Menikahlah, agar engkau tak selalu sendirian - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, April 26, 2014

Menikahlah, agar engkau tak selalu sendirian

Si Jon mengadakan musyawarah denga keluarganya. Ia bercerita....

Sebuah kisah ...

Seseorang hampir tenggelam di tengah-tengah lautan. Ia yakin, Tuhan maha baik, Ia akan datang menolongnya. Kemudian, sebuah kapal besar melewatinya, kapal itu hendak menolongnya, namun ia menolak, dan berkata, “Tidak, terima kasih. Tuhan akan datang menolongku,” berlalu-lah kapal besar itu. ia masih mencoba berenang sekuat tenaga, yang akhirnya bertemu kapal layar. Tapi, ketika kapal layar itu hendak memberikan tumpangan, ia kembali berkata, “Tidak, terima kasih. Tuhan pasti akan datang menolongku,” berlalu juga kapal layar itu. terakhir, ia bertemu dengan kapal nelayan. Kapal kecil yang hanya bisa ditumpangi dua orang. Ketika ia diminta naik, ia kembali berkata, “Terima kasih. Aku yakin Tuhan akan datang,” lalu apa yang terjadi? Ia akhirnya tenggelam. Ketika di surga, ia bertanya pada Tuhannya, “Tuhan, aku yakin pada-Mu, tapi mengapa Engkau tak datang meski aku sangat mengharapkan-Mu saat itu?”
Apa jawab Tuhan?

“Aku datang, bahkan berkali-kali. Tapi kau menolak untuk Ku bawa dalam kapal-Ku,”
***
Ia berkisah....

Malam lalu, musyawarah keluarga yang hampir satu tahun ini tertunda – karena sibuk pemilu, diadakan di ruang tamu. Enam anak berkumpul, satu anak lagi, kakak saya, tak bisa hadir dari Jakarta. Permasalahan musyawarah seperti biasa, kita saling Curhat satu orang bergilir, kemudian diakhiri diskusi. Tiga hal yang menjadi obrolan kami adalah politik, yaitu tentang pencalegan kakak kami, persiapan pernikahan kakak saya yang terakhir, dan saya dengan perjuangan absurd sekolah dhuafa.

Kakak ketiga bertanya, kamu punya mimpi dan program untuk sekolah itu ‘kan?

Kemudian saya ceritakan :

Program terdekat, yaitu pavingisasi sekolah, merapikan sekolah gubuk itu, juga pembuatan toilet. Jangan tanya uangnya darimana. Dari awal saya diberikan amanah itu, saya katakan pada para guru, jangan tanya uang pada saya – jelas saya tak punya. Seperti mimpi, visi, program, atau apapun, saya tak punya. Tapi ada. Saya tak punya uang, mimpi, visi, tapi semua itu ada. Maksudnya? Sudah lama sekali saya menyerahkan semuanya pada Tuhan. Kini yang tertinggal di diri saya tinggal kesiapan bekerja dan hidup. Tidak peduli seberat atau seabsurd apapun, saya akan tetap berjuang untuk jalan ini. orang-orang berkata, semenjak  saya duduk, masyarakat yang benci sudah tak bergejolak lagi. Tapi saya katakan, bukan karena saya, tapi karena Tuhan. Semua ini kemudahan Tuhan, bukan saya. Tentang darimana uang itu nanti datang, saya tidak tahu. Saya menyerahkan semua itu pada Tuhan. Teman-teman saya di awal bulan, mereka mendapat gaji. Sedang saya, harus memberi gaji. Siapa saya? Tapi semua ini, sekali lagi, kemudahan yang Tuhan berikan.
Selanjutnya, kakak terakhir saya yang sudah berumur cukup matang – 28 tahun, bercerita tentang kriteria calon suaminya.

Beliau bercerita :
Syaratnya dua saja : PNS, dan dia minimal pernah menjadi pemimpin (kelas, osis, pramuka, atau organisasi apapun, yang penting ketua). Tidak mengahalangi saya untuk aktif di masyarakat, organisasi, juga kepartaian.
(saya tersenyum satire)

Kakak ketiga menyarankan, “Ada nasehat untuk perempuan yang belum menikah : usia 17-25, ia boleh bertanya pada pria yang datang ‘siapa kamu?’ (status, kekayaan, jabatan, dll). Usia 25-30 ‘siapa saya’ dan  usia 30-35 ‘siapa saja’. Apa kamu nggak sadar berapa umur kamu?”

Lalu saya menambahkan :

Saya kira wajar, wanita pra-nikah memiliki keresahan tentang awal berkeluarga. Tapi, mbak, manusia insan kamil/sempurna/ideal itu tidak ada. Ideal dalam konteks manusia, adalah sepasang. Kelemahan suami ditutupi kekuatan istri, begitupun sebaliknya. Mbak, banyak teman saya yang bertanya, “Kamu kok ngalor-ngidul bantu teman menikah, tapi kakak kamu sendiri nggak bisa bantu,” karena saya memang tak tahu, sudah ada kesiapan belum dalam diri mbak sendiri. Kalau belum, mau kapan? Mau menunggu sampai usia berapa? Paling tidak, ada empat orang yang sedang saya bimbing tentang awal pernikahan. Kekayaan memang baik, tapi itu bukan yang utama. Rasul memang mengatakan kekayaan diurutan pertama dalam pertimbangan jodoh. Tapi itu bukan yang utama, iman dan semangat spiritualitas-lah yang utama. Nabi Muhammad memang nabi terakhir, tapi beliau-lah nabi paling utama - meski beliau tak mau dibeda-bedakan. Memang menyebalkan, saya belum menikah, tapi banyak orang yang ‘memaksa’ saya untuk bicara banyak tentang itu. betul, secara hukum fiqh, menikah itu nggak wajib, ‘hanya’ sunah muakkad. Tapi, hidup bersama itu jauh lebih baik, mbak, daripada sendiri. Coba kalau mbak misalnya mau pergi keluar malam, siapa yang menemani kalau bukan saya atau bapak? Saya nggak mungkin selalu ada, mbak. Bapak sudah cukup capek.

Persyaratan itu, bagus kalau mbak berkata itu saat umur awal 20-an. Tapi saat ini, itu dholim, mbak. Mengatakan/berbuat sesuatu bukan pada tempat dan waktunya. Kunci kebahagiaan berkeluarga itu seperti ini, musyawarah, dialog. Tentang pernikahan saya sendiri, saya belum memikirkannya. Karena memang jalan hidup saya agak berat. Saya khawatir, kalau saya dapat wanita ‘umum’, kalau dia nggak gila, dia akan mati muda – karena tak kuat dengan jalan hidup saya.

Kemudian saya cerita sebuah kisah di awal paragraf di atas.


Bagaimana jika kapal-kapal itu adalah kemungkinan jodoh kita? Hidup kita ini untuk siapa sih? Orangtua kita? Masyarakat? Bangsa? Dunia? Bukan – itu jauh. Paling dekat adalah untuk anak-anak kita, generasi penerus keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia. Nabi Sulaiman (Solomon) kurang kaya bagaimana? Ia wafat terduduk – kaku. Ia kaya, tapi tak punya anak, meski istrinya konon 40 orang. Untuk siapa kekayaannya/ilmunya, jika ia tak punya anak, manusia paling dekat dengan dirinya? Menikahlah, kak, agar engkau tak sendirian lagi. 

No comments:

Post a Comment