The dream must goes on - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, May 19, 2013

The dream must goes on


Saya masih ingat, ketika di tahun 2009 awal, seorang kakak tingkat angkatan 2005 (Muhammad Taufan namanya, facebook @Taufan Onizuka), meminta saya mengajaknya jika mengadakan ‘perjalanan malam’, membagi makanan dan minuman pada mereka yang hidup di jalanan. Ia mantan anggota Genk Brigez, Bandung. Sebenarnya tidak aneh buat dia yang besar di kota Bandung, dengan keramaian malam hari. Tapi tentang jalan-jalan malam ‘plus-plus’ (menyapa para gelandangan dan PSK), barangkali belum pernah ia alami.
“Sesekali, ajak saya jalan-jalan malam. Jangan sendirian gitu dong, saya juga kan pengin mengenal dunia mereka,” kalau tidak salah begitu kata-katanya.
(Foto kg topan)

Saya sendiri mahasiswa jurusan pendidikan sejarah angkatan 2007. Di tahun 2009, kami membuat forum jalanan, dengan tiga orientasi : Intelektualitas, Kepekaan Sosial, dan Karya Nyata. Inteltualitas kita lakukan dengan mengadakan diskusi liberal (filsafat, teologi, games, humor, resep makanan) dua kali dalam satu minggu. Karya nyata, kita membuat buku, sebagai kesadaran kami sebelum meninggalkan kampus : harus ada sesuatu yang bermakna yang kami tinggalkan. Kami juga membuat film pendek bertema nasionalisme. Kepekaan social, yaitu dengan melakukan jalan-jalan malam yang diadakan satu kali dalam 2 atau 3 bulan. Perjalanan malam hari, dimulai sekitar jam 11 malam dan berakhir sekitar pukul 2 pagi. Jam 11 malam berangkat jalan kaki dari kampus ke gedung sate, sekitar 15 kilometer (?), membagi pakaian bekas, makanan dan minuman. Kami paham, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan kegiatan kami itu. Banyak orang yang mengatakan, agenda itu termasuk mendukung kemiskinan, karena memberi makan pada orang yang kelaparan (menurut mereka, biarkan mereka berjuang sendiri). Kami juga paham, agendaseperti itu hanya solusi jangka pendek, sangat pendek. Tapi kami calon sarjana pendidikan, dan kami punya tekad untuk menghilangkan kemiskinan dan kebodohan dengan pendidikan, bukan perang.
Gambar 1. Kami sedang menunggu teman yang lain di depan masjid kampus. Start dari masjid kampus, jam 11 malam.
Gambar 2. Foto bersama sebelum berangkat di depan masjid kampus
  
Gambar 3. Sedang berjalan di atas jembatan fly over
 
 Gambar 4. Istirahat di pinggir jalan menuju Gedung Sate
 
Gambar 5. Berpose di Dago, dekat Gedung Sate
 
Gambar 6. Pemberian makanan dan minuman (aksi) di jalan-jalan malam.
 
Gambar 7. Duduk bersama di depan gedung sate memperbincangkan mimpi-mimpi kita

Kami memiliki mimpi-mimpi besar, salah satunya, menjadi ‘kepanjangan tangan’ dari FAO PBB untuk mengatasi masalah pangan dunia. Berbagi makanan, bukan hanya di negeri kita, tapi juga dunia.

Siapakah arsitek dari kegiatan hebat itu?
Inilah mereka ….
 



Kegiatan mereka setelah lulus :
  1. Afa : Menjadi kepala sekolah masyarakat kurang mampu dan anak yatim, ia penulis buku
  2. Yanti : Pengajar dan aktif di komunitas tunarungu Magelang
  3. Messa : Guru sekolah inklusif
  4. Nyaz : Guru Sejarah, mengajar belasan kelas dalam seminggu.
  1. Sovie : Pengajar anak-anak kecil berkemampuan hebat
  2. Azus : Pelatih Hiking, dan panjat tebing. Aktif dalam kegiatan social-kemasyarakatan
Apakah forum itu bubar setelah para arsiteknya menjadi sarjana? Eum… sedikitpun, tidak. Mimpi itu akan terus berlanjut, sampai kami tak mampu meneruskannya lagi : mati.
***
“Apa yang harus kita berikan pada manusia, kak?” Tanya seorang adik kelas.
“Yang terpenting pertama, adalah makan. Kedua, pendidikan,” jawabku.

No comments:

Post a Comment