Aku mencintaimu, nyamuk - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, November 5, 2013

Aku mencintaimu, nyamuk

Gila!
Gendeng!
Sableng!

Dengan disiplin ilmu psikologi apa kejiwaan Jon Quixote bisa terdeteksi? Sore tadi dia mengobrol dengan pohon salak di depan rumahnya, elha, ini malam dia mengungkapkan cintanya pada nyamuk dengan setulus-tulusnya.

"Salah minum obat kau ya?" tanya saya.
"Jangan cari obat, carilah penyembuh. Uang bisa membeli obat, tapi ndak bisa membeli kesembuhan atau kesehatan,"
Aseem tenan, ini orang nampak tak sehat, tapi kok malah ceramahin saya?
"Apa maksudmu bilang 'Aku mencintaimu, nyamuk' ?" tanya saya lagi.
"Shuutt, jangan keras-keras, meski bahasamu ndak dipahami nyamuk, mereka bisa terganggu," jawab Jon sambil mematung, khawatir nyamuk yang sedang menggigiti kakinya terbang.
"Bahasa apa toh, jangan ngaco deh,"
"Nyamuk itu, kalau mau gigit, dia nggrengeng di telinga kita. Bukan mau izin ke kita mau minum darah dengan operasi super canggih, tapi membaca sholawat, allahuma sholli ala muhammad, izin pada yang punya tubuh kita buat minta darah,"
"Halah, ngomongmu itu, bisa saja. Tahu dari mana nyamuk ngucap begitu?"
"Bahasa nyamuk,"
"Gendeng," celetuk saya.
"Tiap makhluk Allah memiliki bahasa masing-masing. Hanya saja, ada kalimat-kalimat tertentu yang memang tak boleh diterjemahkan," Jon berceloteh. "Bahkan, tiap nabi diutus dengan bahasa kaumnya, wa ma anzalar rasulu bil lisani qoumihi,"
"Hadeeh.. Saya kasian kalau lihat situ kumat begini," saya menepok jidat.
"Shuutt.. dengarkan," pinta Jon. "Kita ndak boleh menerjemahkan adzan atau bacaan sholat ke bahasa apapun, nanti jadi kacau,"
Masa' saya diminta dengerin dia yang lagi sakaw?
"Bukan cuma itu, coba kalau kamu pakai bahasa arab buat ngobrol sama orang jawa, atau sebaliknya, 'kan bisa kacau. Sekalipun kau ini ustadz di sekolahmu itu, belajar Islam itu tidak identik dengan arab. Mengapa rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak, innamal bu'itstu li ma makarimal akhlak, karena memang berakhlak itu bukan ciri khas orang arab,"
"Eh?" dipikir-pikir, benar juga ini omongan si Jon sakaw?
"Saya tahu, kau 'kan juga hafal sedikit bahasa arab, tapi lebih suka pakai bahasa orang yang sedang diajak bicara. Tapi, apa hubungannya dengan nyamuk?" tanya saya.
"Kalau nyamuk-nyamuk ini kita habisi, anak-anak mereka ndak akan lahir. Berarti, akan semakin sedikit nyamuk di muka bumi ini. Maka, akan semakin berkurang juga produksi obat nyamuk. Otomatis akan mengurangi para buruh obat nyamuk,"
"Kok malah sampai perihal buruh? Wes lah, sekarang kau ini mau minta obat apa, saya ndak tega lihatnya,"
"Hudaw warahmatan lil muhsinin, jangan cari obat, tapi cari penyembuh. Qur'an yang kau bawa itu (kami memang baru beres mengaji), jangan cuma dihafal, tapi juga direnungkan dan dipahami. Ndak akan paham qur'an itu, jika orang-orang yang menghafalnya ndak berbuat baik. Petunjuk dan cinta Allah, hanya untuk mereka yang berbuat baik, pada akal, hati, jasad, sesama manusia, juga makhluk Allah apapun itu,"
"Tobaaat... Tobaaat..." saya garuk-garuk kepala. "Wes lah, ta balik saya, assalamu'alaikum!"

Dasar Jon sableng!

No comments:

Post a Comment