Pelajaran hidup paling berharga - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, July 31, 2014

Pelajaran hidup paling berharga

Apa itu?

Kematian.

Imam Al Ghazali dalam suatu riwayat diceritakan, pernah bertanya pada murid-muridnya. Tentang sesuatu yang paling berat (tanggung jawab/amanah),  sesuatu paling jauh (masa lalu), sesuatu paling ringan (meninggalkan sholat), dan satu lagi...

Siapakah yang paling dekat dengan kita?” tanya ia pada muridnya.

Tidak ada jawaban yang benar dari para siswanya. Lalu ia menjawab sendiri.

“Kematian, adalah yang paling dekat dengan kita,”

Malam lalu aku tertidur jam satu pagi, dan terbangun jam empat dengan kabar menggemparkan.

“Bangun, paman anu – adik ibu – meninggal,” usianya 55 tahun, dan masih memiliki anak kecil, perempuan 8 tahun.

Aku datang ke rumahnya, bibiku menangis pilu. Ada rasa mengguncangkan menggetarkan di hati ini yang tidak terungkapkan kata-kata. Rasa dingin yang menusuk tulang, tapi bukan karena angin atau malam. Ada rasa sakit, bukan hanya karena menyaksikan itu, tetapi juga ‘terbukanya hijab’ dari apa yang selama ini aku renungkan – tentang maut. Betapa dekat ia, betapa aku tak ada apa-apanya terlebih dengan kesombonganku dalam merenungkan itu. Tapi dengan penyaksian ini, renungan-renungan tentang kematian menjadi lebih jelas, lebih terang. Telah lama aku membayangkan jasad ini terpendam 2-3 meter di dalam tanah. Keadaan terputusnya kenikmatan, kedamaian abadi yang tak pernah akan dirasakan kecuali mengalaminya.

“Apa yang selama ini kau lihat?” tanyaku pada diriku sendiri. Matamu buta? Bukankah hampir tiap hari kau melewati ‘tanah itu’ – kuburan? Mengapa renunganmu tentang itu hanya setengah-setengah saja? Kau berkata, mencintai kematian seperti mencintai kehidupan. Tapi mengapa kesadaranmu dangkal? Apa saja (sih) yang matamu saksikan?

Aku pun tahu, ayat-ayat-Nya yang menyebutkan tentang butanya mata kita. Terasa begitu nyata.

“Apakah telingamu tuli?” tanyaku lagi. Suara-suara dari pengeras suara masjid atau musholla itu, apakah hanya sepintas lalu? Bukankah itu adalah suara peringatan – bahwa, mungkin saja saat kita sudah begitu dekat? Kau akan mengejar duniamu lagi? Sana, kejar. Semakin cepat kau melangkah, ia semakin dekat.

“Apakah hatimu masih hidup?” tanya ku lagi. Kau bilang, hidup akan berawal dari sana – hati. Tapi apa yang kau lakukan pada hatimu? Terlalu lama meratapi apa yang lepas dari jangkauanmu-kah? Atau terlalu lemah kau terhadap apa yang terjadi? Kau banyak bicara tentang maut, tapi hatimu kau tutup rapat. Seakan kau paling mengerti perasaan keluarga yang ditinggalkan. Kau berkata, rasa sakit akan mendewasakan, tapi apakah kau akan mengatakan itu pada mereka yang berduka? Bahkan hatimu, meski kau bukan siapa-siapa, bergetar keras dengan peringatan ini, bukan? Bagaimana mungkin kau akan menasehati seseorang, jika kau saja belum mengalaminya? Pahami dan rasakanlah apa yang mereka alami. Temani mereka.

Waktu akan terus melaju. Menggerogoti sisa-sisa usia manusia. Tak ada jaminan manusia muda tak akan mati segera. Semua ada jatah masanya, dan ada kejutan untuk masing-masing yang tak mempersiapkannya.
“Ayolah, Ma, jangan buang-buang waktu kita untuk mengobrol percuma. Gunakan sisa waktu kita untuk bekerja – beramal – hari ini. Karena tak ada jaminan esok kita masih bisa,” sering ku ucapkan itu dalam keluarga ini. Di sekolah, para guru tak bisa bebas berbicara selama ada aku di dekat mereka. Karena mereka tahu, aku orang yang tak begitu suka membicarakan sesuatu yang tak berguna di saat-saat kerja. Waktu hidup kita terlalu sedikit, untuk menyelesaikan begitu banyaknya persoalan kehidupan. Kebaikan seharusnya disegerakan. Karena kebaikan yang tertunda, menjadikan tertundanya kebaikan yang akan mendatangi kita. Bersegeralah – beramal.

Seakan ayat-ayat qur’an ‘tertempel’ di keningku. Tentang musibah, tentang anugerah yang hilang, tentang takdir, tentang kematian atau kiamat. Kini aku tahu, bagaimana kondisi rasulullah ketika ayat-ayat dahsyat diturunkan-Nya. Berapa banyak jasad yang engkau temui dalam medan perang, wahai rasul. Betapa tegar engkau. Betapa sabar. Sedangkan kami di sini, terlalu lemah hati, dan menyaksikan / mendengar peringatan itu – kematian – sambil lalu. Entah akalku yang terlalu dangkal, atau hatiku yang telah tertutup-terkunci rapat.


Berapa banyak sudah teman-teman masa kecilku yang telah mendahului. Teman kuliah, sahabat perjalanan. Ada seorang tua yang berkata, bahwa masa pensiun adalah masa ‘nikmat-nikmatnya hidup’, tapi apakah benar kita bisa menikmati masa itu tanpa persiapan? Orang-orang mengatakan, aku adalah orang yang berorientasi pada akhirat, sedang mereka tak tahu betapa keras aku bekerja. Aku tak banyak menghabiskan waktu untuk bersujud atau berdzikir di dalam masjid. Aku menyukai dunia, harta, uang, wanita. Tapi aku memahaminya, bahwa seringkali manusia harus menjadi jarak dengan apa yang disukainya. Mengapa? Menampik lupa, bahwa hidup ini sementara dan bekal perjalanan selanjutnya segera disiapkan. Bagaimana jika tidak? Astaghfirullah al adzim...

Rabbanagh firlana dzunubana watawafana minal muslimin... Tuhan, ampuni kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan mencintai dan mengikhlaskan-Mu...

No comments:

Post a Comment