Otak kita, satu-satunya teman kita - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, August 31, 2013

Otak kita, satu-satunya teman kita

Jumat, 30 Agustus 2013

            Tahun 2010, saat aku masih kuliah kerja nyata, sering aku bermimpi menjadi orang gila yang tertawa dengan air muka sedih di pinggir jalan. Pernah membayangkan, atau mungkin mempraktekan, tertawa dengan raut muka sedih? Tragis sekali.
            Hampir sepuluh hari aku tak menulis cerita hidup picisan ini. Rasanya malas sekali, ketika semua kerja keras nampaknya berujung pada satu tujuan mutlak : kesia-siaan. Tiga persoalan yang entah besar atau kecil, beruntun datang. Seorang guru keras kepala yang gimana gue tanpa sadar diri, kakak ipar keguguran calon bayinya, dan pemeras yang mengatasnamakan LSM. Sepertinya, memang susah hidup menjadi bukan orang kaya di negeri ini. Ketika ada tekad untuk memperbaiki ekonomi, maka akan banyak pihak-pihak yang menginginkan uang kita, dengan ancaman mencari-cari kesalahan secara hukum. Ada benarnya para orang cerdas hidup di kota, paling tidak, medan perangnya jelas, sesama orang cerdas, bermain logis, empiris. Tidak seperti di desa, orang-orang jahatnya anarkis, najis, bermain seperti anak kecil yang jika kalah sedikit langsung menangis, lapor pada atasan yang lebih bengis.
            Aku tidak akan pernah melupakan sikap mereka, orang-orang yang seakan tak pernah rela kami membangun peradaban untuk mereka yang miskin. Orang-orang berseragam dinas, orang-orang yang duduk di dalam gedung legeslatif, atau para cecunguk bawahan yang menjilati air kencing para bos beruang. Sampai aku mati, ingatan ini akan selalu tersimpan rapi, menjadi api yang tak akan pernah padam, bergejolak mendesak membalas dendam.
            Banyak orang berkata, hidup ini bergantian. Saat ini kau di atas, besok, kau masih di atas, tapi aku lebih atas daripada engkau. Saat itu terjadi, giliranku untuk menginjakmu, itu jika kita mengikuti rayuan bangsat para syetan. Hidup ini menggelikan. Mereka, orang-orang mapan, kaya, berseragam penuh wibawa, dengan wewenangnya begitu gampang merendahkan, menyalahkan yang benar. Tapi ketika kita berada di atas mereka, dengan dalih agama, Tuhan, kitab suci atau apalah, kita tak diperbolehkan melakukan itu. Sedangkan hidup adalah pertarungan. Dulu kau menebas nyawaku, esok giliranku menebas nyawamu. Begitu, bukan? Seakan dunia ini hanya ada perang, saling menjatuhkan, saling mematikan – pikiran, kesempatan, perasaan, iman – menghancurkan kehidupan satu sama lain. Apa sebenarnya tujuan Tuhan menggelar sandiwara ini?
           Kakak ke-4 berkata padaku saat aku menceritakan beberapa persoalan yang sedang dihadapi keluarga saat ini.
            “Kamu harus kuatkan pikiran dan hati. Tapi fisik juga harus dijaga, ya?”
            Mengingat beberapa hari ini, atau mungkin memasuki tahun ajaran baru sekolah ini, aku tak pernah tidur kecuali tengah malam dan bangun pagi-pagi. Beberapa kali ia meminta bantuan untuk menjemput suaminya di stasiun alun-alun kota di tengah malam.
            “Nanti jam satu pagi tolong jemput suamiku, ya? Nanti kamu tak telepon,”
            “Nggak usah, sms aja. Jam segitu aku belum tidur,”
            “Lah, memangnya ngapain jam segitu belum tidur?”
            “Banyak hal yang perlu aku cari solusi dan kerjakan sampai selesai,”
            Tadi, selepas isya pergi ke pasar alun-alun beli seragam pramuka siswa yang belum kebagian. Seorang guru pernah menyela, saat aku bilang itu seragam beli di pasar alun-alun.
            “Beli murah begitu, nanti kualitasnya jelek?”
            “Yang penting ada dulu. Toh ini gratis, pakai uang pribadi saya,” kataku. Siswa tidak kami bebankan untuk hal-hal semacam itu. Tidak ada paksaan dalam hal pembayaran apapun di sekolah itu. Kami datang murni untuk memudahkan kehidupan masyarakat sana.
            Ketika guru bermasalah itu aku ceritakan, para guru agak khawatir dengan pembelaan beberapa pegawai dinas padanya.
            “Tapi, apa nantinya tidak membahayakan sekolah ini, pak, kalau kita nggak ada pembelaan sama sekali?”
            “Wallahu a’lam.” Aku tersenyum. “Ini persoalan kecil, bagi saya, pembelaan dari para guru sudah lebih dari cukup. Kita akan terus berjalan tanpa memikirkan guru yang hanya memberatkan langkah kita itu. Ke depan, kita harus semakin siap dengan apa yang terjadi. Karena, konsekuensi setelah kita dilahirkan adalah, selalu siap menghadapi apapun,”

            Terkadang memang seakan kejam, jika melihat kenyataan hidup secara ontologism. Bukan kita yang memilih hidup ini, tapi kehidupan-lah yang memilih kita untuk hidup. Aku merasakan itu. Hidup, bagiku bukan pilihan, tapi keharusan. Seorang nenek tua penjual tape peuyeum di pasar alun-alun, malam-malam, ia bisa saja memilih tinggal di rumah daripada berjualan malam-malam, dingin, dan belum tentu laku atau untung besar. Berapa sih untung dari penjualan tape peuyeum di tempat yang tak begitu ramai? Tapi itu keharusan. Tapi keharusan ini tak boleh disertai keinginan, karena saat kenyataan berlainan dengan keinginan atau harapan, kita akan pulang, bukan hanya membawa untung kecil, tapi kekecewaan yang memberatkan langkah pulang. Seperti kata Budha, bahwa hidup ini penderitaan : selama ada keinginan. Karena, Tuhan tak bisa kita paksa untuk memenuhi apa yang kita inginkan. Kita harus bekerja. Harus, bukan memilih. Saat masalah atau musibah datang, terimalah kenyataan jika kita memang sendirian. Karena Tuhan, tertawa di atas langit bersama para setan. Satu-satunya teman kita, adalah otak kita. Jagalah ia agar tetap sehat. Tetap waras.

No comments:

Post a Comment