Perjalanan misi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, May 29, 2014

Perjalanan misi

Malam itu, Jon mengajak kakak perempuannya yang belum menikah ke pasar alun-alun untuk membeli seragam pramuka siswa kelas 4. Bukan tanpa maksud memang, karena sore harinya, ia diperlihatkan oleh kakak ke-3 tentang sms kakak ke-6, “Jika begitu, saya ingin menjadi seperti Bunda Theresa saja,”
Jon tak berprasangka apapun. Setelah ia melakukan ‘perjalanan ke barat’, ia mendapatkan pemahaman baru, yaitu hidup ‘tanpa pikiran’. Ia memang masih capek dengan perjalanan itu, tapi jika ini tak segera diselesaikan, bisa semakin pelik masa depan kakaknya itu.

“Liqo masih jalan?” tanya Jon, di perjalanan.

‘’Masih,’’ jawab kakaknya, singkat.

‘’Sudah hafal berapa juz?’’ tanya Jon lagi.

‘’Satu juz saja masih bolong-bolong,’’

“Surat panjang apa saja yang mbak sudah hafal?” Jon tidak ikut liqo – jamiyah pengajian partai yang diikuti kakak-kakaknya Jon, tapi ia adalah orang yang mudah membaur dengan siapapun.

“Paling An Naba, Abasa...”
“Dulu, aku hafal Al Waqi’ah, Yassin, dan Ar Rahman. Tapi sekarang Cuma Ar Rahmannya saja,”

“Iya, mesti diperbaiki lagi bacaan qur’an mbak,” kata kakak Jon.
Mereka membeli seragam pramuka satu stel, untuk anak pindahan di sekolahnya Jon.

“Siswa diminta bayar berapa untuk seragam ini?” tanya kakaknya Jon.

“Aku beli 55 ribu, tapi dijual 65 atau 70 ribu, buat yang mampu. Itu juga boleh menyicil, tanpa batas waktu. Kalau yang tidak mampu, gratis,” jawab Jon.

Mereka berjalan menuju depan pasar malam alun-alun.

“Mau kemana?” tanya kakaknya Jon.

“Kita makan bakso dulu,”

Mereka memesan dua mangkok. Jon memesan es teh, sedang kakaknya teh manis hangat.

“Kalau di dalam kamar, kegiatannya apa saja?” Jon membuka dialog. Seperti kebanyakan wanita modern atau ‘bertitel’ pada umumnya, ketika usia sudah mendekati kepala tiga, akan galau memikirkan pernikahan : dan akhirnya mengurung diri dalam kamar.

“Baca buku, menulis. Eh, tapi, ingin menulis depan komputer, bukan di buku tulis,” jawabnya.

“Baca buku itu, sebaiknya didiskusikan. Kalau tidak, akan mengisi kepala kita hingga penuh, dan kita akan sulit mendengar nasehat orang lain, terlebih dari orang yang lebih muda atau tidak ‘terpelajar’ : ibu, bapak, paman/bibi,” Jon mulai berceloteh, belagu. “Menulis, justru baiknya dicatat dulu, agar ide atau inspirasi tidak hilang. Kalau belum terbiasa, nanti kena yang namanya ‘mental block’, sudah di depan laptop, tinggal mengetik, tapi lupa,”

“Iya, mbak juga sering sms-an sama dosen. Kadang mau kirim email, tapi nggak tahu emailnya. Oh, begitu ya,”

“Diskusi dengan dosen lewat sms atau email, nggak akan puas. Karena mbak nggak langsung tatap muka. Lagipula, dosen punya banyak pekerjaan. Kita bisa jadi merepotkannya,” kata Jon. “Menurut mbak, surga (tempatnya kebahagiaan) itu adalah apa yang kita tuju, atau yang kita adakan atau ciptakan?”

“Emm.. Menurutmu?” kakaknya Jon menanya balik.

“Kebahagiaan tidak terletak di luar diri kita. Happiness there are no your outside, but inside. Kalau pun mbak masih ingin pergi ke mana, traveling, mengira bisa lepas dari masalah dan mencari kebahagiaan di luar diri mbak sendiri, mbak hanya akan merasa lelah,” kata Jon.

“Iya, seringkali berpikir ingin pergi ke mana ... gitu, lalu pulang membawa satu kebijaksanaan dan melakukan kebaikan pada semua/banyak orang,”

“Orang yang melakukan perjalanan bukan untuk misi pertolongan, semisal hal seperti ini – membeli seragam untuk anak, tapi untuk menghibur dirinya sendiri, dia tak akan pernah menolong banyak orang. Mengapa? Karena hanya untuk menghibur dirinya, ia harus pergi jauh. Sedang sebenarnya, kebahagiaan tidak berada di sana, di tempat yang dituju, tapi di hatinya sendiri,” Jon berceloteh bak anjing menggonggong tak henti-hentinya. “Matahari, dia memikirkan dirinya sendiri dengan berputar pada porosnya. Dengan itu dia melakukan kebaikan pada apapun yang berada di sekelilingnya. Jangan terlalu memikirkan kebaikan apa yang akan kita lakukan, tapi lakukanlah apa yang memang seharusnya kita lakukan,”

“Terkadang mbak berpikir, kalaupun nanti jadi guru, lalu PNS, dan pensiun, kemudian menganggur : apakah hidup semembosankan itu?” kata kakaknya Jon.

“Hehehe,” Jon tertawa. “Mengapa khawatir dengan masa depan? Hiduplah untuk hari ini. Masa depan belum tentu datang, masa lalu tak dapat kita putar kembali. Nikmatilah saat ini, dan itu tanda kita mensyukuri nikmat Tuhan,” celoteh Jon lagi. “Hidup kita untuk siapa sih? Tuhan? Kita beribadah atau kafir, Tuhan akan tetap Tuhan. Yang paling terdekat adalah orangtua kita. Sebelum kita saling meninggalkan, buat mereka bahagia. Tapi, bagaimana dengan kebahagiaanku – semisal mengeluh seperti itu? orang kaya, bukan mereka yang punya banyak harta, materi, tapi yang memiliki sedikit keinginan. Atau kalau mau pakai prinsip hidupku, lampauilah pengetahuan dan perasaan. Semisal, orang bertanya untuk apa aku membeli seragam ini. Aku jawab ‘Tidak tahu,’ tapi ternyata esok harinya aku memberikan ini ke siswaku, dan orang itu tanya lagi, ‘Katanya nggak tahu mau untuk apa/siapa?’. Aku jawab, ‘Memang nggak tahu,’. ‘Tapi itu diberi?’ aku jawab lagi, ‘Oh, itu namanya memberi toh?’ Kembalilah pada ketidaktahuan. Kebaikan tak memerlukan alasan, tak membutuhkan kata-kata. Anggap sedikit setiap kebaikan yang kita lakukan, anggaplah banyak setiap kesalahan yang kita lakukan. Dari sana, kita akan selalu belajar, memperbaiki diri,”

“Mbak masih berpikir, di luar sana ada orang yang benar-benar memahami kita?” tanya Jon.

“Emmm... Mbak malah berpikir, yang benar-benar memahami diri kita adalah diri kita sendiri,” jawab kakaknya Jon.

“Betul. Dan dari itu, kita sebaiknya memahami orang lain,” kata Jon. “Banyak teman-temanku yang mengatakan kalau aku ingin menjadi pendeta, karena tidak menikah. Aku katakan pada mereka, orientasi hidupku bukan ingin atau tidak ingin, tapi siap atau tidak siap. Dan setelah kita dilahirkan, konsekuensinya adalah kita harus selalu siap dengan apapun yang terjadi dalam hidup ini. Aku katakan pada mereka, sebelum kakak saya menikah, tidak ada wanita yang akan aku berikan jaminan – menikah,”

“Kemarin, mbak sms – ke kakak ke-5. Karena mendengar ucapan kakak ipar pada kakak ke-4. Dulu, waktu keponakan kita itu akikahan, Budhe ‘fulanah’ tanya mengapa kakak ipar nggak bantu-bantu, aliran agamanya apa sih? Dan waktu itu disampaikan ke kakak ke-4, suaminya – kakak ipar – bilang (mungkin emosi), ‘Dulu yang meminta saya ke sini siapa?’ (Meminta dia untuk menikahi kakak Jon yang ke-4). Mbak jadi takut, apa memang begitu berkeluarga? Kok rasanya tega sekali,”

Jon terdiam. Ia paham, mengapa kakaknya ini mengirim sms ‘putus asa’ beberapa hari yang lalu.

“Mbak, tidak ada suami istri yang sempurna ketika mereka baru saja berkeluarga. Maka ada baiknya, sebelum melakukan apa-apa ketika pengantin baru, mereka saling mendekatkan, mengenal lebih jauh, jujur, sedikit demi sedikit,” Jon mencari kata-kata yang baik, agar kakaknya tak semakin putus asa. “Di sana, teman-temanku sering aku sarankan, meski mereka orang sunda – tak tahu artinya, witing tresno jalaran soko kulino,”

“Apa artinya itu?” tanya kakak Jon.

“Cinta itu tumbuh pelan-pelan, muncul karena kebiasaan. Banyak teman yang dijodohkan orangtuanya, yang merasa galau dan putus asa. Aku ceritakan tentang pengorbanan orangtua. Pacar kamu sudah memberi apa? Motor? Mobil? Dia baru kenal kamu sekian bulan/tahun, sedang orangtuamu, ibumu, mengandung, menyusui, membesarkan. Pada siapa ketaatanmu sebelum kamu bersuami?” kata Jon lagi. “Apa yang dikatakan kakak ipar itu, namanya romantika berkeluarga. Ada kalanya sangat erat dan romantis, ada waktunya komunikasi renggang, terasa jauh, karena mungkin dari sana akan muncul rasa rindu, kangen seperti dulu. Maka, yang terpenting adalah dialog, musyawarah. Tentang ucapan Budhe, atau paman dan bibi kita lainnya, kita tak mungkin memaksa kucing untuk berkicau, memaksa ayam untuk mengeong : itu memang kapasitas mereka. Orang lain boleh buruk pada kita, tapi upayakan kita selalu baik pada orang lain. Belajarlah dari orangtua kita tentang keikhlasan, apalagi jika semua anaknya adalah perempuan. Sudah capek-capek membesarkan, ketika menikah dibawa pergi begitu saja.”

“Mbak kadang masih ragu, takut, tak bisa menjadi seperti yang diharapkan ibu/bapak,” kata kakaknya Jon lagi.

“Mbak, hampir semua anak-anak ibu dan bapak pernah melakukan kesalahan fatal. Kita sebaiknya belajar, mbak, dari ibu/bapak. Kita bukan manusia sempurna, kita memiliki kelemahan masing-masing. Yang terpenting adalah, kita selalu berusaha memperbaiki diri. Mbak juga tahu, tanggung jawab besar apa yang sedang aku hadapi ini. Kehidupan sedang mengincarku agar aku melakukan kesalahan besar pada ibu/bapak. Tapi insya allah, selama aku mampu, aku akan bertahan. Telah lama aku tak bermimpi tentang hal-hal yang menakutkan, karena tiap mimpi yang menakutkan, aku membalikan badan dan menghadapi semua itu. Di sana, tempatku kuliah dulu, tidak ada kakak atau adik tingkat yang berani membanggakan diri di hadapanku, karena mereka tahu beban hidup seperti apa yang aku jalankan. Tapi, bukan berarti aku boleh menyombongkan itu. Mbak, ujian terbesar tidak terletak di luar diri kita, bukan orang lain, tapi diri kita sendiri. Bagaimana kita selalu mengendalikan, dan memperbaiki diri tanpa henti,” Jon terus berceloteh. 

“Dulu, waktu musyawarah keluarga, mbak targetannya apa ya?” tanya Jon.

“Ya... kan menikah setelah lebaran idul fitri ini,” jawab kakaknya Jon.

“Biasakan, apa yang kita akan lakukan diiringi ‘insya allah’. Mudah-mudahan semua sesuai dengan usaha kita,” ucap Jon, mendoakan.

No comments:

Post a Comment