Untuk apa aku hidup? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, September 5, 2013

Untuk apa aku hidup?

Serial Jon Quixote de la Indonesia

                Pertanyaan itu lebih terasa puitisnya, aku rasa, ketika diucapkan seorang tokoh dalam film One littre of tears. Kisah nyata seorang gadis yang mengalami kelumpuhan pelan-pelan, hingga akhirnya, mati. Aku sendiri, dulu waktu masih SMA sering mendengar si Jon mengeluhkan itu.
                “Untuk apa sebenarnya manusia dihidupkan? Selalu lebih banyak manusia perusak daripada manusia baik. Untuk apa kita dihidupkan, jika suatu saat kita juga dimatikan. Seakan semua ini pura-pura, lalu berakhir kematian,”
                Tapi itu dulu. Sekarang, jika ada teman Jon yang mengeluhkan itu, ia nampaknya sudah menemukan salah satu jawaban yang, mungkin, rasional.
                “Untuk apa sebenarnya aku hidup? Aku tak pernah meminta dihidupkan. Aku tak pernah memaksa Tuhan untuk menghidupkanku, meski nyatanya hidupku ini begitu nyaman,” kata seorang teman malam itu. Kami mengobrol di pos ronda malam Jumat itu. Kabarnya, malam Jumat itu waktunya para maling beraksi. Tapi, untung ada si Jon, pawang para maling dan setan (hehe). Insya Allah aman.
                “Mengapa tak kau katakan itu saat masih berbentuk sperma, dulu?” kata Jon.
                “He? Berbentuk sperma gimana toh? Mana tahu saat itu saya punya kesadaran hidup?” kata teman Jon.
                “Apa kau pernah bertanya, kenapa setiap sperma, kita saat masih menjadi sperma yang akhirnya menang – menyatu dengan ovum, berjuang demi mencapai ovum? Kenapa mereka – sperma, berjuang? Apakah mereka ingin berjuang? Apakah sebelumnya, mereka – sel-sel yang menjadi sperma – meminta untuk menjadi sperma yang akhirnya berkompetisi dengan jutaan sperma lainnya?”
                “Ti…dak?” jawab teman Jon ragu. Rokoknya masih menggantung di mulutnya - ia termangu.
                “Sebentar, sebentar, Jon. Jika setiap sperma berjuang, apa yang membuat mereka melakukan itu – perjuangan sampai ke ovum? Emm.. aku merasa ada pertanyaan yang menggelitik, tapi… apa ya?” terseret juga aku dalam kepenasaran diskusi saat itu.
                “Kesadaran,”
                “Heh??? Kesadaran? Tiap sperma memiliki kesadaran? Kesadaran akan apa?” kini justru aku yang sangat tertarik dengan tema pembicaraan kali itu.
                “Ketidaktahuan manusia, membuatnya ceroboh menyimpulkan sesuatu,” ucap Jon sembari mengangkat kopinya, meminumnya. “Kesadaran bahwa Tuhan harus selalu ada, dengan terus mengadakan segala sesuatu, termasuk kita,”
                “Tambah ndak ngerti aku,”
                “Tiap atom di alam semesta ini memiliki kesadaran, bahwa Aku (Tuhan) harus selalu ada. Harus ada yang – seakan, mengatur semua ini,”
                “Maksudmu, seperti kata Einsten, bahwa Tuhan tidak sedang ‘bermain dadu’,” sanggahku.
                “Betul. Tiap sperma itu hidup, seperti kita, berjuang. Karena sebelum menjadi sperma, kita juga berjuang untuk menjadi sperma, melalui pembelahan dari spermatogenesis, proses dari saripati tanah menjadi ‘bahan dasar’ sperma,”
                “Sebentar, sebentar, maksudmu, bahwa manusia tercipta dari tanah adalah itu, kita berawal dari saripati tanah?”
                “Ini sih, hanya tafsirku saja. Yang dimaksud dengan manusia tercipta dari tanah atau lumpur hitam yang diberi bentuk, adalah saripati tanah yang ‘diberi bentuk’ menjadi berbagai macam tumbuhan,”
“Lalu, dari tumbuhan itu terproses hingga spermatogenesis, kemudian menjadi sperma?”
                “Aku bilang, itu sekedar tafsir asal-asalan-ku saja. Pernyataan aku tak pernah meminta untuk dihidupkan adalah pernyataan terburu-buru, karena ketidaktahuan kita.”
                “Ketidaktahuan, bahwa dari awalnya kita telah memiliki kesadaran, kita harus ada sebagai bukti an sich, tersendiri, bahwa Tuhan juga harus selalu ada?”
                “Kemungkinannya begitu,”
                “Lho, kok mungkin? Lalu bagaimana dengan sanggahan, jika alam semesta ini tidak ada, maka Tuhan juga tidak ada?”
                “Mungkin, karena tidak ada manusia lagi yang mampu mencapai ‘kesadaran awal’ selain Nabi Muhammad. Kita tak akan pernah bisa memastikan itu,” jawab Jon. “Tuhan akan selalu ada, dengan atau tanpa bukti. Tapi siapa yang akan ‘mengatakan’ Tuhan itu ada, jika tidak ada pembukti, kita, alam semesta yang selalu mengingatnya – dzikir, Sabahalillahi maafisamawati wal ardli (Berdzikir semua apa yang ada di langit dan bumi pada-Nya)?”
                “Wah, wah, wah, maksud ‘kesadaran awal’ itu adalah Nur Muhammadi kalau menurut Ibn Arabi ya?” tanyaku lagi. Teman Jon hanya melongo. Suruh siapa dia mengucapkan kata-kata ceroboh?
                “Bisa jadi,”
                “Kok bisa jadi?”
                “Ya ‘kan memangnya aku ini siapa? Ulama bukan, ahli teosofi juga bukan. Berbicara tentang ‘kesadaran awal’ ini bisa saja menyesatkan,”
                “Jadi, kau belum pernah merenungkannya, ya?”
                “Hehe, ndak juga,”
                “Lah, terus kenapa ndak mau diskusi?”
                “Emm.. begini, tapi kau jangan kasih penjelasan ke siapa-siapa ya? ‘Kesadaran awal’ yang aku maksudkan memang Nur Muhammadi, kesadaran yang pertama menyadari bahwa Akulah Tuhan yang satu (Allah = Al Illah). Aku menganggap, kesadaran itulah ilusi pertama, karena yang benar-benar Ada dan tak terjelaskan adalah Ia yang sebelum menyadari bahwa diriNya adalah Tuhan. Ini mengapa Tuhan dikatakan tak terjelaskan, ‘kondisi sebelum Ia sadar’.” Jon mulai bisik-bisik ngomongnya. “Big bang, adalah materi pertama yang muncul dari kesadaran, yang kata Ibn Arabi atau Al Farabi, aku lupa lagi, sebagai kesadaran(akal) ke-10. Jangan tanya lama prosesnya seperti apa,”
                “Teruskan, Jon. Teruskan,” aku mulai gila – penasaran.
                “Tiap pecahan-pecahan atom big bang, membawa kesadaran itu, bahwa Tuhan harus selalu ada, melalui perubahan demi perubahan atom-atom yang semakin sempurna,”
                “Sempurna, agar menandakan bahwa Tuhan adalah maha sempurna?”
                “Ya,” Jon mengangguk pelan. “Mulai itu, tiap atom melakukan perjuangan, dengan kesadaran yang dibawanya – bahwa Tuhan harus selalu ada dari hasil tersempurna atom-atom. Dan untuk kasus bumi, adalah atom yang, sampai saat ini, telah menjadi bentuk yang paling sempurna,”
                “Sebentar, sebentar, Jon. Pelan-pelan, otakku ini rada lemot. Jika seperti itu, isi bumi adalah atom-atom yang terus berjuang mencapai bentuk yang paling sempurna, dengan kesadaran bawaan dari ‘kesadaran awal’ itu?”
                “Bahkan bukan hanya atom di dalam bumi ini. Semua, setiap atom dalam semesta ini, mulai dari big bang, teori yang sampai saat ini paling rasional, melakukan perjuangan dengan kesadaran utuh,”
                “Jika seperti itu, seakan Tuhan membutuhkan kita, sebagai pembuktian bahwa Ia ada,”
                “Kesimpulan seperti itu, Tuhan tidak membutuhkan makhluk atau sebaliknya, adalah kesimpulan yang terburu-buru. Betul, ada ayat al qur’an yang mengatakan seperti itu kurang lebih, tapi aku rasa itu metafora. Jika kita tarik dari asal kesadaran kita, Tuhan (kesadaran awal) mengubah diri-Nya menjadi alam semesta, termasuk kita,”
                “He? Jika seperti itu, maka kita ini Tuhan, begitu Jon?”
                Tiba-tiba teman Jon berdiri. Ia pergi, nampaknya mengambek. “Asem, ngobrol nggo dewek thok,” (Asem, diskusi kok buat diri sendiri saja). Aku dan Jon tertawa melihatnya.
                “Sekali lagi, ketidaktahuan manusia, menjadikannya terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Kita ini Tuhan atau bukan, hukum mutlak kehidupan adalah terus berjuang, mengadakan diri – Tuhan,”

Bersambung….

No comments:

Post a Comment