Dua - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, August 9, 2013

Dua

Pagi saat pergi ke kandang sapi, ada nuansa yang sangat berbeda ketika ‘melihat’ alam. Ada perasaan ‘terbuka’, ‘tersenyum’, saat merasakan alam di pagi hari lalu. Apakah ini tanda berpisah? Bukan Ramadan, tapi aku. Jika tiap hari hanya menuliskan kisah saya dengan sapi-sapi itu, akan menjadi catatan konyol beberapa tulisan ini : catatan harian seorang kuli sapi. Ah, sadis sekali.

            Dari pagi hari, perut terasa kram, sakit sekali. Tapi tetap bekerja hingga jam 10. Ramadan ini, sakit gigi tidak kambuh. Mungkin karena Maret lalu sudah ‘mengamuk’ hingga mengharuskan tubuh ini diopname selama 5 hari. Tapi, ternyata tubuhku ini tidak cukup jika hanya diserang satu dua penyakit. Puasa tahun ini, 4 penyakit mengeroyok hampir bersamaan : Flu, Leher tak bisa menengok, kram perut, dan paru-paru basah yang kambuh. Bahkan, saat ke Bandung beberapa hari lalu, beberapa kali batuk darah di toilet. Tapi aku senang, bisa jadi ini sebuah jalan. Terkadang aku membayangkan kesamaan antara aku dan Leo Tolstoy. Tanggal dan bulan lahir sama, dia juga mati karena radang paru-paru, penyakit yang aku idap dari remaja. Tapi tetap saja, ah, penyakit itu datang bukan untuk menundukanku, tapi untuk sejenak merenung lebih dalam.

Aku baru ingat dengan salah satu filosofi hidupku, tentang filosofi : kau sedang dimana dan sedang apa? Berkali-kali aku lupa, sedang di tempat A, tapi memikirkan tempat B. sedang melakukan kegiatan A, tapi pikiran mimikirkan kegiatan B. Itu melelahkan.

Sudah lama aku tak melakukan sholat duha, sekalipun ini adalah bulan Ramadan. Mengapa orang-orang begitu naïf, memaksimalkan ibadah hanya di Ramadan saja?

Siang hari mengantar susu ke Mejasem. Perut masih kram, tapi tak ku beri tahu seorangpun. Mungkin ini salah satu jalan, jalan untuk kembali ke asal. Ramadan ini, pemahaman teosofiku membabi buta. Gila. Tiap bangun tidur, mendengar anak-anak kecil mengaji di musholla, seakan ada ‘sesuatu’ yang ingin masuk ke hati. ‘Sesuatu’ yang sebenarnya ku rindukan, yang telah pergi begitu lama : tapi entah apa. Dan aku selalu menolaknya, dengan imajinasi, menolaknya dengan cucuran air mata. “Pergi! Pergi! Jangan masuki hatiku lagi!” Ah, wanita sekali hati saya ini.

Bahwa konsep Manunggaling kawula gusti adalah konsep konyol. Menyatunya Tuhan dengan hamba? Menyatu? Kapan manusia berpisah dengan Tuhannya? Sampai kapanpun manusia tak akan pernah berpisah, putus, terlepas dari Dzat Tuhan. Bahwa yang pertama Ada, adalah Tuhan, Diri Manusia atau alam semesta yang terbesar, yang sebenarnya. Lalu dari itu muncul Ruh / Kesadaran (Nur Muhammad, la illaha illallah muhammadarosululloh), bahwa Ia adalah Yang Satu-Satunya Ada. Kesadaran ini memiliki dua tugas, menyadari bahwa Ia Tuhan, dan tugas dirinya sendiri bahwa Ia adalah kesadaran. Kini terjawab, logika seperti apa yang bisa aku berikan untuk menjawab : Bagaimana Yang Nyata (Kekal, Tak Berubah, Esa), berubah menjadi Tidak Nyata, Ilusi, berubah-ubah? Bagaimana logika, dari Tuhan, menjadi manusia dan alam? Itu jawaban singkat – sesat – dariku.

Selepas tarawih terakhir – berat sekali tarawih kali ini rasanya, aku tertidur. Banyak imajinasi-imajinasi masa depan yang hinggap. Tentang pertemuan dengan rasululloh secara langsung, bukan dalam mimpi. Tentang siapa jodohku – seorang ustadzah dari keluarga yang sangat kaya (?), tentang keikhlasan menjadi seorang aku. Ah, entahlah.

Jam 11 malam, di telepon teman. Ia meminta bantuan ditemani membaca hizb keadilan. Temanku ini sering diteror keluarganya. Katanya sih permainan klenik. Tapi entahlah. Aku datang, lalu mendengarkan. Bagiku, keadilan bukan di tangan Tuhan. Tapi mutlak berada di tangan manusia, untuk selalu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ketika ada gelas yang berada di pinggir meja, akankah kita meminta Tuhan dengan berdoa, agar Ia menggeser gelas itu ke tengah? Siapa yang seharusnya melakukan itu? Manusia memang bodoh, tapi terlalu banyak gaya, dan bicara. Terlalu banyak bicara hanya akan membesarkan ego kesombonganmu. Terlalu banyak bicara hanya akan memberimu wajah, bahwa engkau itu bodoh. Seperti aku ini yang banyak bicara, selalu bodoh, ceroboh, bahkan sebatas untuk menjadi manusia rendah.

No comments:

Post a Comment