Menjadi benar, bukan merasa benar! - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, August 11, 2013

Menjadi benar, bukan merasa benar!

Sabtu, 10 Agustus 2013

            Berangkat menggembala jam 7 pagi. Tadi subuhnya telat, tapi seperti biasa, tak merasa dosa. Nampaknya hati ini memang telah mati dan mengurai. Segala ritual agama yang membuatku kecanduan (Sholat, mengaji, dzikir di masjid, dll) aku nomorduakan. Terserah kalian menilaiku bagaimana, aku seperti kesadaranku, bukan seperti penilaianmu. Ritual agama individualis hanya membuatku selalu merasa suci, merasa lebih dekat dengan Tuhan daripada manusia lain, kesombongan mencengkeram dagu orang-orang salih individual. Aku lebih suka, jika ingin dikatakan, sebagai si salih sosial.
            Menggembala sampai jam 10. Seperti yang sudah dijanjikan, aku datang ke rumah seorang teman yang sedang mengalami guncangan – masalah kekeluargaan. Istrinya orang desa, tapi berlagak kota. Tak tahu sopan santun, tak tahu bumbu dapur, tak tahu agama, tak tahu adab pada yang tua, atau bahkan mertua. Semua keluarganya membenci istri, yang sebelum pernikahan memang mereka sudah tidak setuju padanya.
“Sekarang kamu pilih, tetap mempertahankan dia, tapi jangan bekerja bersama saya lagi. Atau lepaskan dia, kamu tetap boleh pegang Warteg milik saya!” teman saya itu jadi bos Warteg di Bandung.
Kakaknya yang memberi pilihan itu akhirnya menyarankan untuk ke salah seorang pamannya, meminta saran. Aku temani ia bicara. Jika aku cermati, pamannya ini lebih bijak, menyarankan memberi kesempatan pada istrinya untuk memperbaiki diri.
“Mumpung ini momentum syawal,” katanya.
“Tapi kakak saya sudah nggakk tahan, Om,”
“Lah, kamunya masih suka nggak?”
“Yaa… kalau suka sih, masih setengah-setengah. Cuma kalau lihat wataknya, saya nggak tega sama ibu, Om. Beliau beberapa kali nangis, gara-gara melihat tingkah istriku itu,”
            Awalnya teman ku itu takut dosa, jika menceraikan istrinya. Tapi saya katakana, perceraian itu memang dibenci Allah, tapi dibolehkan. Persoalannya, perceraian itu tidak semudah ucapan, ada aturan mainnya. Jika si istri sudah mengandung, misalnya, itu tak boleh diceraikan. Lagipula, pernikahan itu memang berat. Bukan cuma ajang komunikasi intim selama satu atau dua tahun saja, tapi seumur hidup. Aku sendiri belum menikah, tapi sering sekali dilibatkan dalam hal ini. Entah mereka menganggap pengetahuanku sedalam apa tentang hal-hal yang belum saya alami.
            Pulang jam 2 siang. Karena rumput di kandang habis, aku langsung merumput. Kakak ke-6 memintaku makan soto buatan ibu dulu, karena sudah dibuatkan. Aku sudah makan di rumah teman, tapi tetap ku makan soto itu meski sedikit. Ibu dan kakak memandangiku aneh, barangkali mereka prihatin saya tak ada istirahatnya. Tapi, untukku, ini suatu kesenangan. Mengorbankan diri bukan untuk kesalihan individu, itu tetap lebih ku sukai.
            Ashar berjamaah tercapai. Meski sebelumnya agak ragu, merumput itu tak cukup satu-dua jam. Selepas ashar, ke kabupaten ambil ampas tahu untuk minum sapi-sapi. Lemas sekali, motor sempat jatuh. Mantap. Maghrib isya sudah di rumah, selepas isya, tubuh meronta, minta diistirahatkan di tempat. Ok, memang sudah waktunya.
            Tadi sore seorang siswaku bertanya, “Pak Guru, sekolah berangkatnya kapan sih?” sepertinya ia sudah tak sabar. Aku jadi teringat dengan pertanyaan seorang guru baru, “Jika kepala sekolah dan siswa tak menjaga jarak, apa nantinya itu akan baik-baik saja?” maksudnya, menjaga sopan santun anak-anak terhadap gurunya.
“Justru, di sekolah-sekolah modern Jepang, guru atau kepala sekolah itu mendekatkan diri pada siswa. Pendidikan anak SD itu pendidikan jarak dekat (short distance edocation), jadi lebih mengena memberikan contoh daripada teori,” jawabku.

            Ketakutanku menjadi pendidik itu, di sana : kewajiban mempersiapkan generasi terbaik. Bagaimana caranya sebuah generasi unggul muncul, dari gemblengan guru-guru yang fokus dalam jalan pendidikan. Karena, suatu saat mereka akan diposisikan sendiri. Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menolongnya, selain dirinya sendiri. Kita tak bisa selalu makan dengan tangan ibu kita. Tak mungkin kita bisa mencium harum bunga dengan hidung orang lain. Mereka, generasi kecil itu, suatu saat akan diposisikan, melihat realitas yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan guru-gurunya di dalam kelas. Tentang persaingan, saling mengejek, menjatuhkan, membuat golongan, fanatisme buta, atau kecacatan mental yang memang telah ada pada generasi mereka sebelumnya. Dan tugas guru, bukan meniadakan itu, tapi membukakan mata mereka, menjelaskan mana yang bersinar dan mana yang termasuk kegelapan. Menjadi benar, itu lebih sulit daripada merasa benar.

No comments:

Post a Comment