Malam Lebaran, Jon Nyungsep di Kegelapan Kamar - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, August 18, 2012

Malam Lebaran, Jon Nyungsep di Kegelapan Kamar

suara takbir berkumandang riang menggema di antara batas bumi dan langit. umat muslim seluruh dunia, khususnya Indonesia merayakan kegembiraan datangnya hari raya idul fitri. hari yang dikehendaki umat muslim sebagai titik penyucian diri setelah satu bulan puasa penuh.

berbeda dengan anak muda lain yang mengadakan pesta bakar ayam atau bebek, setelah zakat fitrah, Jon nyungsep di kamar gelapnya. bukan karena ia sedih dengan perginya bulan cinta - ramadhan, melainkan ia merenung dalam.

"Apa yang terjadi dengan jiwaku? aku sudah tak mampu marasakan senang dan sedih lagi, apa yang terjadi???"

begitulah si Jon. ada dua nikmat yang sangat ia syukuri. pertama adalah rasa sehat, dan yang kedua adalah waktu luang. Jon sadar dirinya sudah bukan remaja lagi. ia sudah saatnya melepaskan kebiasaan malam lebaran seperti saat SMA : Pesta coca-cola dan sate ayam. ia berpikir, mana mungkin mata yang telah 'dibuka'-Nya dengan penglihatan dunia yang sebenarnya, masih mampu bersenang-senang seperti dahulu? barangkali karena Jon tipikal anak muda melankolis, ia terlalu sensitif dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

sore hari sebelum maghrib, Jon memberikan uang THR yang dikasih kakaknya - masih dalam amplop belum dibuka - untuk penjaga kuburan di dekat kandang sapinya. saat ia memberikan amplop itu, pak tua penjaga kuburan sedang membenarkan sapu lidinya. Jon berpikir, "Wahai Tuhan, di hari yang kebanyakan hamba-Mu gembira dan bersenang-senang secara berlebihan, pak tua ini masih sempat-sempatnya membersihkan makam? apakah orang-orang mati itu akan membayar si pak tua? seringkali Engkau memaksaku untuk berprasangka bahwa Engkau memiliki selera humor yang ironis,"

di dalam kamar yang gelap, ia matikan handphone yang terus berbunyi karena sms masuk. ia merenung, berpikir, mencoba memahami kehidupan lebih dalam.

"Tiga tahun ini, aku mengalami ramadhan yang sangat 'pahit'. sebenarnya apa sih mau-Mu, Tuhan?"

"Tiga kali ramadhan aku lalui dengan perasaan kosong. tak bisa senang, juga tak mampu sedih. apa yang sedang Engkau lakukan pada diriku, Tuhan?"

"Dan setiap pagi di hari fitri, aku harus memaksa bibirku untuk tersenyum dan tertawa. patuh pada orang tua tanpa kata-kata, bekerja layaknya robot tanpa baterai. aku terima takdir ini, Tuhan, aku terima...?"

"Berkali-kali aku mengatakan pada keluargaku, pada ibuku, bahwa aku sudah tak menginginkan apa-apa lagi. bekerja keras, beribadah, mencintai makhluk-Mu, sedikitpun aku tak berharap akan ada kebaikan timbal balik untukku, Tuhan, aku sudah tidak berharap apapun dalam hidup ini, Tuhan,"

"Ada yang mengatakan, bahwa jika kau tak berharap, maka itulah yang kau dapatkan. aku tak mengharapkan imbalan dari-Mu, maka Engkau benar-benar tak menghiraukan apa yang aku lakukan. aku paham, Tuhan, aku paham."

"Aku tidak pernah memaksa siapapun, atau bahkan Engkau, untuk mengabulkan doa-doa egois-ku. sekalipun aku mengeluarkan sebagian rizkiku di tiap subuh, sholat malam, berdzikir sambil jalan, aku tak peduli Engkau melihat ataupun tidak,"

"Wahai Allah, Engkau lebih tahu kesalahan dan kecerobohanku. Engkau lebih tahu seberapa menumpuk dosa-dosa menjijikanku. Engkau lebih tahu betapa hinanya diri ini bahkan dari seekor babi. ampuni aku, Allah. ampuni kami. aku bukanlah siapa-siapa hingga Engkau harus mendidiku dengan cara berat. aku bukan keturunan ustadz, kyai, atau ulama apapun. aku hanya anak muda biasa, Allah. aku tidak menyalahkan-Mu yang telah menjadikan kehidupan masa laluku pahit tak terkira. aku anggap, semua itu sebagai balasan kesalahan-kecerobohan saat ku masih muda dulu. fa'altuha idzaa wa anna minad dlolin... (Asy syuara:20) Aku telah melakukannya (kesalahan-kecerobohan itu), sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf,"

Allahu akbar.....

Allahu akbar.....

Allahu akbar.....

Laillaha illallahu akbar....

Allahu akbar walillah ilham...



untuk Aliva, i don't ask to u forgive me. i just ask to u for understood. that we r human, can true asa big as wrong way. mohon maaf lahir batin dari diri yang terdalam....

No comments:

Post a Comment