Pak Guru Jon dan Sandal Bolong Siswanya - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, August 11, 2012

Pak Guru Jon dan Sandal Bolong Siswanya

Ini bukan cerita tentang seorang buruh dari Bekasi di tahun 2002 yang masuk penjara gara-gara wudlu pakai sandal bolong. melainkan cerita tentang tragisnya kehidupan sebagian masyarakat Indonesia - atau bahkan dunia.

ketika Jon pergi ke rice mill untuk membeli pakan ayam dan bebeknya, terjadilah dialog singkat di sana.

"Itu beras siapa, mas?" tanya Jon sambil menunjuk tumpukan karung beras yang baru diisi.

"Punya sendiri, tapi mau dititipin ke toko di depan,"

"Sekilonya sekarang udah berapa, mas?" tanya Jon lagi.

"Kalo panen bulan-bulan ini, sekilonya bisa 7.500-8000. tapi kalo awal tahun kemarin, paling banter 7000/kilo,"

"Waduh, kasian semisal tukang becak yang nggak tentu penghasilannya ya,"

"Yaa... memang harus ada, orang-orang yang seperti mereka di masyarakat (orang-orang kere). agar orang-orang mampu (kaya, katakanlah) dapat ibroh (pelajaran) dari mereka,"

dari kata-kata sepupunya itu, Jon merenung sejenak. jika adanya orang-orang miskin adalah sebagai penyeimbang orang-orang kaya, agar saling membantu (utopisnya begitu). maka mengapa dalam masyarakat lebih banyak yang nafsi-nafsi ? orang-orang kaya suka pamer tanpa komunikasi yang erat dengan mereka yang miskin. sebaliknya, yang miskin tak mau mendekati yang kaya, karena mereka minder (bahasa Jon, nanti bau miskinnya ketinggalan di rumah si kaya).

siapa yang mau jadi orang kere? nyaris tidak ada, kecuali 'orang gila'. barangkali salah satunya adalah Muhammad ibn Abdullah. seorang nabi yang lebih memilih hidup kere, daripada berlimpah. namun kemiskinannya tak membuat sang manusia ya'lu wala yu'la alaih itu menahan kedermawanannya.

sore lalu, Jon mengajak salah satu siswanya untuk membeli sandal. di kelasnya, Jon punya tujuh siswa. semuanya unik dan punya cerita 'gila' (baca : tragis), nyaris seperti gurunya. siswa yang diajak Jon ini umurnya sudah sepuluh tahun, tapi masih kelas tiga. anaknya pintar, banyak nanya, tanggap, dan aktif. namanya Dani. Jon pernah mengujinya dengan permainan amazing maze di bawah ini
dan dia bisa menyelesaikannya. hanya dia dan seorang siswi bernama Uswatun (siswi ini juga punya cerita unik tak kalah hebat). Jon ingin siswa-siswinya yang kurang mampu itu, tidak kalah dalam hal kejeniusan otak dengan siswa dari sekolah berteknologi tinggi.

"Sandal yang kamu pake emang kenapa?" tanya Jon sambil menyetir motornya.

"Udah bolong, pak, gede banget. itu sandal juga dapet dari mulung, nemu di kebon orang," jawabnya polos. dia pernah menjadi pemulung, persis seperti gurunya saat kelas empat SD. Ayah Dani bekerja sebagai tukang ojek, sedangkan ibunya pedagang makanan kecil. pendapatannya tidak seberapa. dan siswa Jon yang paling rajin menabung ya si Dani ini. siswa lain yang jadi pemulung, bernama imam. namun siswa ini mendapat julukan idiot dari para guru. dia tak bisa apa-apa selain mengucapkan 'Om duit,' dan 'Om apa'. kalau Jon tak menganggap dia idiot, sebaliknya, ia menganggapnya seorang jenius yang belum dibangunkan - karena dulu Jon pun begitu. kabar terakhir anak ini hulang di kota (ceritanya nanti di judul lain). Jon sadar, dia dilahirkan untuk orang-orang seperti mereka. tentu saja, ada derita di samping kebahagiaan tersendiri dalam hatinya.

"Itu pake sandal siapa?" tanya Jon lagi.

"Punya mama. ini juga mau putus, gara-gara suka buat lari-lari aku. hehe," katanya.

"Tadi udah bilang ke mama kan, mau beli sandal di alun-alun?" tanya Jon lagi.

"Iya, pa."

"Bilangnya gimana?" Jon khawatir, disangka penculik anak di bawah umur. tampang Jon kan rada gimana... gitu.

"Iya, mau beli sandal sama pak Jon. tadi juga ini kancing baju lepas, dijahitin dulu sama bapak, soalnya ibu lagi masak," ucapnya.

sebelumnya, sabtu pagi lalu setiap siswa mendapatkan zakat 5000 rupiah dari sekolah. tapi Dani mendapatkan lebih, karena ada yang sedekah padanya, 10000 rupiah. awalnya Jon menyuruh Dani untuk memberikan uang 10 ribu itu pada ibunya. cukup bawa lima ribu saja, sisanya nanti Jon yang tanggung. tapi dia malah menjawab sebaliknya, tetap membawa uang itu, barangkali kurang. begitulah orang-orang sekitar Jon, orang kurang mampu yang sadar, mereka tak pernah mengharap apapun dari orang lain.

setelah membeli sandal seharga 25ribu rupiah, Dani meronta, "Pak, ini sepuluh ribunya ambil saja," Jon menambahkan 20 ribu untuk membeli sandal itu.

"Haha..." Jon tertawa satire. "Buat tambah-tambah belanja mama kamu, ya," Jon memasukan uang 10000 itu ke saku celana Dani lagi.

"Kita langsung pulang, pa?" tanya dia setelah beli sandal. maklum, sudah maghrib.

"Nggak lah, kita buka puasa dulu," mereka masuk ke warung kupat glabet khas Kota si Jon.

"Wah, aku nggak punya duit, pak. takut mahal," ucap Dani.

"Haha..." Jon tertawa satire lagi, sembari duduk di kursi. "Ehm, gini aja, yang habisnya belakangan, dia yang bayar, ya?" benar saja, Dani makan secepat kereta ekspress.

"Dah, habis, hehe. pa guru yang bayar, hehe,"

"Haha... iya dah..."

apakah Jon sombong dengan tertawa satire dan gelagatnya yang sok banyak duit? mungkin.

keluarga Jon pernah berada dalam jerat kesederhanaan yang begitu pahit. barangkali resiko keberanian bapaknya Jon yang menyekolahkan tujuh anaknya hingga perguruan tinggi. setiap ada peminta-minta ke rumahnya, dan kebetulan ada kakak laki-laki Jon, pasti terjadi dialog kritis.

"Dia masih muda, kok ya ngemis?! jangan kasih banyak, 500 saja!" Jon yang sangat paham dengan perjuangan kakaknya, terkadang malu sendiri. ia belum berkorban apapun untuk keluarganya sendiri. makanya, ia berinisiatif untuk tidak merayakan wisudanya november depan. ia ingin mengalihkan dana wisudanya untuk kegiatan yang lebih masuk akal di kampungnya. tentu saja, tidak ada yang setuju dengan ide itu.

"Kondisi saat kami (kakak-kakak Jon) lulus, dengan saat kondisi sekarang, sangat beda. kalo dulu, wajar kalo misalnya kami nggak wisuda. karena kuliah pun sudah untung. tapi toh kita ikut wisuda semua. nanti kamu nggak punya foto kenang-kenangan loh," kata kakak laki-laki Jon.

"Lah, gampang. tinggal edit potoshop, beres," jawab Jon lempeng. manusia yang hidupnya jauh dari kesederhanaan, tidak akan terpikirkan dalam benaknya untuk peduli pada manusia yang berada 'di bawahnya'. pemuda yang di waktu cemerlangnya hanya bisa meminta dan meminta, ia akan terus membebani orang tuanya. terlalu banyak permasalahan bangsa ini yang harus dirapikan. dan tentu saja, itu tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang di masa mudanya hanya bisa meminta. barangkali mereka kaya harta, namun belum tentu akal dan hatinya sama. karena tangan yang terlalu banyak meminta, adalah tangan-tangan yang lemah. mana mungkin dunia akan diserahkan pada orang yang menggunakan tangannya untuk banyak meminta-minta? untuk itulah Jon dan siswanya belajar mandiri saat anak-anak lain masih menangis hanya untuk beli permen.

No comments:

Post a Comment