Dasar Sekolah (yang ku pimpin) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, September 5, 2013

Dasar Sekolah (yang ku pimpin)

Konsep sekolah muncul sekitar tahun 3 sebelum masehi (SM). Konsep ini muncul, dengan pertimbangan bahwa semakin bertambahnya penduduk tidak setimbang dengan jumlah orang-orang yang berilmu – Guru – sebagai pendidik masyarakat. Ada tiga kategori manusia yang di jaman itu dapat dikatakan sebagai guru. Pertama adalah para nabi, kedua, ahli kitab, ketiga adalah para filsuf (ahli filsafat). Cara belajar yang mereka gunakan adalah dengan metode sorogan atau yang kini disebut liqo. Seorang guru duduk di antara lingkaran orang-orang, menjelaskan persoalan-persoalan yang dihadapi para siswa : masyarakat.

Para nabi dan ahli kitab – sebagian ahli kitab yang beriman, mengajarkan ilmu secara cuma-cuma, tanpa imbalan, dan di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana mencukupi kehidupan ekonominya? Mereka bekerja seperti masyarakat umum – bertani, berkebun, berdagang, di sebagian waktu. Dan sebagian waktu lagi mereka menggunakannya untuk mendidik masyarakat. Seorang guru yang baik tidak akan memisahkan diri dari kehidupan masyarakat umum (mengasingkan diri). Memikirkan persoalan masyarakat, langsung dari orang-orang yang mengalaminya. Para nabi dan sebagaian ahli kitab tetap bekerja mencari nafkah, meski tidak untuk menjadi kaya. Fokus mereka bukan pada dunia, tapi pada masa depan yang lebih mulia. Generasi muda penerus kehidupan yang lebih baik dan bijaksana. Mereka tidak berdiam diri di masjid, majlis taklim, biara, puncak bukit, menunggu umat yang dipenuhi permasalahan. Para nabi dan sebagian ahli kitab tidak ada yang mengemis atas dasar pengajaran hikmah, atau menunggu sumbangan-sumbangan dari umatnya. Nabi Muhammad tetap bekerja, mengunjungi pasar-pasar – berdakwah, menyatu dengan masyarakat. Dan begitu banyak ayat yang mengatakan in’ajriya illa ‘alallah… Imbalanku hanya dari Allah. Tidak seperti sebagian para guru atau bahkan ulama (pemegang ilmu) yang membisniskan ilmu dan pengetahuannya di jaman sekarang. Sangat berat tentunya, melakukan pekerjaan duniawi sembari memikirkan persoalan dan solusi masalah-masalah kemasyarakatan. Karena itu, hanya orang-orang tertentu yang mampu melaksanakan tugas itu : pendidikan universal.

Nabi Syu’aib berkeliling ke pasar-pasar, pada para pemilik pertanian dan perkebunan, agar mereka tidak mengurangi timbangan. Waliyullah Lukman Al Hakim, berjalan-jalan ke tengah masyarakat, dengan cerita yang sangat khas, ketika beliau mengajak anaknya menaiki keledai pengangkut hasil berkebun miliknya. Sebelum berkebun, ia adalah budak habsyi dan seorang tukang. Nabi Sholeh seorang ahli memahat, beternak, seperti masyarakat umum, bahkan mukjizat yang beliau peroleh adalah seekor unta betina. Nabi Zakaria juga bekerja sebagai tukang kayu, saat masih muda. Para nabi bekerja, tapi tetap mensucikan hatinya. Meski mereka mencari penghidupan, wahyu tetap mereka dapatkan – atas kesucian hatinya tersebut.

Kategori ketiga adalah para filsuf, atau ahli filsafat. Tidak semua filsuf itu sesat, sebagian justru mereka mendapatkan kebijaksanaan tanpa wahyu. Thales, seorang filsuf Yunani abad ke-6 SM, ia menjadi pengrajin pakaian dari kulit domba. Pendidikan tetap ia berikan pada masyarakat awam, secara cuma-cuma, gratis. Empedokles, filsuf Yunani abad ke-4 SM, ia bahkan menjadi seorang tukang membajak sawah. Diogenesis, filsuf Yunani abad ke-2 SM, para pejabat pemerintahan membutuhkan nasehatnya, tapi ia memilih hidup di luar istana, menjadi petani ubi. Filsuf Yunani yang terakhir disebutkan ini, seringkali mendapat ejekan teman-teman filsuf istana, “Engkau seorang berilmu, tapi kok miskin dan memilih makan ubi?” sebagian filsuf ‘menjual diri’ pada istana sebagai kaum sophist : pengajar anak raja dengan imbalan besar (ini konsep pertama home-schooling). Bahkan Socrates, maha guru dari Aristoteles, menjadikan rajanya berang. Selain ia menolak bekerja di istana, ia mengajarkan anak-anak muda masyarakat tentang Tuhan yang Esa. Hingga akhirnya ia dipaksa rajanya memilih meminum racun atau berhenti berdakwah : mendidik masyarakat tentang keesaan Tuhan. Di jamannya, masyakat yakin pada banyak dewa.

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat disimpulkan, bahwa para guru di jaman sekarang, dengan kualitas yang sangat jauh dari para nabi, ahli kitab, atau bahkan filsuf, sewajarnya ada yang menjamin kesejahteraannya. Sangat sedikit guru-guru di jaman sekarang yang dekat dengan buku, kitab suci, atau merenungkan peristiwa alam. Kebanyakan guru lebih suka mengajar sesuai buku paket, atau kehendak dirinya sendiri. Anak diidentikan tidak tahu apa-apa, dan boleh diajarkan apapun yang bukan kebutuhan siswa untuk masa depannya..


Suatu peradaban yang madani – ideal, adalah ketika orang-orang yang hidup berkecukupan membantu para pendidik yang fokus menciptakan masa depan : anak-anak sebagai pewaris masa depan yang lebih baik. Akan terjadi peradaban yang kacau, jika setiap kategori manusia hidup sendiri-sendiri. Para penguasa mementingkan diri, para pemegang harta menumpuk materi, dan para pendidik idealis kebingungan sebatas untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Sebaliknya, para guru yang diberikan kemewahan, berupa honor yang besar, tunjangan berlebihan, tanpa ada pengawasan yang ketat, akan sebatas menjadi pengajar, bukan pendidik. Apa perbedaan pengajar dan pendidik? Ada dalam filosofi kita, Guru, digugu lan ditiru. Seorang pendidik bukan hanya bisa mengajar di dalam kelas, pelajaran selesai lalu kewajiban tuntas. Tapi menjaga ucapan, tindakan, berakhlak mulia, berilmu dengan wawasan yang luas, bijak, dan tidak melabeli diri sebagai orang mulia – guru. Ia bisa mendidik dimana dan kapan saja. Pada orang-orang baik, ataupun pada mereka yang membenci kebaikan : orang-orang tersesat. Mendidik anak-anak, pemuda, masyarakat dewasa, atau bahkan para manula.

No comments:

Post a Comment