2 - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, July 28, 2014

2

Kita menolak menerima kelemahan diri. Menginginkan petik bintang, tapi ketika itu – bintang jatuh – mendekat, kita ketakutan. Jika kau menginginkan mutiara dengan harga murah, kau harus menyelam. Tapi kau harus tahu, mutiara terbentuk di dalam lautan, tapi bukan di sana tempatnya. Pahamilah dengan baik, mana petunjuk dan mana ‘kebenaran’.

Malam takbiran aku datang ke cafe kakaknya si Jon. Kebetulan, sedang ada promosi dan potongan harga. Kami memesan dua kopi untuk teman mengobrol.

“Lagi ngapain, Jon?” tanyaku melihatnya asyik menatapi laptopnya.

“Lagi Kepo nih – hehe. Lihat tulisan perempuan yang ku suka,” ekspresinya datar. Pengalaman hidupnya mungkin membuatnya sadar, mana tindakan yang harus membuatnya malu dan mana tindakan yang tak harus membuatnya malu. Mana mungkin, jatuh cinta itu membuat seseorang malu?

“Tapi, bukannya udah ada yang punya dia? Hihi,” candaku. Temanku ini, syaraf-syaraf kemarahannya sudah rusak. Tak mungkin ia marah, apalagi pada temannya. Ia pernah berkata, ia tak bisa disakiti lagi, kecuali dengan menyakiti orang-orang yang ia sayangi.

“Sisi gelap gua, Fa,” Jon tertawa kecil. “Tiap orang sebaiknya menerima sisi gelap diri masing-masing. Gua ‘kan – kulitnya – memang gelap (hitam), jadi biar metcing – hehe,”

“Setuju. Tiap orang punya sisi lemah masing-masing,” aku mengiyakan. “Jadi ingat kata-kata seorang sufi : Istighfar itu bukan meminta ampun pada Tuhan, tapi pada diri sendiri. Tahap pertama, istighfar adalah memahami bahwa diri ini memiliki sisi gelap. Kedua, menerima. Ketiga, memaafkan dan mengampuni diri sendiri. Terakhir, memperbaiki terus menerus sisi lemah itu,” aku berceloteh panjang.
Si Jon menatapi-ku. Seakan pernah mengatakan itu pada satu momen diskusi.

“Siapa sufi itu?” tanya Jon penasaran.

“Syeikhuna Jon Quixote – hahaha,” aku tertawa puas.

“Ahhh... kampret,” ia meminum kopinya. “Kebanyakan kita ini munafik. Kita menginginkan segala sesuatu, tapi menolak ‘harganya’,”

“Menolak ‘harganya’? maksudnya?” aku gagal paham.

“Semisal, kita menginginkan sebuah batu mulia, zamrud misalnya. Maka ‘harga’ untuk itu adalah kita harus mendaki tebing yang tinggi, atau menyusuri goa-goa terdalam bumi. Kita ingin memetik bintang yang terlihat indah, tapi kita menolak tahu bahwa bintang adalah matahari yang panasnya luar biasa,” Jon berceloteh lagi.

“Sisi gelap itu adalah petunjuk bahwa tak ada yang gratis dalam hidup ini?”

“Lha iya, kamu minum kopi ini juga ‘kan harus bayar,” kata Jon. “Kita seringkali susah membedakan mana petunjuk dan mana ‘kebenaran’. Betul, bahwa kebenaran tak akan pernah tergenggam manusia, paling tidak manusia biasa. Tapi tak mungkin juga, sama sekali kita tak mampu tersinari – cahaya kebenaran – itu,”

“Semisal, lampu lalu lintas di depan itu hanya petunjuk, sedangkan kebenarannya adalah bahwa hijau itu jalan dan merah itu berhenti, begitu?” tanyaku.

“Betul,” Jon membenarkan. “Menurutmu, kitab suci agama itu petunjuk kebenaran atau kebenaran itu sendiri?”

“Kebenaran lah. Itu kan kata-kata (firman) Tuhan,” aku sangat yakin dengan jawaban itu.

“Kitab suci adalah petunjuk kebenaran, sedangkan kebenarannya ada di balik itu,” sanggah Jon.

“Terusin, aku belum begitu paham,” kataku.

“Semisal ayat tentang perang – qutiba alaykumul qital, boleh jadi kita menyenangi sesuatu tapi sebenarnya itu tak baik/buruk untuk kita, sedang yang kita benci bisa jadi itu yang akan menyelamatkan. Ini petunjuk. Betul, aku tak bisa menganggap bahwa aku tahu kebenaran dari ayat itu, tapi aku paham satu kebijaksanaan dalam kalimat itu. Mengapa kehidupan terkadang memberikan jalan pada apa yang sebenarnya tak kita sukai, karena memang di sana ada kekuatan. Di sana ada rasa syukur,”

“Semisal tentang pekerjaan. Kita tak diterima bekerja di suatu tempat, karena memang kita akan susah mensyukuri/menikmati itu jika kita mendapatkannya, lalu dengan terus berusaha kita akan sampai pada pekerjaan yang membuat kita mudah mensyukuri/menikmati itu, begitu?” tanyaku lagi. “Jika begitu, kebenarannya adalah pada rasa syukur,”

“Itu kebijaksanaannya,” kata Jon. “Ikhlas, lahir dari persenyawaan antara sabar dan syukur. Awalnya, manusia harus sabar terhadap ujian, lalu syukur ketika ujian itu tergantikan anugerah. Kemudian, yang terakhir saat hampir sampai pada keikhlasan, manusia harus membaliknya, sabar terhadap anugerah (menghilangkan pemahaman, bahwa kita pantas diberikan ini dan itu), dan syukur terhadap ujian yang datang (menghilangkan pemahaman, bahwa kita paham hidup ini). Karena, manusia diberikan kebaikan bukan karena ia baik, tapi murni karena ‘keinginan’ Tuhan,”

“Maksudmu, ayat tentang perang/berjuang tadi adalah untuk tingkatan iman sabar atau syukur, begitu?”

“Aku tak bisa memastikan,” jawab Jon. “Yang aku pahami, selain pemahaman hidup manusia itu bertingkat, juga pamahaman bahwa adakah sesuatu yang teranggap buruk oleh orang-orang yang mencapai tingkat keikhlasan?”

Semakin susah saja dipahami temanku yang satu ini.

“Jadi, kamu sudah mengikhlaskan perempuan yang kau suka itu?” tiba-tiba aku mengalihkan tema bicara. Daripada pusing mendengar pemahamannya yang begitu dalam?

Jon tertawa.

“Engga tahu – hehe,” 

No comments:

Post a Comment