Rokok : Teman kesendirian, - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, June 19, 2014

Rokok : Teman kesendirian,

Em, jangan terburu-buru menyimpulkan, ok.

Hari Selasa sore, bantu-bantu kakak yang baru saja melahirkan 40 hari kemarin, pindah rumah. Kakak ipar memberi saran, agar kebiasaan merokoknya dikurangi. Aku jawab, aku hanya merokok ketika merasa sendirian. Tidak merokok satu bulan atau satu tahun pun aku sanggup. Tapi, akhir-akhir ini memang keinginan merokok nampak besar. Mungkin karena semangat intelektual yang bukannya melemah setelah lulus kuliah, tapi sebaliknya, mengalir deras tak terbendung. Beberapa orang mengira, aku ingin cepat-cepat menikah. Kenyataannya, kini aku sedang belajar kembali untuk memiliki cinta lokal, atau cinta antara laki-laki dan perempuan, atau rasa suka. Pertengahan 2010 aku kehilangan perasaan ini. tapi, sungguh, aku tak impoten, eh, tapi mengapa harus berkata ini?

Barangkali, kegagalan cinta lokal yang berkali-kali mengakibatkan cinta lokal-ku lumpuh. Tapi, mungkin bukan hanya itu. kesempatan yang Tuhan berikan untukku berpetualang dan menyelesaikan persoalan-persoalan orang lain, mungkin itu sebab utamanya. Masalah orang lain, mengapa aku yang harus menyelesaikannya? Rasanya susah sekali untuk menyukai perempuan saat ini, dalam artian pribadi. Tapi, tentang cinta kemanusiaan, aku tak mengatakan aku sempurna, tapi aku dapat mengungkapkan itu dengan cukup baik. Totalitas perjuangan membuatku merasa lebih hidup : gila.

Hari Rabu, ada lomba mewarnai untuk anak-anak TK/PAUD di sekolah kami. Hari itu ada tiga agenda sekaligus. Sosialisasi PPDB atau penerimaan peserta didik baru, rapat dengan komite, juga lomba itu tadi. Pusing sekali rasanya kepalaku ini. siang jam satu, belum sholat dhuhur tapi aku sudah tertidur. Pekerjaan sekolah masih didominasi olehku sendiri. Jadi, mungkin sakit kepala itu rasa protes tubuh yang melewati batas kekuatan.

Tentang batas, sebenarnya aku cukup paham. Batas kekuatan diri, kapasitas diri. Tapi, seringkali kehidupan memintaku untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuanku, atau, awalnya aku mengira bahwa itu memang di luar kapasitas tubuh atau pikiranku sendiri. Seperti kegagalan-kegagalan ketika menjalin hubungan dengan wanita yang ku suka. Lima kali, aku kira itu sudah cukup menyesakkan. Bahkan, terkadang aku ingin bertanya pada wanita yang kelak menyukaiku : lima wanita saja menolakku, apa kamu yakin akan menerimaku?

Malam ini, malam Kamis, aku menunggu di depan sekolah kami yang lebih layak disebut gubuk. Mengetik di samping seorang teman SMA yang tertidur pulas. Barang-barang untuk persiapan tutup tahun harus kami tunggui. Sekolah ini, selain masih gubuk, juga tak ada pagar, tak berpintu. Dengan ditemani rokok, aku menyelesaikan cerita malam ini.

Siapa yang mau hidup sendiri? Hanya saja, terkadang kehidupan meminta orang-orang tertentu untuk mencintai kesendirian. Aku pernah bermimpi, suatu saat ketika telah berumah tangga, aku memilih tertidur di atas sajadah setelah menemani tidur sang istri. Tiba-tiba Ia yang berada melampaui Arsy menegur : Mengapa tak kau temani istrimu setelah menemani-Ku? Begitulah, kehidupan ini diadakan untuk kesenangan manusia. Kesenangan dengan batas dan kesesuaian tertentu. Ada saatnya manusia mencintai kesendirian, ada waktunya mereka membaur bersama apa yang dicinta : sampai batas waktu tertentu. Dan saat sendirian seperti ini, kunyalakan rokok untuk menemani.

Kabar dari ketua panitia tutup tahun tadi selepas Isya, ada kemungkinan kyai yang diundang sebagai pembicara akan menemani Jokowi ke Dapil 9 (Tegal dan sekitarnya). Beliau memang petinggi partai hijau. Mungkin, jika aku juga kader partai keislaman lawan dari partai hijau tersebut, sang kyai juga akan menolak menjadi pembicara. Aku bukan simpatisan atau kader partai tertentu. Aku hanya berprinsip, seorang intelektual tak boleh menutup mata terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Termasuk politik. Walaupun, tetap saja, siapapun presiden yang terpilih, aku tetap pada jalan hidupku : tak akan ku mengemis untuk diriku sendiri pada mereka. Mungkin aku satu-satunya di bangsa ini, seorang kepala sekolah yang selalu membuat geger pejabat kependidikan. Kepala sekolah bertubuh morfinis, berkepala mowhakian (mowhak), dan sering sekali tak menghadiri rapat : rapat kenaikan pangkat dan ke-PNS-an. Seperti pagi lalu, saat rapat kepala sekolah sosialisasi PPDB sekolah dasar. Jam 9 pagi rapat dimulai, tapi aku sudah tertidur dalam duduk. Bosan sekali. Alih-alih menghilangkan rasa bosan, aku mengajak kepala sekolah lain untuk keluar merokok, tapi dia tak berani. Ah, haha, aku hanya bercanda, pak.


Tentang rokok, di banyak kesempatan aku bercerita pada teman-teman tentang prinsip merokok. Tentang kisahku di bus/di jalanan dengan teman bernama : rokok. Di tahun 2009, nyaris saja aku dipukul seorang bapak bangkotan di dalam bus, kalau tak ditolong ibu-ibu dengan anak kecilnya. Dia, si bapak tua, merokok di dalam bus, aku ingatkan di dekatnya ada anak kecil dan ibu-ibu. Ia marah, nyaris saja bogem mentah melayang. Begitulah, kehidupanku. Perempuan memang mampu menguatkan laki-laki, tapi laki-laki menjadi kuat tidak hanya oleh perempuan. Pahitnya kehidupan, kegagalan, ketertolakan dari pergaulan, kemiskinan dalam berjuang, itu obat kuat yang sebenarnya. Sedangkan rokok, ah, itu hanya agar orang tak mengasihaniku yang kurus dan teraniaya oleh kehidupan ini. karena merokok, identik dengan kejahatan. Rasanya lebih senang, jika getirnya kehidupan yang kita rasakan tersebab kita adalah manusia jahat. Karena itu, aku merokok. Aku manusia jahat. 

No comments:

Post a Comment