Guru Banci - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, October 3, 2013

Guru Banci

Kamis, 3 Oktober 2013

            Ok, kita mulai saja. Aku awali dengan kisah seorang guru dari negeri sakura sana, yang memberi PR terakhir pada siswanya sebelum ia meninggal. Guru tersebut menuliskan PR tersebut di papan tulis, dengan sebuah kapur ia mulai menuliskan tugas terakhir kepada murid-muridnya. Berikut tugas yang diberikan sang guru:
PR Terakhir
Tidak ada batas waktu pengumpulan.
Jadilah orang yang bahagia.
Saat kalian mulai mengerjakan tugas ini, mungkin aku sudah ada di surga.
Tidak usah buru-buru mengerjakannya. Kalian bebas menggunakan waktu yang dimiliki.
Tapi suatu hari, tolong kumpulkan padaku dan katakan, "Aku sudah melakukannya. Aku sudah bahagia."
Aku akan menunggu.
            Ya, berapa kali aku sampaikan pada guru-guru sekolah itu, bahwa menjadi guru itu bukan hanya harus bisa mengajar. Tapi ia harus memiliki kesabaran, kepedulian, dan, CINTA. Meskipun, tidak ada satupun lembaga pendidikan yang mengadakan jadwal, PELAJARAN CINTA. Entahlah, aku tidak setuju bahwa cinta harus dipelajari. Tapi jika melihat kenyataan, begitu banyak manusia yang akal dan hatinya sama-sama bodohnya : tak berilmu, tak ada cinta. Tapi, cerita tentang kesabaran, kepedulian dan cinta, akan diceritakan terakhir. Aku akan menceritakan kisah-ku selama tiga hari ini (Selasa-Kamis).
            Tanggal 1 Oktober 2013. Bukan berarti aku tak peduli dengan, katanya, Hari Kesaktian Pancasila. Terlepas dari keputusasaan para generasi bangsa yang mengatakan bahwa Garuda telah letoy, sila ke-5, meski perih, masih aku lakukan.
            Ditanggal itu, aku ada rapat kepala sekolah di kementerian agama kota. Lalu, ketika MC berbicara – tanpa makna, imajinasiku melayang, membayangkan hari-hari ini yang penuh PR administratif. Tugas-tugas adiministratif yang harus ku kerjakan sendiri – karena guru yang lain belum paham, di samping persoalan sekolah lainnya. Aku pun menulis :
Kemampuan (kecerdasan) administrative, betul penting. Tapi kemampuan mendamaikan hati orang lain, itu jauh lebih penting jika kita ingin mengubah suatu keadaan. Hanya orang tolol, hanya orang tolol, yang ingin meyakinkan orang lain dengan mengatakan : Aku ini orang jujur! Aku ini orang amanah!
Kemampuan mendamaikan hati ini, jika dimiliki seorang pemuda, ia telah melewati perjalanan hidup yang, barangkali tidak begitu jauh, tapi pasti melelahkan. Kemampuan mendamaikan hati ini, pada awalnya orang-orang akan membenci pembaruan yang dibawanya, marah padanya, dendam, skeptis, tapi pada akhirnya ketika telah terbukti, mereka akan mengatakan dengan bahasa tubuhnya : Aku percaya kamu orang jujur! Aku percaya kamu orang amanah! Mengapa menggunakan bahasa tubuh? Ia takut, jika kata-kata itu terucap, akan merendahkan dirinya. Kita tidak dibenarkan menolak bergaul dengan manusia-manusia yang pertumbuhan jiwanya lambat.
            Kemampuan mendamaikan hati ini, ya ampun, konflik dengan kakak ke-4 saat pemberhentian guru bandel, ‘debat’ dengan pengawas sekolah, konflik dengan masyarakat, dengan pegawai dinas, bahkan kemarin ada satu cerita buruk tentang siswaku. Cerita buruk yang mengharuskanku melakukan kemampuan itu lagi. Sungguh, jika Allah tidak menggerakan kata-kata dan hatiku, mendamaikan hati mereka yang sedang panas tak mungkin bisa ku lakukan.
Tanggal 2 Oktober, kemarin, hari batik. Loreng-loreng. Nyaris seperti hampir tercorengnya sekolahku itu karena masalah ini. Seorang siswa kelas satu, perempuan, jatuh dari ketinggian dua meter. Pipinya luka, hingga berdiameter (kira-kira) 2 cm. Tapi siswaku ini hebat. Secara emosional ia luar biasa. Menangispun hanya sebentar. Tapi, persoalan tidak selesai bahkan sampai sepulang sekolah. Aku yang hendak menghadiri tiga agenda sekaligus, di tengah jalan bertemu dengan orang tuanya yang ingin meminta pertanggungjawaban pada siswa yang mendorong jatuh anaknya tersebut. Matanya merah, marah, suami istri itu nampaknya membawa emosi yang meledak-ledak dari rumahnya. Aku yang melihat itu, memanggilnya, meminta mereka duduk di ranggon (pos kamling dari bambu) di pinggir jalan. Aku pahamkan, aku ajak ke puskesmas, “Saya yang bayar semuanya,” kataku. Saat itu kepalaku sudah sangat pening. Bukan hanya tiga agenda yang tak terlaksana, tapi juga sebenarnya aku sedang tak punya uang. Tiga agenda bersama kepala sekolah lain gagal. entahlah. Dipikiranku hanya satu : Jangan sampai orangtua siswa ini ribut di dekat sekolah, karena sekolah saya sudah tercoreng namanya (meski baru 4 tahun berdiri). Tapi syukur Alhamdulillah, jika bukan dengan kekuatan-Nya, aku tak mungkin bisa mendamaikan mereka.
Siapa aku? Hanya anak muda kurang berpengalaman hidup!
Ah, apa pentingnya.
Esok harinya, aku katakan, siswaku itu hebat sekali. Meski dengan menangis, ia tetap berangkat sekolah. Ibunya mengatakan, “Tadi malam dia nggak bisa tidur, pak,” ah, ya ampun, apa yang harus aku lakukan dalam persoalan seperti ini? Aku bukan Nabi Isa, barangkali aku bisa self healing, tapi itu juga prosesnya sangat rumit, dan aku tidak yakin pada anak kecil itu, bisa. Lukanya tidak hilang, hanya rasa sakitnya saja yang berkurang drastis. Aku bisa tetap bekerja meski sakit gigi, atau bronchitis-ku kambuh.
Akhirnya, aku minta untuk istirahat saja di rumah. Besok memang ada UTS, tapi tak apalah. Aku khawatir sakit si anak ini semakin parah.
Tanggal 3 Oktober, hari ini. ada siswa yang selama tiga bulan ini tak mau lepas dari ibunya. Bahkan, ibunya menemaninya duduk di kelas, menuliskan, membacakan apa saja yang ditugaskan guru. Pada awalnya aku membiarkan, barangkali itu proses. Tapi ketika aku minta ibu tersebut ke ruang-ku, aku paham : beliau bercerita banyak mengapa anaknya sangat sensitive.
“Dulu, di sekolah sana (sekolah tetangga), anak saya ini disuruh maju oleh gurunya. Ternyata nggak bisa, dan dimarahi. Dari sana, anak saya langsung down – takut/minder akut. Saya lihat beberapa siswa sekolah ini juga pindahan dari sekolah sana. Si anu, si itu, si dia, bahkan si anu ditampar sama gurunya waktu sekolah disana. Makanya dia pindah kesini. Anak saya minta sekolah disini, sekolah di Pakde Afa (dia cucu dari paman saya). Saya turuti kemauannya. Awalnya dia mau, mengikuti pembelajaran, tapi setelah ada guru ‘anu’ (guru yang sudah saya berhentikan) dia jadi takut, karena terlihat sekali orangnya judes.”
Lalu?
Aku punya banyak permainan, sebagian aku bawa ke sekolah, sebagian lagi yang susah aku simpan di kamar rumah. Sebenarnya dari dulu aku sudah merencanakan ini, siapapun siswa yang tak bisa diajak kerja sama, bawa ke ruanganku, nanti aku sulap – pelan-pelan. Seperti keponakan saya itu, awalnya dia mengamuk – meski perempuan, tak mau masuk ruangan, tangannya memukul-mukul dinding depan ruangan. Tapi ketika aku pancing dengan serutan boneka, ia mulai masuk. Aku beri dia mainan gambar buah-buahan. Mainan yang antara gambar dan kata terpisah. “Coba hitung, ada berapa ya buahnya?” kataku.
Ibunya melongo, karena ternyata dia mau. Ibu-anak ini sering berantem. Jika si anak menangis, ibunya yang dipukuli. Jika menangisnya tak kunjung diam, ibunya yang menamparinya, bahkan di depan teman-teman sekolahnya. Di ruangan saya, anak dan ibu ini aku pahamkan tentang pendidikan yang sebenarnya.
Pelan-pelan dia menghitung.
Lalu aku minta untuk menyebutkan jenis buah-buahannya. “Coba perlihatkan ke Pakde, buah apel,” dia pun maju, menyerahkan gambar apel ke saya. Terus, lanjut, hingga buah ke-16. Lalu aku katakan pada ibunya, “Nanti, setelah UTS, kalau ada masalah langsung sms saya ya,” saya berikan nomor semua guru pada beliau. Dari wajahnya, matanya, terlihat beliau akan menangis, tapi aku alihkan pembicaraan pada pekerjaannya. Jangan menangis di hadapan saya – saya tak kuat, saya punya berbagai cara agar orang yang hampir menitikan air matanya tak jadi menangis atau bahkan sebaliknya, tertawa.
Dengan bantuan Tuhan, berikan aku anak-anak, lalu percayakan, maka aku akan menyulap anak-anak itu menjadi wujud terbaik yang tak pernah dibayangkan bahkan oleh orangtua mereka sendiri. Tapi, ternyata aku disibukan oleh administrative. Dan guru-guru itu, ah, sungguh lebih mudah menyulap otak anak-anak, daripada orang dewasa.
Nah, demikianlah cerita kecil tentang kepedulian, kesabaran, dan cinta yang aku lakukan disini. Nuansanya seperti banci ya, saya ini? hehe. Begitulah orang-orang yang menilai saya ketika begitu menyatu dengan anak-anak. Tapi, barangkali anda mau berdiskusi tentang dunia pertarungan yang tak mungkin bisa dimasuki oleh para banci, mari, aku temani. Pertarungan akal semacam Filsafat Al Jilli, atau Neoplatonisme? Atau pertarungan fisik yang hanya dilakukan oleh orang-orang primtif? Atau tentang mendamaikan hati orang-orang awam yang kebakaran emosi?
Ah, sebenarnya aku tak tahu. Dia, yang menguasai jiwaku, yang maha tahu.

No comments:

Post a Comment