Seorang Gelandangan di Pagi 17 Agustus - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, August 17, 2012

Seorang Gelandangan di Pagi 17 Agustus

selepas sholat subuh, Jon berjalan-jalan di sekitar kota kelahirannya. hari tanggal kemerdekaan bangsa yang dengan mati-matian si Jon membanggakannya. tapi apakah 17 Agustus sekedar tanggal reguler belaka? dimeriahkan dengan ritual upacara, pidato sang pemimpin negara, lalu selanjutnya dilupakan begitu saja? ngomong-ngomong, untuk apa Jon jalan-jalan di sekitar kotanya, kok ya tumben-tumben?

seorang gelandangan tertidur pulas di emper kompleks pertokoan. gelandangan itu, tentu saja, bukan Jon Quixote. dilihatnya wajah gelandangan itu yang nampak nyaman. ia bisa tidur lelap hanya beralaskan koran di depan emper pertokoan, di pagi hari kemerdekaan. bagaimana mungkin, di jaman yang orang-orang modern baru bisa tidur setelah menenggak pil tidur, ia mampu dengan bahagianya tidur layaknya anjing jalanan? dan lagi, ini hari kemerdekaan, mengapa ia tidak hidup dengan layak? barangkali itulah makna kemerdekaan baginya, bisa tidur di mana saja, tak punya apa-apa namun tetap bahagia : dalam kapasitasnya. hidup memang kontradiktif. berlawanan, dan seringkali tak masuk akal. orang-orang yang tak berakal, seringkali melupakan persoalan kekontradiktifian kehidupan dengan cara memasukannya ke celana dalam : mereka berpesta pora. manusia hidup harus qona'ah (merasa cukup), namun di sisi lain, manusia harus bekerja keras dan tak jarang 'menimbun' harta secara berlebihan, hingga pada akhirnya merendahkan orang-orang yang dimiskinkan keadaan. manusia harus sabar, tenang dalam berjuang. tenang, dalam berjuang? apakah para pahlawan dengan tenang-tenang saja saat berperang menggenggam bambu runcing melawan kompeni? seorang pemuda harus berikhtiar, baik itu menjemput rizki berupa harta, ataupun rizki berupa istri. para pemuka agama berceloteh, bahwa Tuhan tidak mengubah keadaan suatu kaum melainkan kaum tersebut mengubahnya sendiri. Innalloha layughoyyiruma biqoumin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim... tapi ternyata, usaha keras yang dilakukannya, tidak menemui hasil. orang-orang dengan enaknya mengatakan, "Dia bukan rizkimu," seakan perjuangan keras yang dilakukan dahulu tak ada nilainya. Nol. lagipula, jika yang mengubah kehidupan diri manusia sendiri, lalu untuk apa manusia menyembah Tuhan? Manusia berusaha mengubah dirinya sendiri, bukan Tuhan yang mengubahnya.

oleh Muhammad sang rasul, manusia diperintahkan untuk 'berjalan-jalan' di muka bumi ini, untuk melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang tak pernah belajar dari masa lalunya. Qul siiru fil ardli fandzuru kaifa kaana 'aqibatul mujrimin... berjalanlah kamu di muka bumi ini, dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa. apakah manusia gelandangan tersebut adalah manusia berdosa? manusia mana yang tidak pernah berdosa? lebih besar mana dosa si gelandangan dengan para koruptor yang mengempit dunia di selangkangannya?

di pojok jalan, Jon merenungkan sejenak tentang kehidupan : masa lalu yang telah dilewatinya. manusia bagai seorang gelandangan. mencari dan terus mencari sesuatu yang terkadang membuatnya tersesat. tentang ketersesatan, barangkali Jon tidak jarang mengalaminya. saat ia masih kuliah dulu, ia begitu tersesat dalam khayalannya. bayangan khayal tentang wanita yang membuatnya tak paham akan kehidupan.

"Mengapa Tuhan mengenalkanku dengannya?"

"Mengapa Tuhan tidak menggerakan hatinya, agar setidaknya mengenggapnya (Jon) sebagai manusia?"

"Jika ia orang baik, mengapa tidak mengingatkan kesalahan-kesalahanku?"

dalam hati Jon berkata, Alat tafaqiiri wattakhodzul ibro ma'ahu... semua itu adalah kehendak Tuhan, agar engkau berpikir dan mengambil pelajaran darinya. begitu mahal pengorbanan Jon, hanya untuk mengambil pelajaran darinya. barangkali, sebatas mengenalnya saja, itu suatu anugerah terbesar untuk manusia hina seperti Jon. sebagaimana pagi itu dan hari-hari sebelumnya, Jon berpikir dan sewajarnya mengambil pelajaran dari setiap apa yang dilewati selama perjalanannya. bahkan bukan hanya perjalanan dalam artian fisik, manusia harus merenungkan (mantafakuri) kehidupan manusia-manusia yang terbingkai rapi dalam sejarah : agar mengambil pelajaran.

seorang gelandangan di hari kemerdekaan yang ke-67. enam puluh tujuh tahun merdeka, namun tidak cukup tua dan bijak untuk mengangkat derajat hidup manusia sesama bangsanya. mengapa manusia harus memperhatikan akhir kehidupan manusia-manusia lainnya? memperhatikan, bukan sekedar melihat, atau bahkan melirik. manusia memiliki akal dan hati, namun lebih banyak yang belum menggunakannya secara benar. bahkan bukan hanya akal dan hati, indera, mata dan telinga, manusia gunakan hanya untuk yang mereka inginkan saja. kebanyakan manusia menutup mata dan telinganya, dari kesengsaraan manusia-manusia di dekatnya. kebanyakan manusia, shummun, bukmun, umyun, dari permasalahan kemanusiaan di dekatnya. kebanyakan manusia berpikir, "Untuk apa aku memikirkannya, sedang memikirkan diri sendiri saja sudah pusing?" mereka lupa dengan masa kecilnya, saat mereka sangat peduli, bahkan pada batu kali yang menurut orang lain biasa-biasa saja.

Ketuhanan yang maha Esa, hanya digunakan sebagai simbol belaka. bahwa manusia Indonesia, tidak semenjijikan penyembah berhala yang mengorbankan anak-anak tercinta.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, hanya berlaku pada golongan dan derajat tertentu saja. parsial, golongan elite, dan para pemegang kunci bumi. sedangkan keadlian dan keberadaban untuk masyarakat miskin, tak pernah dianggapnya ada.

Persatuan Indonesia, hanya berlaku pada sesama komplotan sana. satu partai, satu bendera, dan satu kaos. pada mereka yang ricuh karena kebodohan struktural di atasnya, tidak ada persatuan dalam diri mereka. nafsi nafsi.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaa dalam permusyawaratan perwakilan, sebatas penampilan yang diagungkan secara berlebihan. karena para anggota dewan, rebutan bagian uang, dan berlomba dalam mengumpulkan kas cadangan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. bahkan, di hari kemerdekaan, seseorang berkebangsaan Indonesia, masih tidur di emper pertokoan. tanpa kasur dan bantal, sebatas berselimut koran. apakah hanya seorang gelandangan? keadilan sosial? ah, sulit dipercaya.

barangkali Jon termasuk manusia pesimis. ia putus asa di negeri kaya nan besar yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

No comments:

Post a Comment