Suku Cadang Tambahan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, October 26, 2013

Suku Cadang Tambahan

Sebenarnya, tema ini baru akan aku tulis malam minggu besok. Juga, aku 'kan telah 'pensiun' menulis di facebook, mengapa menulis lagi? Welah, kenapa 'pensiun' tho ?

Sejak SMP, aku suka memperbaiki mesin-mesin kecil. Jam, radio, mp3, walkman, bahkan handphone. Bahkan, selama kuliah, nyaris tak pernah punya henpon baru, bukan karena tak sanggup beli, tapi lebih 'gue banget' kalau pakai henpon hasil dari servis sendiri. Dari servis mesin-mesin kecil itulah, aku bisa sedikit membiayai adik angkatku saat SMA : selain jualan koran dan rokok. Di salah satu 'episode' kuliahku, barangkali beberapa teman pernah menerima sms dengan logat cadel. Karena, tombol nomer tujuh tak berfungsi dengan benar (p-q-r-s). 

Mesin-mesin yang rusak, yang aku beri 'sedikit' perhatian, memberikan pelajaran penting bagiku. Bahwa, separah apapun kerusakannya, jika kita memberikan perhatian 'khusus', masih sangat mungkin bisa berfungsi kembali. Sebelumnya, mengapa tema ini akan aku tulis besok malam adalah, karena baru besok nanti, akan aku sampaikan pada para guru sekolah itu, bahwa separah apapun siswa-siswa dalam bersikap, kita masih bisa memperbaikinya. Kita masih sangat bisa 'mewarnai' mereka, men-'stempel' mereka, bahwa di masa depan ketika mereka melakukan hal-hal berharga, kita bisa berkata dengan bangga, "That's my student! That's my student!" Jika mesin saja yang tak punya akal dan hati bisa, mengapa manusia tak bisa? Tugas besar utama seorang guru bukanlah mengajar manusia dari ketidaktahuan menjadi tahu, minal dzulumati illa nuur, dari kegelapan menuju cahaya. Tapi menanamkan benih-benih watak mulia, yang pada akhirnya mereka mampu 'menyiram' benih itu hingga kokoh dan berbuah. Agar mereka mampu, menghidupkan watak mulia itu, di jaman yang benar-benar membuat malu orang-orang berwatak bijak. Jaman kehidupan yang diukur lewat materi, bukan makna atau tujuan kehidupan. 

Segala sesuatu harus memiliki tujuan, atau, alasan. Kemana angin berhembus, mengapa daun yang menguning jatuh, manusia terlahir bayi lalu mengeriput tua - kemana ia akan berakhir?, juga, tentang mesin. Jam yang tak berfungsi dengan benar, tak melakukan tujuannya dengan baik, akan terdengar 'pilu'. Bagi mereka yang memahami mesin, itu adalah suara kesedihan ketika mesin tersebut tidak melakukan tugasnya dengan baik. Seperti manusia, ketika mereka kehilangan alasan untuk hidup, tujuan hidup, bukan hanya dari suara kita mendengar kesedihannya : hampir segala hal. Air muka, kata-kata, senyum yang kecewa, langkah kaki, sorot mata, menandakan bahwa ia atau mereka membutuhkan 'perhatian khusus' dari seseorang yang mampu memperbaikinya. Aku sendiri tidak jarang, ditakdirkan berteman dengan mereka : anak-anak muda yang kehilangan alasan hidup. Aku bersyukur, sekalipun pernah berada dalam episode itu, tanpa seseorang yang benar-benar 'menggeggam' tangan, aku mampu lepas dari fase itu. Jangan tanya, seberapa berat aku melaluinya.

Kegagalan, atau kehilangan, memang terasa memuakkan. Tapi selama kita masih hidup, mesin dunia masih berputar, satu keharusannya adalah terus berjuang. Seperti satu dialog dalam film 'Tintin' :

"Aku pikir kau orang yg selalu optimis," kata Kapten Haddock.
"Tidak. Aku seorang yg realistis," kata Tintin.
"Ya, itu sebutan untuk orang yg mudah menyerah,"
"Kau boleh sebut aku apapun. Kenyataannya, kita gagal!"
"Seseorang boleh mengatakanmu bodoh, pemabuk, pecundang. Tapi kau tak boleh katakan itu pada dirimu sendiri. Jika kau peduli pada sesuatu, maka kau harus memperjuangkannya... Kita boleh gagal, tapi tak boleh membiarkannya mengalahkan kita,"

Kehidupan tidak dengan tujuan salah memberikan satu dua kegagalan. Betul, kegagalan terasa begitu menyakitkan : sekolah, persaudaraan, cinta, pernikahan, big project. Tapi, seperti mesin, bahkan sekalipun ia tengah rusak, selama belum mati ia akan terus bergerak. 

Jika dunia ini adalah suatu mesin besar, kita tak mungkin memilih untuk menjadi 'suku cadang tambahan'. Hanya menjadi pemenuh jumlah penduduk planet saja. Hanya menjadi makhluk penghabis suplai kebutuhan hidup masyarakat bumi. Atau, hanya menjadi 'sampah'. Pemikiran, atau mimpi, itu sudah terwujud ketika kita mengidekannya. Namun belum menjadi nyata, selama itu belum terkeluarkan dari bola kepala kita. Ide, proses, nyatakan.

Dan... 

Mengapa berhenti menulis disini? Em, ya, barangkali harus ada yang diberi 'perhatian khusus' dalam pikiranku ini. Oleh seseorang. Yang 'khusus'. Barangkali sangat dekat. Disini.

No comments:

Post a Comment