Peradaban Cacat Mental - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, August 5, 2012

Peradaban Cacat Mental

Harga diri seseorang tidak akan mati hanya karena diinjak-injak. Suatu saat ia – sang terinjak-injak – akan bangkit dengan kekuatannya setelah dijatuhkan : dan ia akan mengerikan. Dengan kekuatannya, ia bisa menjatuhkan lawan, bahkan hanya dengan satu injakan

Sepertinya akan terus ada orang-orang yang kesusahan saat melihat orang lain mendapatkan kesenangan. Meskipun di sisi lain, apa yang dinamakan kesusahan dan kesenangan sebenarnya relatif. Seseorang mendapatkan amanat beberapa tanah waqaf untuk kepentingan umat, sedangkan beberapa yang lain tidak setuju seseorang tersebut mengerjakan amanat itu. Siapa yang susah dan siapa yang senang? Apakah seseorang yang diberikan amanat itu, yang dikatakan mendapatkan kesenangan? Amanat adalah ‘pemberian’ yang sangat berat. Ibarat sekam dalam genggaman. Dipegang panas, dijatuhkan – diberikan pada orang lain – akan padam. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak senang? Apakah mereka mampu mengerjakan amanat itu tanpa ada menejemen organisasional yang efisien? Mengapa mereka tidak menyalahkan para almarhum yang memberikan amanat itu pada seseorang tersebut?

Sejarah telah menunjukan berbagai pelajaran yang sangat jelas tentang persoalan hidup seperti itu : peradaban cacat mental. Habil, si anak kerempeng sang Adam, mendapatkan istri yang cantik : Iklima. Qabil, dengan tubuh yang sempurna dan seharusnya layak mendapatkan yang seperti dirinya, ia harus kecewa : dengan beristri Labuda. Kemudian Qabil melakukan rekayasa pembunuhan pada Habil si kurus yang polos. Habil mati di tangan saudaranya sendiri. Syukurlah, Qabil menyadari kecacatan mental dirinya melihat orang lain lebih layak dari dirinya sendiri. Bahwa seorang manusia pilihan, tidak dilihat dari penampilan fisik atau bahkan materi : melainkan isi hati.

Peradaban cacat mental akan selalu ada, mungkin sampai akhir dunia ini. Jika dikatakan bahwa manusia cenderung dalam perbuatan baik, bisa jadi itu benar. Bahwa malaikat ditakdirkan tunduk pada Adam – prototipe manusia sesungguhnya, namun iblis sebaliknya : ia melawan. Manusia cenderung dalam kebaikan, namun kejahatan dalam diri, memiliki kecenderungan yang susah ditaklukan. Konon saat iblis dihukum dalam neraka, ia mengakui kekhilafannya, namun saat nafsu dibakar oleh api yang tak akan padam itu, justru sebaliknya : ia membangkang. Nafsu manusia lebih berbakat untuk menipu diri bahkan lebih cerdik dari iblis. Seseorang bisa saja berpenampilan bak seorang alim nan salih, namun siapa yang tahu dalam hati dan pikirannya, ia sakit jiwa, cacat mental : susah melihat orang lain senang.

Berapa kali rasulullah Muhammad dianggap sebagai penyihir, orang gila, orang kere yang tak mungkin menjadi Nabi? Setiap generasi memungkinkan keberadaan manusia-manusia cacat mental yang bertopeng fisik sempurna. Bahkan pernah dikisahkan tentang seorang sahabat yang selama tiga hari rasululloh mengatakan, bahwa ia ahli surga. Amr ibn Ash penasaran dengan pernyataan nabi, sebenarnya amalan apa yang ia lakukan hingga nabi berkata seperti itu? Saat ia menyelidiki, ternyata ia orang yang biasa-biasa saja. Sholatnya seperti sahabat yang lain, puasanya juga, lalu apa? Dan ‘qolbun salim’-lah ternyata yang seorang sahabat itu miliki. Hati yang tenang, selamat, terlindungi dari perasaan-perasaan negatif. Hati yang diselamatkan dari penyakit cacat, senang melihat orang lain susah dan sangat susah melihat orang lain senang. Seorang sahabat lain, ia seorang muslimah, dikatakan rasul sebagai ahli neraka. Sementara para sahabat melihatnya sebagai ahli ibadah, rajin sedekah karena ia seorang kaya. Lalu mengapa? Di hatinya terjangkit penyakit hati, ia cacat mental.

Saat Jon masih kuliah dulu, ia pernah merasakan begitu hebatnya orang lain yang tak senang melihatnya nyaman. Ia membela adik-adiknya yang diospek, ia memberikan pelayanan, bahkan agar orang lain senang – tanda mereka cacat mental, ia berpakaian gembel : agar orang meremehkannya. Ia difitnah, diteror, dijatuhkan nama baiknya – padahal ia tak punya nama baik sedikitpun, dihina di belakangnya. Sebenarnya jika ia dihina di depan orang pun, ia sangat pantas : ia memang manusia terhina. Barangkali orang-orang takut digigit Jon yang kena rabies. Beranjaknya waktu, apa yang orang-orang dapatkan dari Jon? Ia dibutuhkan banyak orang, karyanya disukai orang, sumbangsihnya dibutuhkan, bahkan namanya ditulis-tulis di belakang kursi oleh seorang perempuan – kalau bukan perempuan gila berarti ia sedang kesurupan. Bahkan saat ia berganti penampilan – ia rapi, sebagian (besar) kecewa telah merendahkannya di masa lalu. Apa Jon marah? Ia tak punya hati, jadi tak bisa marah. Bahkan ia mungkin tak tahu, marah itu semacam cemilan apa.

Sore kemarin keluarga Jon melakukan buka bersama dengan masyarakat tetangga desanya. Desa tempat kelahiran bapaknya itu, memiliki banyak tanah yang diamanahkan pada bapaknya Jon. Rencananya akan dibangun masjid dan progresitas dari sekolah yayasan keluarganya. Namun apa yang terjadi? Bapaknya Jon dituding dengan licik akan meraup untung dari rencana itu. Dimarahi, diinjak-injak harga dirinya di depan para tamu, dan yang lebih ‘indah’ lagi, mayortitas orang yang menghinanya adalah anak-anak muda. Para pemuda yang baru kemarin merasakan malam pertama, yang tak tahu pengorbanan bapaknya Jon pada orang tua atau leluhur mereka.

“Keuntungannya apa buat kami?!”

“Untuk apa dibuat yayasan? Apa untungnya?”

“Anda jangan-jangan ingin meraup untung untuk keluarga sendiri!”

BRAK!!! (mereka menggebrak meja)

Sangat wajar terjadi perdebatan di dalam suatu musyawarah. Apalagi, di sana ada sentimen politis masyarakatnya. Mereka menyerang bapaknya Jon, karena anaknya – kakaknya Jon, adalah petinggi partai keislaman yang dibenci ormas tradisional. Mereka ingin dengan sekuat tenaga mengebiri jalan gerak sang kakak. Mereka tidak tahu, sedikitpun tidak ada niatan politis dalam perencanaan itu. Semuanya untuk memajukan agama Islam. Jon sendiri tidak mengikuti jalan kakaknya. Ia sudah memiliki partai sendiri. Partai HORE namanya, partainya orang-orang sableng.

Terlebih lagi, mereka anak muda yang tidak paham dengan peluh yang dilakukan bapaknya Jon pada masyarakat mereka. Mungkin karena mereka tersesat sebab tak mau bertanya pada para orang tua, apa yang bapaknya Jon telah lakukan untuk mereka, dahulu. Mereka tak mau tahu sumbangsih sebesar apa yang bapaknya Jon lakukan saat mereka baru beres sunat di masa lalu. Selain itu, mereka tak paham bahwa, Harga diri seseorang tidak akan mati hanya karena diinjak-injak. Suatu saat ia – sang terinjak-injak – akan bangkit dengan kekuatannya setelah dijatuhkan : dan ia akan mengerikan. Dengan kekuatannya, ia bisa menjatuhkan lawan, bahkan hanya dengan satu injakan.

Dan seperti akhir dari para manusia cacat mental, mereka akan tersingkirkan oleh jaman. Mereka akan termakan kecacatannya sendiri, melihat orang yang dinjak-injak menjadi ‘orang suci’ : pilihan. Bisa jadi kecacatan mental itu menular pada keluarga Jon, mungkin saja. Tapi dalam peradaban keluarganya, musyawarah demokratis selalu diutamakan. Pananaman akhlak dan moral dilakukan sejak kanak-kanak. Demi terwujudnya keluarga besar, peradaban yang jauh dari kecacatan mental. Semoga saja.

No comments:

Post a Comment