jarum atau kerikil dari tengah jalan. dapat pahala atau tidak, ia tetap berdzikir abadan (jalan, berbaring, duduk, dan segala aktivitas lainnya). akan masuk neraka atau surga, ia tetap beribadah. melakukan kewajibannya untuk dan karena diri sendiri : bukan untuk dan karena Tuhan. karena dimensi kemananusiaan, bukan hanya fisik atau jasad. tetapi juga ruh, jiwa, dan mental yang membutuhkan ibadah sebagai asupan makanan. namun ibadahnya Jon, bukan karena dan untuk Tuhan, melainkan untuk diri sendiri. bahkan, Jon memahami bahwa Gusti Allah Ora Sare, Tuhan tidak tidur dan tidak pernah lengah dari apa yang dilakukan hamba-Nya. Jon paham, barangkali karena Tuhan tak pernah tidur, Ia capek. karena itu Jon sedikitpun tak mengharapkan imbalan dari-Nya : yang telah kecapean.

Seperti harapan untuk menyambung komunikasi dengan wanita yang ia sukai. selama hampir satu bulan ini, Tuhan tidak mengehendaki komunikasi itu terjalin kembali. pada akhirnya, Jon harus melepas semuanya, termasuk harapan-harapannya pada Tuhan. barangkali Ia capek, karena tak pernah tidur mengurusi manusia-manusia di bawahnya. Jon akhirnya mengalah untuk tidak menuntut apapun pada Tuhan, dari apa yang telah dilakukannya : ia pasrah. hingga akhirnya, amalan ibadahnya yang sedikit itu di bulan ramadan ini, tak pernah dianggapnya ada. semua hangus, hilang, kosong, ketika sampai di hadapan-Nya.

karena Jon itu... anak muda yang terlalu dalam dikecewakan oleh Tuhan.

No comments:

Post a Comment