Siapa temanmu, Jon? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, October 29, 2013

Siapa temanmu, Jon?

Antara Jon, dan teman sejatinya.

Tidak ada seorangpun yang bisa berjalan keluar dari ceritanya sendiri. _Rango_

Barangkali benar, kau mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam teologi, ketuhanan, sosial-kemasyarakatan, atau anak-anak muda yang bimbang dalam menghadapi jaman edan seperti ini. Tapi ketika ku tanya, "Ayo, mana, tunjukan temanmu. Siapa temanmu, Jon?" di tempat itu, sama sekali kau tak berteman. Kau sendirian.

Ini pilihannya, kembalilah berteman dengan Tuhan, seperti tahun 2011 lalu, ketika engkau benar-benar menjadi 'budak'-Nya, kepanjangan Tangan-Nya untuk membantu para hamba yang kesepian.

Tapi kau berkata, "Aku takut! Aku takut dianggap gila lagi, stress, anak muda depresi, ketika aku mengatakan apa yang Tuhan katakan melalui kehidupan. Duniaku saat ini telah normal, meski benar aku tertekan, tapi ini kehidupan yang normal. Siapa yang tahan hidup dalam kegilaan? Tiap manusia butuh teman!"

Atau, pilihan kedua, kembalilah ke dalam dirimu. Jadilah teman untuk dirimu sendiri. Kontrol dan kuasai dirimu dalam kondisi apapun. Ayolah, kita berdua bercermin kembali. Kita ini bukan artis yang sok cengeng menangis-nangis ketika persoalan hidup datang. Kita bukan ustadz yang selalu mencari dalih-dalih pembelaan ketika kecerobohan kita lakukan. Kau yang pernah mengatakan, "Aku adalah anak muda yang bisa dengan berani berkata lantang, bahwa kegagalan adalah mutlak atas kesalahan diriku sendiri. Dan dengan segera aku akan memperbaikinya,"

Aku paham, Jon, aku juga paham. Jaman ini tak menghendaki seseorang yang 'istimewa'. Sulaiman, sehebat apapun ia menguasi jin dan setan, mengendalikan angin dan pegasus, ia harus mati. Mengapa? Musa, sekuat apapun ia, secanggih apapun 'sulap' yang ia lakukan, toh ia juga mati. Bahkan rasululloh, beliau juga wafat, meski dimensi antara beliau dengan kita sebenarnya satu. Mengapa para 'jagoan' harus mati, Jon? Kau harus mampu menjawab ini!

Mengapa para penjaga masyarakat, para pendahulumu di kampung itu, yang bijak, yang mengayomi warga, harus mati, Jon? Mereka tetap hidup, teman, tapi dalam wujud-wujud yang berbeda. Barangkali, kau salah satu wujud dari mereka. Mereka yang lemah membutuhkan keberuntungan dan keajaiban. Mereka yang kuat, menciptakannya. Kau akan berada di sebelah mana, Jon?

Aku paham, tubuh kerempengmu itu sangat menandakan bahwa kau lemah. Tapi aku lihat sejarah hidupmu, kau berkali-kali - dan akan terus, menciptakan keajaiban-keajaiban, sekalipun mungkin itu kecil. Tapi, Jon, jika bukan kau sendiri yang memperhatikan dirimu sendiri, siapa lagi? Tubuhmu itu, contohnya. Jika bukan kau yang mengurusnya, siapa lagi? Itu belum masuk pada wilayah yang besar, Jon. Semisal peradaban kampung itu, kampung yang sedang kau perjuangkan. Siapa lagi jika bukan kau yang memperhatikan mereka? Orang-orang yang berkuasa, kebanyakan mereka hanya memikirkan untung pribadi saja. Kau tidak bisa berharap banyak pada manusia-manusia seperti mereka. Berharaplah pada dirimu sendiri, jadilah teman untuk dirimu sendiri, dengan bekerja keras.

Aku senang, ketika kau ternyata masih konsisten dengan kegilaan kebiasaan hidupmu. Saat kau berkata, "Apalagi yang aku inginkan? Tidak ada. Aku hanya butuh makan secukupnya, bensin untuk perjalanan, pulsa untuk komunikasi, lalu tempat tidur. Wahana datar bersih, apapun atau dimanapun, aku bisa tidur," seakan kau tak punya mimpi, orientasi, masa depan. Tapi kerja kerasmu membuatku edan, tak habis pikir ada anak muda yang mau-maunya 'diperkosa' terus menerus oleh kehidupan, tanpa imbalan setimpal.

Ketika kau berkata, "Saat aku meminta 'imbalan' pada Tuhan, Ia melemparkan ayat fabiayyi'ala irobbikuma tukadziban padaku. Aku harus bagaimana selain menerima? Qul huwallohu ahad! Kesaksian bahwa Tuhanku hanya satu, Allah, dan apapun yang Ia takdirkan, aku bahagia, insya Allah," aku jadi paham. Engkau adalah anak muda yang tumbuh dengan penuh bekas luka lebam kehidupan. Anak muda yang tak bisa apa-apa ketika kehidupan dengan wajah malangnya datang, tapi ternyata ia 'memperkosa'-mu dengan wajah dingin datar. Aku tak bisa mengatakan bahwa kau, kasian. Seperti yang dikata Al Ghazali, "Setelah manusia sekarat, mereka menangisi manusia yang masih hidup," karena hidup adalah kekonyolan yang hanya sedikit orang mampu bebas darinya.

Lalu, siapa temanmu, Jon?

Aku senang ketika kau 'gila' tak heran dalam kemewahan yang berada di sekitarmu. Aku tak tahu, apakah kau termasuk orang yang 'bebas' itu. Orang bebas, yang hanya berteman dengan dirinya sendiri, melayani setiap manusia yang membutuhkannya, dengan kesadaran bahwa fama mata'ul hayyatidunya fil akhiroti illa qoliilla. 

Entahlah, aku juga tak mengerti, kapan manusia menentukan finish-nya sebelum ia mati. Teruslah hidup, sampai muncul jagoan yang akan menghentikanmu. Atau, terlahir dari darahmu.

No comments:

Post a Comment