Puisi Ar Rahman - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, July 27, 2014

Puisi Ar Rahman

(1)
Ar Rahman,
Kasih yang tak pernah putus dari-Nya
Berhembus, mengalir pada jiwa-jiwa yang mulia
Bersandar, di ujung muara samudera,
Cinta
                Kini ku tahu ayat-Nya : Marojal bahroini yal taqiyan
                Baynahuma barzakhu la yabghiyan
                Tuhan mengalirkan takdir kita berbeda, jauh, dan terbatasi
                Untuk satu titik tujuan ini : kita menyatu di disini
(2)
Alamal qur’an
Ia mengajarkan ilmu-Nya pada manusia paling mulia
Muhammad ibn Abdullah yang sangat mencintai umatnya
Berjuang, berkorban untuk kita hingga nafas terakhir
Membuat Jibril dan Izrail menangis getir
                Fabiayyi alaa i robbikuma tukadziban
                Akhlak yang terpuji membuatnya dicintai dunia
                Hanya hati-hati sakit yang menolak dan membencinya
                Bersholawatlah, kasihku, agar kita dan ia tetap saling cinta
(3)
Kholaqol insan,
Ia menciptakan manusia
Berpasang-pasangan seperti bulan dan bintang
Berbeda waktu dan jarak di pagi hari yang cerah
Lalu bertemu saling menatap di malam hari yang gelap
                Asyamsyu wal qomaru bihusban
                Matahari dan bulan beredar menghitung hari
                Lelah kaki ini yang telah melangkah jauh tersesat
                Ketika saat itu datang, kita kan saling mendekat, erat
(4)
Wa wadlo’al mizan ‘alla tathghow fil mizan
Keseimbangan tercipta dalam jalan hidup kita
Ditinggikan dan Ia jauhkan
Agar terlindung dari nafsu hina yang diam-diam
Menyempurnakan akal dan hati dalam satu tujuan : Tuhan
                Wal ardlo wadlo’aha lil anam
                Bumi ini dibentang-hamparkan oleh-Nya
                Agar aku, engkau, kita saling berjalan
                Tertakdir bertemu, dan saling berkenalan
(5)
Wal habbu dzul’ashfi warroihan
Benih-benih cinta Ia jaga di dalam hati manusia pilihan
Harum mewangi menghiasi lisan dan tindakan
Kebingungan Ia tanamkan dalam pikiran
Agar kita tak tergesa menentukan jawaban
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Maka bersyukurlah untuk waktu yang ditentukan
                Bersabarlah, dan jangan menyerah
                Apa yang telah ditakar-Nya tak akan pernah berubah
(6)
Wasamaa’a rofa’aha wawadlo’al mizan
Ia-lah yang meninggikan langit tanpa tiang
Seperti cinta yang membuat manusia mabuk meski tanpa khamr
Membuat seseorang melayang tanpa sayap
Dan membuat seseorang terbunuh meski tanpa menancapkan pedang
                Yakhruju minhuma lu’lu’u wal marjan
                Darinya, cinta, keluar manusia-manusia terpuji
                Menyinari dunia dengan kerja keras dan akal budi
                Tak berpamrih bak terang mentari pagi hari
(7)
Walahul jawaril munsya’atu fil bahr
Seperti kapal-kapal yang berlayar di lautan
Jauh terbawa ombak berpetualang
Keluar dari masing-masing dermaga pelabuhan
Menuju satu tujuan pemberhentian, kerinduan
                Kullu man alaiha fan
                Kebinasaan adalah kepastian seluruh makhluk
                Tapi bagi mereka yang dihidupkan oleh cinta-Nya
                Kematian hanyalah satu pintu menuju kebahagiaan yang lebih besar
(8)
La tanfudzu illa bi sulthon
Tak dapat ditembus kemurnian kasih-Nya
Tangan-Nya menjadi tangan kita
Mata-Nya menjadi mata kita
Kecuali oleh kekuatan iman, cinta, dan ketaatan total
                Fa idza syaqotisama’u
                Dan sebelum langit terbelah pecah
                Ketika tak seorangpun sanggup menolong yang dicinta
                Persembahkanlah diri ini hanya untuk Ia
(9)
Wa limankhofa maqoma robbihi jannatan
Untuk mereka yang takut kehilangan cinta-Nya
Disediakan dua surga yang bertetangga
Kesana, manusia merangkak, berjalan, atau berlari melewati jembatan-Nya
Dan aku kan terbang memelukmu melintasi itu
                Fiihima ‘ainani tajriyan
                Dua mata air yang menyegarkan memancar
                Seperti janji yang rasulullah katakan
                Untuk mereka yang tegar, disiapkan telaga al kautsar
(10)
Fii hinna qoshirothuthorfu
Di dalam surga-Nya menanti para teman
Bidadari-bidadara yang berbaris rapi menyambut kadatangan dengan salam
Terlindungi dari manusia dan segala keburukan
Selalu suci terjaga dari segala pandangan
                Hurum maqshurotun fil khiyam
                Engkau yang menjaga diri dari keriuhan duniawi
                Sebanding dengan keindahan para bidadari
                Terpuji dalam kemuliaan ilahi : dzul jalali wal ikrom
(11)
Dzawata afnan
Di dalamnya, surga, didekatkan semua kemudahan
Dikumpulkan mereka yang saling cinta di atas kesucian
Bersandar di atas dipan-dipan
Kemanapun mereka memandang, adalah kebahagiaan
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Maka, kasihku, mengapa kita mengeluhkan dunia
                Bukankah di sini hanya tempat kita bekerja
                Menyimpan bekal, untuk perjalanan panjang selanjutnya?
(12)
Robbul masyriqi wal maghribi
Dia-lah Tuhan timur dan barat
Ia yang mencintaiku di sini
Dan Ia pula yang mencintaimu di sana
Lalu menyatukan cinta kita, di bawah naungan-Nya
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Maka, kasihku, bersuka-citalah
                Masa kelam yang memberatkan kehidupan
                Telah Ia ganti dengan kehendak-Nya : mempertemukan kita
(13)
Ka annahunnal yakuutu wal marjan
Seperti mutiara hitam di atas bebatuan pualam
Perbedaan yang melukaimu di masa yang lalu
Telah Ia ubah menjadi cinta dan kesembuhan
Sebagai balasan untukmu yang seindah cahaya bintang
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Mulut kita dapat berdusta, tapi kita tak mampu menipu rasa
                Apa saja yang kita alami sebelumnya, cinta atau benci
                Semua membekas di hati meski tak kita kehendaki
(14)
Hal jazza’ul ihsani ilal ihsan
Penyatuan ini adalah balasan kebaikan
Dari lisan dan perbuatan yang tak kenal henti
Kebaikan, pada para hamba yang membutuhkan
Ia yang mencintai manusia, akan selalu dicintai-Nya
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Bersyukurlah, kasihku, dengan apa yang Ia beri
                Tak pantas manusia mendustakan hati
                Karena apa yang dimilikinya adalah kepunyaan Ilahi
(15)
Dzawata afnan
Di dalam kenyamanan surga itu
Ditumbuhkan-Nya rindang pepohonan dan buah-buahan
Agar kita tak kepanasan, juga merasa lapar
Sebagai balasan setimpal dari apa yang dulu dilakukan
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Kesementaraan dunia inikah yang membuat kita lupa?
                Kasihku, hidup ini kesempatan besar
                Untuk berbakti, dan menolong mereka yang terlukai kehidupan
(16)
Wa jannal jannataini daan
Semua kebutuhan manusia di sana akan didekatkan
Ia merelakan kita memasuki kenikmatan-Nya
Sebagai ganti kerelaan kita hanya bertuhan pada-Nya
Ketika banyak manusia terlupa darimana berasal dan akan kemana mereka
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Kasihku, mari sini, duduk di sisiku
                Tak perlu engkau tujukan pandanganmu ke sana,
                Pada kenyamanan dunia yang tak akan bertahan lama
(17)
Mud-hammataan
Warna-warni keindahan di sana bersinar hijau tua
Seperti menyatunya semua derita hidup di dunia
Yang meresap membersihkan hati tiap manusia
Agar layak menghuni surga, duduk bersandar di sisi-Nya
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Dan bersabarlah, wahai jiwa yang terjaga
                Kasih sayangnya terbungkus di balik gelap-kacaunya dunia
                Agar kita tak malas dan lemah ‘tuk selalu berjalan mencapai-Nya
(18)
‘Ala furusyim batho’inuha min istabrok
Mereka yang teraniaya dalam jalan kebaikan di dunia
Akan dimanjakan-Nya di sana
Duduk beralas permadani hangat nan indah
Berpakaian mewah sebagai balasan pengorbanannya
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Manusia berawal dari sesuatu yang tak berharga
                Lalu Ia mengindahkannya karena kebaikan di dalam jiwa
                Menyempurnakan bentuk, lalu menempatkannya pada derajat yang mulia
(19)
Ar Rahman,
Ia Sang Maha Pengasih  yang mengawali semua
Bermula dari satu jiwa
Kisah ikatan rasa antara Adam dan Hawa
Yang saling cinta, dan menjaga
                Tapi, demikianlah keinginan manusia
                Tak ada nabi dan rasul yang diutus
                Tanpa perlawanan pada hasrat diri yang rakus
                Apalagi, hanya sebatas manusia biasa
(20)
Alamal qur*an
Para bayangan cahaya menentang Tuhan
Ketika Adam kan diangkat menjadi pilihan
Lalu sang manusia pengawal itu
Menunjukan ilmu-Nya yang melampaui mereka
                Tapi, demikianlah keinginan manusia
                Ilmu yang mendekat pada singgasana-Nya
                Memiliki konsekuensi kesombongan yang besar
                     Yusuf pun berdoa : hanya rahmat-Mu yang menyelamatkanku dari nafsu

(belum selesai...)

No comments:

Post a Comment