Menuju Episode Baru - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, July 30, 2014

Menuju Episode Baru

Foto ini diambil tahun 2006, akhir semester satu, di sela-sela kumpul selesai UAS. Gambarnya sudah tak begitu jelas, dan sebenarnya kita belum siap difoto (hehe).

Dari kanan yang pakai topi, M. Nurul Ikhwan, dipanggilnya Agus. Kaos hitam, Rizki Arisandi, dipanggilnya Sukir (haha), kaos biru Shofa Mustofa, dipanggilnya Sedag (konyol kan? hehe), dan terakhir, tak usah disebutkan (unidentified,he).

Jam 8 malam ini aku diminta bapak cari kembang melati buat nyekar besok subuh. Tanpa tanya jam segitu di mana ada yang jualan kembang melati, aku berangkat menuju kota : pokoknya cari! (hehe). Aku hubungi semua teman jalanan, tapi semua bilang masih tutup, masih waktunya lebaran (hadeeh). Putus asa, niatnya mau ke rumah Agus, tanya ibunya (orangtua kami sudah paham kami cs-an sampai saat ini) barangkali ada tetangga yang jualan kembang melati. Tanpa firasat apa-apa, Shofa dan Rizki sudah kumpul di rumah Agus. Sebelumnya, Rizki jarang pulang ke kampung (kita semua beda kecamatan) karena dia kerja di Jakarta - karyawan pabrik tekstil.

"Gitu ya, kumpul-kumpul gak sms gak telepon, brengsek kalian," nada bicaraku sebal, karena jarang sekali kita kumpul berempat.

"Ah elu nomer gonta ganti juga, sms gak pernah dibales," kata Rizki.

"Gak dibales apaan, gak ada sms gak ada miskol,"

Kami saling bercanda. Meski foto itu diambil 8 tahun yang lalu, kenikmatan berkumpul bersama seperti di tahun itu. Bedanya, Shofa sudah punya anak, usianya dua tahun. Rizki, pulang-pulang bawa kabar gembira, ia akan menikah hari Minggu ini - rencananya mereka mau main ke rumahku mengabarkan itu, dan Agus setelah lebaran haji (idul adha). Aku bilang ke Agus biar pacarannya jangan lama-lama, karena kebaikan sebaiknya disegerakan. Aku janji mau sumbang seekor kambing buat walimahan dia.

"Ajib, dateng-dateng mau merit - haha. Maharnya apa, boy?" tanyaku.

"Biasa aja kali, gak usah kaget gitu," Rizki malu-malu. "Seperangkat alat sholat sama duit gope,"

"Mantaaap..." ikut senang rasanya mendengar ini. Tiga sahabatku itu dari SMA suka pacaran, jadi senang sekali rasanya mereka 'sadar' (haha). "Nah, biar Agus gak bingung nih menjelang merit entar, apa aja yang mesti disiapin buat pernikahan ituh?" tanyaku pada Rizki dan Shofa. Untukku sendiri, sialnya - atau untungnya? hehe, masih harus menunggu kakak perempuanku. Jika aku bisa mencintai orang lain lebih dari mencintai diri sendiri, mengapa pada kakakku tak bisa? Maka, ku putuskan untuk menunggunya - dengan resiko godaan yang akan semakin besar.

"Bikin surat bawa nikah di penghulu. Jadi, entar itu yang dikasih ke penghulu tempat tinggal calon istri. Terus mungkin entar ada 'KIR' (mereka gak tau itu singkatan apa), ditanya-tanya sama penghulu mulai dari kesesuaian huruf dalam nama, dan angka tanggal lahir. Sampai pertanyaan psikologis, apakah menikah tanpa paksaan, saling suka, dan lain-lain," kata Rizki.

Aku jadi teringat dengan seseorang yang masih ku 'teror', seorang adik yang sudah memiliki komitmen dengan kekasihnya. Dari cerita ini, baiklah, baiklah, jika memang itu yang diinginkannya dari awal. Aku telah menyempurnakan ikhtiar padanya, jika memang ia tak ingin bersamaku, aku tak akan memaksanya - lagi.

"Penghulunya baik, dia juga cerita bab agama, bagaimana menjadi istri yang mengabdi pada suami..." dan lain-lain yang aku sudah paham secara umum.

"Terakhir, mungkin cek kesehatan di puskesmas atau rumah sakit, agar calon suami yakin calon istrinya masih virgin," lanjut Rizki.

Banyak hal yang kita bicarakan. Termasuk keinginan mereka terlibat dengan pendidikan yang sedang aku lakukan. Rizki adalah seorang Qori dan cerdas musik. Katanya ingin mengamalkan ilmu qiro-nya dan seni musik hadroh (rebana). Sebenarnya dia juga bisa 'nge-band', dulu saat SMA kami sempat bikin band sekolah. Dia pegang melodi, aku rythm dan vokal, drummer-nya seorang teman yang sekarang jadi bos Warteg (hehe). Agus dan Shofa, mereka pandai dalam kepramukaan. Jangan salah, dari empat orang, cuma aku yang dulu lulus sekolah. Mereka bertiga gagal, tapi tak menjadikan mereka hidup tidak bahagia - mereka hidup bahagia meski tak lulus UN. Tapi aku bilang, nanti saja kalau kalian sudah agak mapan dan tinggal di kota ini. Lagipula, sekolah yang ku pimpin itu baru permulaan, mungkin 3-4 tahun lagi kita baru akan 'terbang' dengan berbagai karya. Tapi tetap, aku jamin - katakanlah - 'mimpi' bekerja bersama akan terwujud selama kami masih punya umur.

Seakan tak terasa kami sudah bukan remaja lagi. Mereka akan menikah, aku juga sama - insya allah (hehe). Sempat aku cerita pada mereka tentang seorang wanita yang nyaris menjadi istriku di tahun 2011 lalu. Aku ceritakan pertemuanku dengan orangtuanya, dan kerelaanku melepasnya bersama laki-laki lain. Cara berpikirku praktis. Tak harus seseorang menikah dengan kita agar ia bahagia. Mengapa ku 'teror' seorang adik 'di sana', karena kami punya kenangan, punya forum 'mimpi', dan jika ia bersama dia yang tak kami kenal (tak mengenalkan diri, atau bahkan berniat menjadi teman kami), suatu saat kami berkumpul dan melakukan suatu 'misi', aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Tentang komitmen, itu hal wajar ketika tak sampai pada tujuan. Banyak sekali pengalaman itu jika kita dekat dengan masyarakat. Bagaimana dengan perasaannya? Rasa sakit itu menguatkan. Aku tak bisa membayangkan, seorang lelaki tanpa mental keberanian. Paling penting adalah rasa suka dan penerimaan. Jadi, alasannya hanya dua itu, dia tak menyukaiku - lagi, dan lebih menerimanya. Meskipun dia tahu aku, dan aku tahu dia. Dia mengenalku dan aku mengenalnya. Jika dulu aku menerimanya, mengapa sekarang tidak? Memandang rendah orang lain itu suatu kekejaman, sedangkan memandang rendah diri sendiri adalah kesombongan. Seperti tiga orang sahabatku itu, istri mereka bukan dari keluarga 'elite', dan orang-orang sederhana. Bahkan Rizki, mengapa dia memilih kekasihnya itu, karena orangnya tak 'mematok harga' (jual mahal), menerima dia memang begitu adanya. Padahal dia seorang qori', pekerja keras, dan cerdas musik.

Shofa telah memulai episode baru lebih dulu. Rizki dan Agus akan menyusul, lalu, apakah aku juga ingin cepat-cepat (hehe)? Terlepas dari susahnya aku dipahami orang lain - dan aku juga tak meminta dipahami, aku memahami, orientasi hidupku bukan ingin / tak ingin lagi. Begitu banyak pertimbangan lain selain itu. Yang terpenting adalah hati, karena dari sana manusia akan memulai hidup. Pengalaman hidup yang terlalui, membuatku menikmatinya apa saja yang terjadi. Tidak ingin cepat-cepat/terburu-buru, juga tak ingin menyia-nyiakan kesempatan atau menunda ikhtiar (upaya), ketika memang bisa. Tak mau tergesa-gesa, tapi jika memang ada kesempatan, maka aku upayakan. Bagaimana jika gagal? Itu konsekuensi. Termasuk pada dia yang kini sering ku 'teror'. Maafkan aku, jika merasa telah memaksamu untuk menyukaiku - lagi. ^_^
***
Perjalanan pulang...

"Lu berarti harus dapet orang dekat, Dud," kata Rizki. Panggilanku, Sedud, saat SMA - haha. Kami berbincang sambil berkendara.

"Lah, kenapa?" tanyaku.

"Ya 'kan lu ada tanggung jawab sekolah,"

"Ah, nggak mau. Kalau aku dapet orang jauh juga aku minta dia buat tinggal di sini," kataku.

"Oh iya ya, lu 'kan anak bungsu. Mesti jagain 'markas' (menemani orangtua)," kata Rizki.

"Ya iya lah. Bukan cuma orangtua kali, sekolah dan sebagian masyarakat itu juga,"

*Pulang kumpul jam 2.30 pagi.

No comments:

Post a Comment