Life for no(thing) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, September 28, 2013

Life for no(thing)

Jumat, 27 September 2013

            Lima hari, aku baru menulis lagi. Hari ini, rasanya aku menemukan something new yang aku paham, tapi belum bisa mengungkapkannya. Tentang ketenangan ketika berada di tengah-tengah tekanan. Seperti prajurit perang yang masih mampu bergurau, ketika bertempur dengan musuh.
            Sore ini, aku tertidur selepas maghrib. Lemas sekali. Lalu aku terbangun setengah sepuluh, hampir lupa menjemput ipar di stasiun. Hari ini, hari yang cukup melelahkan. Tapi, hidup ini sebaiknya kita nikmati. Seperti hembusan angin besar di malam ini. sama sekali aku tak merasa dingin, dengan kecepatan motor di atas rata-rata. Nikmati saja.
            Malam-malam seperti ini di jalanan, memberi satu makna untuk hidupku. Tentang perjalanan masa muda yang tak kuhabiskan di tempat-tempat yang nyaman, namun agak mengerikan. Jangan tanya, why should me? Tapi, aku telah terbiasa merancang masa depan, persoalan kehidupan, plan B, sebagai pengangan agar aku dapat selalu tenang ketika dikeroyok permasalahan. Sendirian.
            Pagi lalu, kakak yang diserahi peternakan sapi mengadakan kemah selama tiga hari di Gunung Slamet. Aku sendiri, yang menyukai perjalanan belum pernah mendakinya. Dengan kata lain, peternakan selama tiga hari, aku yang urus. Pagi ke sekolah, telah menanti tugas yang harus dikerjakan, yang semestinya bukan tugas miliku : seorang guru yang ditugasi sakit. Telepon dari beberapa kepala sekolah nyaris secara berbarengan, sejenak membuatku kembali membuka prioritas langkah hari ini. jam 8 ke sekolah itu, jam 9 ke sekolah anu, jam 10 membuat proposal ulang (yang telah dihilangkan pihak pegawai kecamatan), jam 10.30 menjemput keponakan. Tentang proposal yang hilang, sama sekali aku tak menyalahkan. Siapa saja bisa melakukan kecerobohan. Tidak muda, tidak tua, kita manusia. Tapi, hanya manusia berjiwa besar-lah yang mampu meminta maaf pada orang yang lebih muda, lebih rendah, seperti seorang kepala sekolah muda berkepala mowhak.
            Tidak ada ketertekanan sedikitpun saat mengatasi hal-hal itu. Bahkan, satu kata bijak pun aku gagal mendapatkannya hari ini. tidak seperti biasanya, ketika dalam ketertekanan, kata-kata bijak penghibur diri mengalir deras dalam pikiran.
            Sore harinya, aku ke peternakan. Kasian sekali sapi-sapi itu. Di awal tahun, dulu dua sapi hingga sepuluh liter susu per hari. Sekarang? Hanya satu liter. Mereka sakit. Karena yang diamanahi tak fokus, mengira everything’s ok with money. Akhirnya karyawan sapi yang bekerja maksimal melarikan diri, sapi-sapi itu tak pernah makan enak lagi selain jerami kering. Kasian.
            Konon, para nabi dan rasul juga saat muda menggembala domba/kambing. Darisana mereka melatih kesabaran, perenungan. Aku ambil contoh, sapi itu. Ketika diberikan makanan air dengan campuran ampas tahu, tapi tak begitu kental, mereka akan menumpahkan wadah minumnya. Sebagai manusia, aku berpikir, “Ini makhluk kok tolol betul, kalau kamu nggak minum kamu bakal kurus! Sakit! Kok malah ditumpah?!” tapi, mereka binatang ternak. Ya, mereka bahkan lebih sesat (tolol) dari binatang ternak, aku lupa lagi surat apa dan ayat berapa qur’an yang tertulis seperti itu. Siapa mereka? Manusia-manusia yang tak pernah mengingat (merenungkan) Tuhannya. Pembuat kerusakan, moral, alam, perang. Ah, sudahlah, igauan ini sebentar lagi juga menguap. Lagipula, untuk kenikmatan apa sih hidup ini? mengapa pula harus memikirkan kesejahteraan banyak orang? Cukup menjadi pegawai, menikah dengan gadis cantik, lalu hidup flat dan mati sebagai orang biasa. Apa enaknya menjadi orang besar, toh mati-mati juga? Rasanya lebih membahagiakan jika hidup ini benar-benar untuk kesia-siaan. Seperti prajurit perang, yang meninggalkan istrinya demi perjuangan. Lalu ia mati, tak mendapat apa-apa. Konsekuensi menjadi seorang ksatria. Pejuang. Hidup untuk kesia-siaan.

No comments:

Post a Comment