Unanswer - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, June 10, 2014

Unanswer

Cerpen

There is a difference between goodbye and letting go. Goodbye is "I'll see you again when i'm ready to hold your hand, and you're ready to hold mine. Letting go is "I'll miss your hand. I realized it's not mine to hold, and i will never hold it again.

Sebatang rokok Lias keluarkan dari saku jaketnya. Ia baru saja pulang dari kontrakan teman, tengah malam itu. Pemuda ramping yang telah sampai di akhir mahasiswa itu berjalanan menuju kontrakannya di belakang kampus. Sengaja ia pulang, tak memilih untuk tidur di kontrakan temannya itu. Suasana malam membuatnya merasa bebas berpikir. Tentang malam, kegelapan, cahaya bintang, dan kesepian dalam perjuangan hidup.
Ketika langkahnya memasuki gerbang kampus, ia terhenti – rokoknya menggantung di bibirnya. Dua orang perempuan dengan tas besar, nampaknya mahasiswa baru terduduk nampak bingung.

“Em, adik lagi ngapain? Ini menjelang jam 12 malam, lho,” ucap Lias menyapa. “Tenang, tenang. Nama saya Sulias, saya bukan orang jahat – meski tampang saya memang kriminal, ini KTM (Kartu tanda mahasiswa) saya,” dia mengambil kartu itu dari dompetnya.

“Kita bingung jalan kontrakan kita, kak,” kata salah satu perempuan. “Kita dari Palembang, baru satu kali kesini bulan lalu. Kalau siang mungkin aku hapal jalannya. Kami belum punya kenalan siapa-siapa di sini, kak,”

“Kontrakannya di jalan apa?” tanya Lias. Dia memang orang yang tanpa basa-basi.

“Jalan Belimbing RT 11/RW 4, Kak,” jawab seorang perempuan itu lagi.

“Oo, jalan belimbing toh. Sebentar ya,” Lias mengeluarkan henponnya. Ia menelepon seseorang.

Tutt.. tutt.. Halo?

“Oi, Mil! Kirain udah molor lu jam segini? Haha,”

Udah cepetan bilang mau apa. Brengsek lu suka banget bangunin tidur orang. Balas suara dari henpon Lias.

“Hihi, sori, sori, darurat nih...” candanya. “Ini ada temen lagi bingung jalan belimbing itu lewat mana ya?”

Ya ampun. Tampang seh kriminal, tapi otak pelupa. Jalan belimbing itu di samping kontrakan gue tuh, ke selatan dikit, yang ada orang jualan bandrek. Dasar lu, biasa ngamen juga. Jawab teman dari ujung telepon lagi.

“Haha, kampret lu Emil bencong. Eh, tapi makasih ya,” kata Lias.

Iya bawel..

“Oiya,” nampak ada yang lupa dalam benak Lias. “Ada donlodan (download) bokep baru kagak? Hihi,”

Syialan! Gue memang agak centil, tapi otak gue bersih gak kayak lu, otak cabuulll!!!

Tutt... tutt.. tutt...

Henpon dimatikan.

“Haha,” Lias tertawa sendiri. “Tadi teman saya, namanya Emil. Dia agak kewanita-wanitaan, tapi orangnya baik. Kontrakannya di jalan Sawo – saya baru ingat. Mari, saya antar,”

Dengan hati was-was, takut barangkali akan disekap oleh laki-laki bertampang kriminal itu, mereka pun pasrah.

“Sini, tas-nya biar saya yang bawa,” Lias mengambil tas mereka, bak calo terminal yang sukanya memaksa-paksa.

“Eh, nggak usah, kak. Nggak usah, berat,” kata salah satu perempuan lagi.

“Justru, karena saya tahu tas ini berat, biar saya saja. Kontrakannya lumayan jauh dari gerbang masuk kampus ini,”

Sepanjang perjalanan, mereka berdialog. Saling mengenalkan diri. Dua mahasiswi baru itu bernama Nana dan Hani. Lias dengan pengetahuan yang cukup banyak tentang dunia perkampusan pun asyik berceloteh. Tentang organisasi, unit kegiatan ekstra, studi tour, karakter mahasiswa kota, dan banyak hal lain, semisal tempat hunting buku murah tapi bermutu.

“Oh, disini ternyata,” ucap Lias saat mereka sampai kontrakan. Di mulutnya masih menempel rokok mild yang dia nyalakan beberapa saat sebelum sampai.

“Iya, kak. Makasih banyak, ya. Ini nih, ponakan saya maksa langsung berangkat dari Palembang. Padahal sudah dibilangin nanti saja berangkatnya besok pagi,” kata Nana, bibi – kecil – Hani.

“Hehe, santai. Em, ini kartu nama saya. Barangkali tertarik dengan organisasi seni yang tadi saya ceritakan, datang aja ya besok sore,” ucap Lias yang dilanjutkan berpamitan.

Sebenarnya, Lias tipe mahasiswa yang cuek pada wanita. Banyak teman wanita yang, bukan hanya suka, tetapi bahkan enggan karena sikap perfeksionisnya pada temannya yang perempuan. Di organisasi yang ia komandoi-pun tak jauh berbeda. Anggotanya didominasi kaum hawa. Tapi, berbeda dengan kaum Adam perkotaan, ia selalu mengingatkan dalam sesi diskusi forumnya bahwa, “Jalinan komunikasi kita adalah cinta universal. Bukan cinta antara laki-laki dan perempuan. Selama cinta yang saya sebutkan terakhir itu membayangi langkah kita, kekecewaan akan datang, dan semangat berkarya akan hilang. Karena dengan sendirinya kita akan menganggap kekasih kita-lah yang paling penting, daripada teman-teman kita lainnya,”

Perkembangan pemikirannya memang eksentrik – nyentrik. Pakaiannya lusuh, jaket kain kotak-kotak. Kalau berjalan tak pernah lepas dari rokok dan buku. Seakan tak tertarik pada perempuan, juga pada jabatan tinggi organisasi kampus yang resmi – organisasi Lias dan teman-temannya ilegal. Ia mampu membuat skenario film pendek dengan klimaks yang cukup kuat, hanya dalam satu atau dua jam. Selalu memiliki rencana cadangan, ide dan inovasinya seolah tak pernah mengering. Ia pernah membuat film dokumenter jurusan, memobilisasi mahasiswa untuk turun tangan membantu mahasiswa yang kurang mampu, membuat mimbar bebas, wawancara dadakan tentang hari pahlawan di kampus, atau semisal berdialog dengan penjual jamu gendong di dalam kampus – merekam dialog itu dengan kamera digital.

Sore itu, Nana dan Hani menghubunginya lewat sms. Mereka ingin ikut bergabung dengan organisasi yang Lias gawangi. Memiliki teman dengan kesan pertama yang tak terlupakan memang jarang. Maka mereka berdua ingin belajar bersama. Seperti yang dikatakan Lias malam itu, “Di organisasi saya tak ada ketua. Karena tiap orang memimpin dirinya masing-masing. Jika ada masalah, kita musyawarah. Tidak ada yang mengajari, tapi kita belajar bersama,”

“Kakak berapa semester lagi lulusnya?” tanya Hani. Mereka bertemu di taman kampus.

“Em, sekarang lagi nyusun skripsi. Bab 2,hehe,” jawab Lias, tanpa basa-basi. “Btw, kalian udah ambil formulir ekstra apa aja?”

Mereka berdua menggelengkan kepala.

“Belum? Waahh.. sayang, kalau jadi mahasiswa nggak pernah ikut organisasi,” ucap Lias. “Saya memang bikin organisasi sendiri menjelang kelulusan ini, tapi dulu saya aktif dibeberapa organisasi kampus dan ekstra,” Lias bercerita tentang keaktifannya dalam organisasi keislaman kampus, yang pada akhirnya ia keluar karena anggotanya berpikir terlalu kaku. Dia tipe orang liberal. Dia juga pernah mengikuti dua organisasi kemahasiswaan jurusan. Sampai pada akhirnya ia disingkirkan, karena tak mau menganiaya adik tingkatnya atas nama senioritas dan pendidikan.

“Emh, kalau nanti lulus, kakak langsung pulang?” tanya Hani lagi.

“I.. Yap. Langsung pulang,” jawab Lias sembari tersenyum – khas.

“Kalau kakak pulang, nanti kita belajar sama siapa?” tanya Hani lagi.
Lias memandangi Nana, sang bibi, “Lho, kamu ‘kan ada bibi. Kalian bisa belajar bersama,”

“Justru, aku yang tadi minta nanya ke Hani. Aku Cuma beda umur satu tahun dengan ponakanku ini. Kita masih benar-benar awam di sini,”

“Ada nasehat begini : There is a difference between goodbye and letting go. Goodbye is "I'll see you again when i'm ready to hold your hand, and you're ready to hold mine. Letting go is "I'll miss your hand. I realized it's not mine to hold, and i will never hold it again.” Lias tertawa kecil. “Mudah-mudahan, setelah kita lulus, kita bisa bertemu dan belajar bersama lagi,” ia tersenyum.

Wajah mereka berdua tertunduk. Semacam perasaan cemas tersimpan dalam pikiran mereka. Tentang dunia yang belum begitu mereka kenal, tentang orang-orang yang tak mungkin ‘seaneh’ seorang bernama Sulias itu. Tapi, tidak mungkin ia tak pulang setelah kelulusan. Bahkan, sebelumnya ia pernah bercerita bahwa ia tak akan mengikuti wisuda. Titel sarjana-nya tak boleh menempel pada namanya, kata dia.

“Sarjana itu di otak, bukan di nama. Yang penting otak saya sudah sarjana, tak perlu-lah nama dan upacara membosankan itu saya ikuti,” katanya suatu saat dalam organisasinya. Dan benar, satu bulan sebelum wisuda, kontrakannya habis. Ia tak memperpanjangnya, juga tak ada kabar lagi. Datang tak jelas, dan hilang tak membekas. 

Bersambung,

No comments:

Post a Comment