Terlahir Prematur dan Anak Haram - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, August 29, 2013

Terlahir Prematur dan Anak Haram


Serial Jon Quixote de la Indonesia

                Si Jon senyum-senyum sendiri sepulangnya dari kantor pengawasan pendidikan setempat. Aku yang baru saja pulang ngantor, iseng, menyapanya di depan rumah.
                “Kumat lu, Jon? hehe,”
                “Asem, baru pulang dari ketemu pengawas sekolah nih,”
Mendengar itu, aku mematikan mesin motor, lalu turun dan bertanya-tanya padanya.
                “Ada masalah toh?”
                “Memangnya kalau ketemu sama pengawas harus ada masalah?”
                “Ya enggak sih. Berarti, nggak ada masalah ya?”
                “Enggak juga,”
                “Lah? Maxute pimen (maksudnya bagaimana)?”
                “Masalah guru yang bermasalah itu,”
                “Oo.. Tadi bahas itu? Kenapa memangnya?”
                “Iya. Ya… Intinya, beberapa pegawai disana membela dia, dan seakan berkas-berkas yang saya bawa itu adalah rekayasa untuk menyudutkan guru tersebut. Saya teranggap sebagai si kejam, zalim, otoriter,”
                “Hahaha!”
                “Lah? Kok ketawa?” tanya Jon.
                “Baru kali ini aku lihat kau begitu tertekan, hehe,”
                “Kampret! Aku juga manusia,”
                “Terus terus, solusinya bagaimana?”
                “Ya… Pengawas sekolah itu menyarankan agar guru tersebut diterima kembali, bahkan jangan dipermasalahkan masalah anaknya yang tidak di sekolahkan di sekolah kami. Pengawas tersebut juga membandingkan jumlah siswa sekolah kami dengan jumlah siswa SD negeri yang lebih sedikit,”
                “Waah… Nggak bener itu. Kalau SD negeri, siswa sedikit atau banyak, gaji guru dari pemerintah. Lah, sekolahmu itu kan swasta, honor dan operasional dari BOS yang banyaknya menyesuaikan banyaknya siswa,”
                “Ya, makanya, beliau nggak paham duduk permasalahannya. Jadi apapun pembelaan saya, hanya meyakinkan beliau, bahwa saya merekayasa untuk mengeluarkan dia,”
                “Memangnya, jika kita melihat kesalahannya ya, Jon, apa cuma gara-gara anaknya nggak di sekolahkan di tempat mengajarnya sendiri?”
                “Enggak lah…. Satu-satunya guru yang berani memarahi kepala sekolah, memerintah, menegur, bahkan meremehkan kinerja kepala sekolah. Tapi, yang lebih dari itu semua adalah, dia melakukan itu tanpa merasa bersalah, tanpa sadar,”
                “Walaaah… Ya mendem (teler) itu guru. Melakukan tindakan kurang ajar seperti itu tanpa sadar,”
                “Ya.. Makanya, orang mabuk, mau dibagaimanakan juga nggak bakalan sadar,”
                “Masalah besar ya, Jon?”
                “Nggak juga,”
                “Lah? Terus?”
                “Dari awal, sekolah itu memang lahir prematur dan anak haram,”
                “Maxutnyah?”
                “Prematur, karena lahir sebelum waktunya,”,
                “Sebelum waktunya gimana toh?” aku memotong.
                “Ya.. karena yang mendirikan kakak saya, yang basicnya bukan pendidikan, plus, nggak fokus di pendidikan. Para ustadz setempat ingin mendirikan MI (Madrasa Ibtidaiyah/ setingkat SD), lalu karena ada indikasi penyelewengan kekuasaan, diambil alih-lah sekolah itu oleh  kakak saya. Ustadz-ustadz itu memang jelek di masyarakatnya sendiri,”
                “Lalu, kenapa kau bisa mengatakan anak haram buat sekolahmu sendiri?”
                “Karena nggak diharapkan oleh sebagian besar masyarakatnya. Dari awal kelahiran, sekolah it uterus menerus babak belur, diserang dari sana-sini,”
                “Siapa yang membelamu, Jon?”
                “Seperti kasus sepele guru ini, kami dari awal tidak ada yang membela, selain …”
                “Selain siapa?”
                “Allah,”

No comments:

Post a Comment