Unanswer III : Mahar Ar Rahman dan 99 puisi cinta - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, July 27, 2014

Unanswer III : Mahar Ar Rahman dan 99 puisi cinta

Kini aku tahu makna ayat-Nya : Marojal bahroini yaltaqiyan, baynahuma barzakhu la yabghiyan... Tuhan mengalirkan takdir kita satu sama lain, jauh dan terbatasi. Untuk satu titik tujuan ini : Engkau dan aku bertemu dan menyatu disini.

Satu bulan yang lalu ...

“Assalamu’alaykum, kakak lagi sibuk?” sms dari Hani muncul di layar henpon Lias.

“Wa’alaykumsalam, enggak. Gimana, udah yakin dengan keputusannya : memilihku atau ‘dia’?” jawab Lias. Ternyata, Lias sedang menunggu keputusan Hani untuk memilih siapa di antara dia dengan kekasihnya.

“Insya Allah, kak,” sms Hani lagi.

Hani pun bercerita terbuka, lama, tanpa segan, karena ia tahu ia sedang bicara bukan dengan laki-laki ‘setengah matang’ : sensitiv dan mudah galau. Ia mengucapkan banyak terima kasih telah belajar banyak dari Lias. Ia sadar, rasa sukanya pada Lias belum mampu ia kesampingkan. Terlebih lagi, Hani tak bisa menyangkal perasaannya, bahwa Lias adalah lelaki yang sangat ia harapkan, idamkan : dulu. Tapi, ia telah memutuskan, bahwa ia akan memilih komitmennya dengan ‘dia’ – kekasihnya yang datang lebih dulu. Sangat berat terasa dalam hati Hani, untuk memilih antara keinginan dan komitmen. Tapi, ia belajar banyak dari Lias tentang kebijaksanaan hidup – saat masih kuliah dulu. Tentang komitmen dan tanggung jawab pada apa yang telah dikatakan dan diperbuat.

“Jadi, Hani harus belajar untuk mengesampingkan bayangan kakak, ya? Ceritakan saja pada ‘dia’, bahwa mendamaikan perasaan itu butuh waktu. Jangan marah / cemburu – meski itu wajar, kalau Hani masih sering cerita tentang kakak,” kata Lias lewat pesan pendek – sms. “Kakak biasa saja, jujur. Kakak senang Hani paham dengan sms dari kakak beberapa hari kemarin, kalau Hani mesti memutuskan dengan bijak. Yang kakak takutkan, pertama, kalau Hani memilih kakak, dia akan sangat galau. Sakit hatinya jungkir balik – hehe. Karena ini pertama kalinya buat dia. Anak muda memang harus dididik dengan rasa sakit, tapi bagi kakak keputusan Hani sangat bijak. Kedua, Hani harus belajar mengutamakan dia. Jangan sampai tubuh Hani dengannya, tapi pikiran dan perasaan Hani sama kakak. Itu sakit sekali,”

“Kok kakak tahu (Tubuh bersamanya tapi tidak dengan pikiran/rasa)?” tanya Hani.

“Kakak cukup pengalaman dalam hal ini,” Lias tertawa.

“Tapi, kakak masih mau berteman sama Hani, kan?”

“Kenapa tidak?” Lias tertawa lagi. Ia seakan menjadi orang tua yang sulit untuk dihinggapi rasa sedih kehilangan. Perasaannya biasa saja, tapi ia tak tahu bagaimana menjelaskannya.

“Iya, Hani tahu kakak orang yang gimana...”

Genap sudah 4x Lias gagal menentukan belahan jiwanya. Tapi, ia bukan tipe anak muda cengeng dan manja. Ia tak punya waktu untuk memikirkan kesempatan yang telah lewat. Ia tak punya waktu untuk ‘bergalau ria’ meratapi masa lalunya. Apa buktinya? ***

Pagi itu, ada kabar baik. Lembaga pendidikan masyarakat untuk kaum buta aksara, tunarungu dan tunawicara yang Lias pimpin akan mendapat bantuan dari Provinsi. Tapi, sebelum Lias berangkat ke Provinsi, ia mendapatkan masalah yang cukup pelik – lagi.

“Mas Lias, Rayya (salah satu siswa remaja tunawicara) diancam bapaknya untuk pulang. Bapaknya mau jual dia ke orang – lelaki ‘hidung belang’ – yang dihutangi bapaknya Rayya untuk main judi,” kata Mbak Nina, salah satu pengajar di lembaga pendidikan itu. Terlihat Rayya bicara dengan bahasa isyarat pada mbak Nina. Wajahnya ketakutan, ia menangis. Mbak Nina memeluknya, pandangan matanya penuh harap menatap Lias yang nampak berpikir keras. Lias tahu, seperti apa watak bapaknya Rayya, atau sebagian orangtua siswanya. Jika minta, maka harus. Tak jarang Lias ‘bertinju’ dengan mereka – meski selalu kalah. Tapi, bukan Sulias jika ia tak punya ide.

“Kapan mau diambilnya?” tanya Lias pada Mbak Nina.

“Lusa sore,” jawab Mbak Nina singkat. Dipelukannya, Rayya masih menangis ketakutan.

“Oke. Mbak tenang saja. Jaga Rayya ya, mungkin sampai besok siang saya akan keluar cari bantuan,”
Malam hari, Lias menghubungi Marsya –nama sebenarnya Wasirah, PSK kenalan Lias, “Masya, lusa sore udah ada  janji sama ‘tamu’ belum?” sms Lias.

Masya, Masya! Masya Alloh? Nama gue Marsya, Li, Marsya,” sebal Marsya. “Belum ada kayaknya. Gimana, kamu akhirnya mau menerima ‘servis’ gratis dari aku? Hahaha,”

“Haha, ajiiib. Pengen seh, tapi sama gua seh gak dapat duit – haha. Mau sama yang dapet duit gak?” balas Lias.

“Kamu memang gila, Li – haha. Ya mau lah. Cuma orang bego yang gak doyan duit,”

“Oke. Lusa siang, kamu tunggu di Wisma Sunset ya, yang di dekat pantai itu lho,” kata Lias seperti biasa, tanpa basa-basi.

“Ya tahu lah, itu kan tempat langganan aku,” kata Marsya. “Kalo sama kamu kapan? Haha,” goda Marsya.

“Entar kalo gua udah punya banyak duit,” Lias tertawa.

“Ah, kamu sih dapet duit juga buat anak-anak kamu itu kan? Eh, gimana kabar mereka, masih merindukanku kah? Atau ketuanya nih (Lias) yang merindukan aku? Haha,” dulu, Marsya pernah main dan belajar bersama siswa-siswa Lias di sana.

“Hihi, dasar kamu pinter menggoda,” kata Lias. “Oke dah, entar gua sms lagi ya, buat ngingetin kamu?”

“Oke. Buat kamu sih kapan aja, Li,”

“Kamu memang teman yang baik, Sya – hehe. Makasih banyak ya, assalamu’alaykum..”

“Iya, Li, sama-sama. Wa’alaykumsalam Lias tampan...” kata Marsya, mesra. Marsya merasa pernah diselamatkan oleh Lias waktu diuber Trantib di alun-alun. Berkat alibinya yang lihai, PSK itu tak kena razia malam itu. Lias memang suka jalan-jalan malam. Selain merenungkan banyak hal, ia terkadang menolong banyak orang – salah satunya Marsya. Bisa jadi, dari kebaikannya, pelan-pelan ia tersadarkan. Sakit hatinya pada masa lalu, telah Lias obati di malam itu. Mereka berdialog pendek.

“Rokok, “ Lias menawarkan rokok setelah Trantib membubarkan diri.
Marsya masih ragu, anak muda yang menolongnya itu apakah benar ingin menolongnya, atau menginginkan sesuatu darinya – seperti laki-laki lain. Tapi, ia menerima rokok itu, mengambilnya sebatang, “Makasih banyak ya, “

Lias yang tadinya sudah membalikan badan akan pergi, ia berhenti dalam langkahnya.

“Jangan berpikir yang macam-macam. Tiap orang dilahirkan untuk suatu tujuan. Mungkin suatu saat nanti, kamu bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang, “ Lias memberikan kartu namanya. Di sana tertulis lembaga Anak Berkebutuhan Khusus, yang kelak menyembuhkan luka hati hidup Marsya. Dan dari kisah itulah, mereka saling berteman akrab – tak jarang juga gila.

Entah ini anak muda ada ide apa. Siang itu, Lias menelepon Bapaknya Rayya.

Tuut... Tuutt.. Tutt.. ya, halo? (suara bapak-bapak)

Lias : Halo Om, ini Lias. Mau ngasih kabar tentang Rayya.

Bapaknya Rayya : Ha, Ya! Gimana sudah siap dia? Udahlah, anak bisu gitu percuma ikut-ikut belajar juga.

Lias : Santai Om. Tadi saya sudah bilang ke Rayya buat nunggu di Wisma Sunset nomor 31. Saya bilangnya sih buat sembunyi dari Om, biar dia mau. Lusa sore Om bisa ke sana sama teman Om itu. Rayya pake kerudung coklat. Nanti ketuk pintu tiga kali, itu kode kalo ada orang dari saya yang datang. Om gak usah masuk, biar teman Om aja. Lagian, dia – Rayya – kan bisu. Gak akan berteriak dia.
Bapaknya Rayya : Ya udah. Bagus!

Tut..tut.. (handphone dimatikan darisana)

“Dasar orangtua gobl*k! Anj*ng!” umpat Lias, marah.

Lias mengirim sms ke Marsya, “Sya, lusa siang kamu datang ke Wisma Sunset nomor 31 ya. Tunggu aja sampai orangnya datang. Langsung ‘maen’ juga boleh dah tuh – haha,”

“Hihi, kamu tahu aja. Udah, gak usah bawa apa-apa?” tanya Marsya.

“Ah, iya, hampir lupa. Kamu punya kerudung coklat gak?”

“Iya, punya,”

“Nah, kamu pake itu. kamu pake kerudung, nanti ‘tamu’-nya pake ‘sarung’, jadi kan metcing tuh – hahaha,”

“Dasar gila kamu, Li – haha,”

“Entar langsung aja ke resepsionis, ambil kunci atas nama Sulias LPMTA (Lembaga pendidikan masyarakat tuna-aksara). Oh iya, nanti kalo tamunya ketuk pintu 3x, kamu balas 3x ya,”

“Oke, Li, iya,”

Sekembalinya Lias ke sekolah, ia menceritakan pada para pengajar tentang ide itu. “Nanti besok sore mereka ketemuan. Tapi saya sudah nggak disini, karena mesti ke provinsi. Nah, Roji yang jaga di Pos 1 depan gang, kalau ada bapaknya Rayya atau orang yang berbahaya, langsung hubungi Amir di pos dua. Nanti Amir langsung bantu-bantu siswa sembunyi di rumahnya Pak Haji Kabir (Bapaknya Lias),”

“Siap, Mas, Insya Allah,”

Lias tipe orang yang berpikir efisien. Ketika ia sedang duduk, maka ia hanya memikirkan duduknya itu. Saat ia sedang makan, maka Cuma makanan itulah yang ia pikirkan. Tipe orang yang menikmati hidup, sata itu dan di tempat itu. tipe orang fokus, khusyu’. Begitu juga ketika di bus, berangkat ke provinsi untuk melengkapi persyaratan bantuan sosial sekolahnya. Ia tak memikirkan sekolahnya di dalam bus, karena ia tahu itu hanya akan mengusik kebahagiaannya dalam perjalanan itu. Selama tidak ada sms/telepon dari sekolahnya, ia menikmati saat-saat itu.

Bus berhenti di depan kampus. Dua orang naik, ibu-ibu dan seorang perempuan – mungkin mahasiswa. Kursi kosong tinggal satu di sisi Lias. Seperti yang selalu ia lakukan saat kuliah, diberikanlah kursi nyamannya untuk perempuan itu.

“Mbak turun dimana?” tanya Lias pada perempuan itu.

Si perempuan menunjukan tulisan di buku catatan kecilnya : Terminal.

“Wah, lumayan jauh ya. Silahkan duduk, sama... ibunya ya?” kata Lias lagi.
Ia hanya tersenyum kecil.

Apa dia tunawicara? Lias membatin.

Lias berdiri berpegangan besi di atasnya. Sekitar 30 menit berdiri, ibu-ibu yang duduk di dekatnya berdiri.

“Turun di sini, bu?” tanya Lias.

“Iya,” jawabnya.

“Mari, saya bantu bawa kardus-kardusnya,” Lias memang pantas untuk menjadi kondektur. Rasa peka-nya besar.

Setelah ibu-ibu itu turun, “Em, tadi bukan ibunya mbak, toh?” tanya Lias pada perempuan yang duduk di kursinya tadi.

Yang ditanya tersenyum.

“Jangan-jangan benar, dia tunawicara?” Lias membatin lagi. Ia pun memperagakan bahasa jarinya, bahasa yang biasa ia pakai pada siswa-siswanya yang tunawicara : Mbak tunawicara?

“Eh? Bisa bahasa isyarat juga ya?” kata perempuan itu. Lias mati gaya – malu. “Saya bisa ngomong kok. Maaf ya,”

“Ah, em, nggak apa-apa, nggak apa-apa,” Lias masih kikuk.

“Mas ini guru ABK (anak berkebutuhan khusus) ya?” tanya perempuan itu.

“Lias, nama saya Lias,” ucap Lias memperkenalkan diri. “Iya – hehe,”

“Sepertinya ramai ya, sekolahnya..” ucap perempuan itu lagi. Ia tak memperkenalkan diri. Nampaknya tipe perempuan yang sangat tertutup.

“Alhamdulillah, selalu ramai main sama mereka,” Lias tersenyum.

Lama berbincang tentang sekolah dan anak-anak ABK, bus sampai di dekat gedung gubernur. Ia berpamitan turun, tanpa berkenalan apapun. Tak sengaja, surat undangan dari sisi tas-nya jatuh di bawah kursi. Terkadang, asyiknya bertemu seseorang membuatnya lupa pada banyak hal.

Lias baru sadar ketika sudah menuliskan namanya di resepsionis kantor. Wajahnya berkeringat, takut tak jadi mendapatkan bantuan itu. karena tanpa surat itu, ia tak bisa menghadap Pak Gubernur. Lias pasrah, keluar gedung – membeli rokok dan es campur depan gedung.

Sedang menyeruput es dan menghembuskan asap-asap – rokok – keputusasaan, teleponnya berdering. Nomor tak dikenal.

“Ya, assalamu’alaykum?” ucap Lias deg-degan, setengah takut. Karena hari itu adalah hari bapaknya Rayya menjemput siswa kesayangannya itu.

“Wa’alaykumsalam,” suara perempuan.

Eh? Siapa ini? Lias membatin.

“Mas Lias, ini amplop suratnya jatuh ya di bus. Maaf ya, saya buka barangkali penting,” ternyata perempuan yang duduk di samping Lias saat di bus. Untung, nomor telepon Lias tertulis di sana.

“Ah, ya ampun. Iya, makasih banyak, mbak di mana? Biar saya langsung ke sana,” kata Lias gugup. Keringat bersama asap-asap keputusasaannya membumbung hilang.

“Saya sudah di rumah, tapi mau ke tempat ayah saya, di dekat kantor gubernur,” kata perempuan itu.

“Wah, alhamdulillah kalau begitu. Saya tunggu atau bagaimana?”

“Tunggu saja, boleh,” ucap perempuan itu lagi.

Sekitar 30 menit Lias menunggu, akhirnya perempuan yang membawa surat itu datang. Lias langsung masuk kembali ke kantor, mengingat waktu kerja hampir selesai. Sedangkan perempuan itu – namanya Layla, menuju tempat kerja ayahnya yang ternyata sebuah resto cukup besar beberapa puluh meter dari kantor gubernur. Lias keceplosan berkata akan main ke sana setelah urusannya selesai. Tapi, ketika urusannya selesai, ia menyesal, mengapa ia lancang berkata begitu. Ia tipe orang yang segan mendatangi tempat-tempat mewah. Terlebih lagi, penampilannya lebih mirip berandalan, tak begitu rapi. Tapi, ia tipe orang yang selalu menepati kata-katanya. Dengan langkah separuh segan, ia pun ke sana. Di dekat pintu, ia melambaikan tangan pada Layla yang nampak sedang membantu kasir.

“Eum, apa tak mengganggu saya ke sini?” kata Lias, ragu-ragu.

“Santai saja. Tadi saya sudah bilang ke ayah, ada teman yang mau main,” mereka asyik mengobrol sampai ayah Layla tiba-tiba menghampiri. “Ini yah, yang sudah siap dengan mahar Ar Rahman-nya?” kata Ayah Layla. Suaranya besar, menyurutkan semangat Lias untuk tetap duduk di sana sejenak.

“Eh?” Lias tak mengerti maksud kata-kata ayah Layla.

“Ayah! Kok begitu sih?” sanggah Layla, wajahnya malu.

Ayah Layla tertawa. “Buatkan minuman sana,” katanya lagi. “Anak saya biasanya tertutup sekali sama laki-laki. Ke mana-mana dia bawa catatan, tak mau bicara dengan laki-laki sembarangan,” ceritanya setelah Layla meninggalkan mereka berdua.

Oh, pantas. Lias membatin. Pantas saat di bus dia seperti orang tunawicara.

Layla membawakan minum dan makanan. Melihat itu, Lias reflek melihat isi dompetnya.

Aduh! Tinggal buat pulang! Lias membatin lagi.

Tapi, bermodal ‘gila’ karena memang lapar, ia pun makan. Ia tak peduli dengan apa yang diceritakan ayah Layla tentang anaknya yang sangat tertutup. Selain ia tipe orang yang cuek pada pada orang yang tak membutuhkannya, ia sedang sangat lapar. Ketika prosesi makan selesai, Lias bertanya pada Layla apa maksud ‘Mahar Ar Rahman’. Ia takut, ada kesalahpahaman di antara mereka. Lias memang orang yang selalu rendah diri.

“Ah, enggak. Lupakan – hehe,” kata Layla malu-malu. “Aku bilang ke ayah, laki-laki yang akan meminangku akan memberi mahar surah Ar Rahman dan 99 puisi cinta. Tapi, itu sepertinya Cuma di film-film aja ya – haha,” ucapannya berubah, dari kata ‘saya’ menjadi ‘aku’. Nampak ia semakin terbuka pada Lias.

“Eh, tapi bisa saja. Di luar sana kan banyak ustadz yang hafal surah itu,” kata Lias menanggapi. Tangannya mengusap daerah sekitar mulutnya dengan tisu. “Kalau 99 puisi itu mungkin mudah,”

“Ah masa?” ucap Layla.

“He’eum. Tapi kalau surah ar rahman rasanya butuh waktu deh buat calon suamimu itu. Kecuali dia ustadz,” Lias berkata begitu, karena pengalaman teman-temannya. Ada beberapa teman yang diminta calon istrinya untuk menghafal surah ar rahman, meski tanpa pemahaman maknanya. “By the way, saya nggak punya duit buat bayar,” Lias tak bisa menahan lagi rasa ingin pulangnya. Dia tak betah di tempat seperti itu. Setengah malu, ia berkata,  “Tapi, ini kartu nama saya. Sekali-kali main ya ke sekolah saya. Ketemu sama anak-anak saya, entar insya allah saya bayar di sana – hehe,”

“Ehh.. nggak usah,” jawab Layla. “Oh, mas sudah punya anak ya? Wah, maaf ya kalau saya tak sopan,” kata-katanya defensif lagi.

“Eh? Belum. Maksud saya, siswa-siswa saya di sana – hehe,”

Mereka berpisah. Lias kembali ‘bertarung’ dengan perjuangannya di desa.
Satu bulan berlalu, Roji yang jaga di Pos 1, mengirim sms dari Pos-nya, “Mas Lias, tadi ada cewek cakep nanyain Mas. Katanya mau ke sekolah,”

“Siapa namanya?” jawab Lias cepat. Barangkali teman PSK-nya, ia akan pura-pura sedang keluar.

“Mbak Layla,”

Lias langsung melompat dari kursinya. Prasangkanya berlebihan. Siapa kira perempuan ‘elite’ seperti Layla mau berkunjung ke sekolah kumalnya di dekat terminal.

Sesampainya Layla di sekolah – ia bersama adik laki-lakinya yang masih SMA , siswa-siswa menggoda Lias dengan bahasa isyaratnya : pacarnya Mas Lias ya?

“Huss! Nakal kalian,” reflek Lias bicara. Wajahnya tersenyum malu. Lancang betul kalau Lias menganggapnya kekasih. Lalu dengan bahasa isyaratnya, Lias mengenalkan Layla pada para siswa dan pengajarnya.

Setelah bermain dengan para siswanya, Lias mengajak Layla dan adiknya jalan-jalan di sekitar desa. Ia menceritakan awal berdirinya, susah payahnya mengambil mereka dari orangtuanya yang jahat, tentang POS strategi, juga tentang keluarga sebagian siswanya. Hanyut mendengar, terucap kata tak disadari dari Layla.

“Awesome,”

“Eh?” Lias tak jelas mendengarnya.
***
Dua bulan mereka saling berkomunikasi. Nampaknya mereka saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Belajar dari pengalaman, keterlambatannya datang pada Hani – dulu, Lias pun memberanikan diri.

“Jadi, sudah datang belum laki-laki dengan mahar surah ar rahman dan 99 puisi cinta?” Lias bertanya setengah takut lewat pesan pendek / sms. Ia khawatir lagi-lagi jawabannya : sudah.

“Sudah, tiga hari lalu,” balas Layla.

Jleb! Dada Lias terasa sesak. Untuk kesekian kalinya ia telat lagi.

“Tapi, dia ustadz, aku nggak suka,”

Aneh. Lias membatin.

“Lho, kok? Banyak perempuan dan orangtua menginginkan suami dan menantu seorang ustadz, ini sudah datang dengan surah ar rahman dan 99 puisi cinta, kamu nggak mau?” sms Lias lagi. Dadanya masih terasa sakit sesak : telat lagi.

“Karena aku sudah putuskan akan dengan laki-laki lain yang aku suka,” balas Layla lagi.

“Siapa????” balas Lias. Jarinya gemetaran mengetik sms.

“Kamu,”

Zssrrhhhh............

Serasa ada angin sejuk yang berhembus di kamar Lias. Ia tipe seorang pemikir yang katanya sudah mencapai ‘kebahagiaan’ : ketenangan konstan. Tapi kali ini, pemikiran itu harus hanyut. Mengalir dalam derasnya perasaan yang bergejolak dalam diri. Dada yang tadinya sakit sesak, kini bertambah sesak. Untung saja tak langsung sekarat. Ia belum percaya dengan apa yang ia baca di layar henponnya. Ada perasaan yang begitu dahsyat di malam itu. Membuatnya tak bisa berpikir, berkata, imajinasinya melesat terbang ke langit malam berbintang.
 (Senin, 30 Juni 2014)
***
(1)
Ar Rahman,
Kasih yang tak pernah putus dari-Nya
Berhembus, mengalir pada jiwa-jiwa yang mulia
Bersandar, di ujung muara samudera,
Cinta
                Kini ku tahu ayat-Nya : Marojal bahroini yal taqiyan
                Baynahuma barzakhu la yabghiyan
                Tuhan mengalirkan takdir kita berbeda, jauh, dan terbatasi
                Untuk satu titik tujuan ini : kita menyatu di disini
(2)
Alamal qur’an
Ia mengajarkan ilmu-Nya pada manusia paling mulia
Muhammad ibn Abdullah yang sangat mencintai umatnya
Berjuang, berkorban untuk kita hingga nafas terakhir
Membuat Jibril dan Izrail menangis getir
                Fabiayyi alaa i robbikuma tukadziban
                Akhlak yang terpuji membuatnya dicintai dunia
                Hanya hati-hati sakit yang menolak dan membencinya
                Bersholawatlah, kasihku, agar kita dan ia tetap saling cinta
(3)
Kholaqol insan,
Ia menciptakan manusia
Berpasang-pasangan seperti bulan dan bintang
Berbeda waktu dan jarak di pagi hari yang cerah
Lalu bertemu saling menatap di malam hari yang gelap
                Asyamsyu wal qomaru bihusban
                Matahari dan bulan beredar menghitung hari
                Lelah kaki ini yang telah melangkah jauh tersesat
                Ketika saat itu datang, kita kan saling mendekat, erat
(4)
Wa wadlo’al mizan ‘alla tathghow fil mizan
Keseimbangan tercipta dalam jalan hidup kita
Ditinggikan dan Ia jauhkan
Agar terlindung dari nafsu hina yang diam-diam
Menyempurnakan akal dan hati dalam satu tujuan : Tuhan
                Wal ardlo wadlo’aha lil anam
                Bumi ini dibentang-hamparkan oleh-Nya
                Agar aku, engkau, kita saling berjalan
                Tertakdir bertemu, dan saling berkenalan
(5)
Wal habbu dzul’ashfi warroihan
Benih-benih cinta Ia jaga di dalam hati manusia pilihan
Harum mewangi menghiasi lisan dan tindakan
Kebingungan Ia tanamkan dalam pikiran
Agar kita tak tergesa menentukan jawaban
                Fabbi’ayyi alaa irobbikuma tukadziban
                Maka bersyukurlah untuk waktu yang ditentukan
                Bersabarlah, dan jangan menyerah
                Apa yang telah ditakar-Nya tak akan pernah berubah
(6)
Wasamaa’a rofa’aha wawadlo’al mizan
Ia-lah yang meninggikan langit tanpa tiang
Seperti cinta yang membuat manusia mabuk meski tanpa khamr
Membuat seseorang melayang tanpa sayap
Dan membuat seseorang terbunuh meski tanpa menancapkan pedang
                Yakhruju minhuma lu’lu’u wal marjan
                Darinya, cinta, keluar manusia-manusia terpuji
                Menyinari dunia dengan kerja keras dan akal budi
                Tak berpamrih bak terang mentari pagi hari
(7)
Walahul jawaril munsya’atu fil bahr
Seperti kapal-kapal yang berlayar di lautan
Jauh terbawa ombak berpetualang
Keluar dari masing-masing dermaga pelabuhan
Menuju satu tujuan pemberhentian, kerinduan
                Kullu man alaiha fan
                Kebinasaan adalah kepastian seluruh makhluk
                Tapi bagi mereka yang dihidupkan oleh cinta-Nya
                Kematian hanyalah satu pintu menuju kebahagiaan yang lebih besar
(8)
La tanfudzu illa bi sulthon
Tak dapat ditembus kemurnian kasih-Nya
Tangan-Nya menjadi tangan kita
Mata-Nya menjadi mata kita
Kecuali oleh kekuatan iman, cinta, dan ketaatan total
                Fa idza syaqotisama’u
                Dan sebelum langit terbelah pecah
                Ketika tak seorangpun sanggup menolong yang dicinta
                Persembahkanlah diri ini hanya untuk Ia
(9)
Wa limankhofa maqoma robbihi jannatan
Untuk mereka yang takut kehilangan cinta-Nya
Disediakan dua surga yang bertetangga
Kesana, manusia merangkak, berjalan, atau berlari melewati jembatan-Nya
Dan aku kan terbang memelukmu melintasi itu
                Fiihima ‘ainani tajriyan
                Dua mata air yang menyegarkan memancar
                Seperti janji yang rasulullah katakan
                Untuk mereka yang tegar, disiapkan telaga al kautsar

(puisi selanjutnya di tema : Mahar Ar Rahman dan 99 puisi cinta)

Baca ini juga ya, teman...

Unanswer 4 : Pengantinku                                                                     Puisi Ar Rahman     

No comments:

Post a Comment