Sahabat - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, September 21, 2014

Sahabat

Sahabat sejati itu seperti kesehatan. Nilai yang ada di dalamnya jarang diketahui sampai kita kehilangan itu._Carles Caleb Colton_

Tadi malam telekonfren dengan mereka. Messa ada acara, dia Cuma mengobrol sebentar, lalu henponnya tak bisa dihubungi – mungkin lagi nge-date sama tunangannya (hihi). Cuma Nyaz yang tadi malam tersambung. Sahabat yang lain mungkin masih sibuk.

Malam itu kami berdua bercerita tentang perjuangan hidup. Keren, luar biasa, aku tak menyangka Nyaz mengerti apa yang ku maksud dengan teruslah bekerja keras – dalam doktrin (abal-abal,hehe) yang sering aku ucapkan. Dia bercerita, mungkin satu bulan lalu, dia dijodoh-jodohkan oleh teman guru yang memiliki anak seusianya. Yang membuat aku berdecak kagum adalah upayanya menjemput jodoh. Ah, aku belum bercerita ya, tentang tangan yang terkepal?

Rezeki (jodoh) itu terkadang ibarat mendapatkan pemberian buah-buahan. Tangan yang terkepal, tak akan bisa menerima apa-apa. Tangan yang terkepal, membuat orang ketakutan. Buka tanganmu, dan terimalah. Jika kita tahu bahwa buah itu terlalu muda, asam, atau kita tak doyan, kembalikan buah itu dengan pelan-pelan, tetap santun. Mungkin kita menginginkan apel, tapi yang kita dapat adalah mangga. Kita menginginkan buah yang matang, merah, tapi justru yang datang adalah hijau. Matang atau mentah, kita adalah kokinya. Kita bisa saja menolak buah yang matang, dan memilih yang mentah. Tapi tak perlu kita khawatir, matang atau mentah, sekali lagi, kita-lah kokinya. Buah yang mentah, yang kita tolak itu, ketika matang akan banyak yang menginginkan – tak perlu merasa bersalah selalu. Atau mungkin kita adalah orang yang senang menunggu buah mentah itu menjadi matang – barangkali kita adalah orang yang sabar menanti waktu. Atau kita bisa meraciknya menjadi masakan atau makanan yang enak dan menyenangkan banyak orang, meski itu buah mentah.

Jutaan nutfah berlarian menuju ovum yang satu. Jodoh mungkin seperti itu. Bedanya, saat itu kita mungkin tak bisa memilih bebas – ia yang tercepat dan kuat-lah yang menang. Sedang saat ini, kita selalu bisa untuk menolak, bahkan nutfah-nutfah terunggul, dan memutuskan menerima ia yang membuat kita hidup. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen. Menerima buah itu sebenarnya mudah. Jika kita menginginkan mangga, tapi yang kita dapat adalah apel (yang lebih daripada yang kita inginkan), buka tanganmu, terima, lalu berterima kasihlah – bersyukur dan syukuri itu. Menolak pemberian yang baik, seringkali tak baik. Tapi, sekali lagi, kita-lah kokinya.

Lanjut cerita Nyaz. Dia bekerja keras untuk menjemput jodohnya. Keren. Dua teman gurunya mengenalkan dia dengan anak-anaknya. Tapi, yang satu anak mamih dan satu lagi tua-tua alay. Dia sempat galau dan berdebat dengan ibunya, yang menginginkan dia untuk segera menikah. Dia menolak mereka, tentu, dengan santun. Tapi, sekalipun dengan santun, ibu si anak mamih itu sempat menakut-takuti, bahwa ada seorang guru di sekolah dia yang sampai usia 50 tahun belum menikah : karena terlalu memilih. Aku bilang, ini hidup kita. Tidak akan terjadi apa yang orang lain katakan, selama kita tak mengizinkan itu terjadi. Selama kita tak terpengaruh oleh mereka.

Sering aku berpesan, jangan menutup diri. Tuhan selalu memberi jalan, kita tinggal melaluinya saja. Skenario-Nya tak hanya satu atau dua cabang, tapi jutaan, bahkan milyaran. Sayang sekali aku belum membuat desain Serabut Takdir dalam bentuk Jpg. Hasil perenunganku tentang jodoh. Intinya, jika misalnya, di Bumi ini ada 1 milyar laki-laki lajang dan ½ milyar laki-laki duda, perempuan lajang punya kesempatan untuk menikah dengan salah satu di antara mereka, siapapun. Persoalannya ada pada qadar atau kapasitas. Siapa yang menjadi kapasitasmu. Dan seberapa keras upayamu, yang tanpa menyerah kalah itu. Dan ungkapan, perempuan di usia 25 ke atas itu sudah susah mendapat jodoh yang diinginkan, ITU MITOS. Tapi bisa saja itu terjadi, jika kita (perempuan) percaya dengan itu, dan mengizinkan itu terjadi : tanpa melawan dengan upaya yang terus menerus.

Setelah galau, berdebat dengan ibunya sampai bercucuran air liur (haha :p ), bercucuran air mata, Nyaz mendapatkan apa yang ia upayakan : calon suaminya sekarang. Ia katanya orang Jawa juga (Purwokerto, gitu ya?he). Kabar terakhir, katanya dia sudah main ke rumahnya, berbincang dengan orangtua Nyaz. Its awesome! Kami, para sahabatnya, akan terus mendoakan kebaikan untuknya, dan untuk sahabatku yang lain.

Em, ada kisah yang sama kerennya, yaitu kisah cinta Messa dan Sovi sampai mereka menemukan calon pendamping hidupnya saat ini. Jika Messa melewati perjalanan cintanya dengan luka parah, sakit hati, dan cucuran air liur (haha, lagih!), cucuran air mata, kisah Sovi lebih mistis, tak masuk akal – menurut mereka. Haha, tapi, mungkin di tulisan selanjutnya saja, yak? :P
***

Semalam menjemput kakak ipar di stasiun. Saat makan, sebelum pulang dari stasiun, beliau tanya-tanya tentang sekolah. Dapat siswa berapa?

Aku ceritakan, tahun ini kami sombong, mengira dengan diadakannya pentas seni dan pertunjukan besar-besaran (total habis 7 juta), akan menarik orangtua siswa menyekolahkan anaknya di sekolah kami. Ternyata tidak. Tahun ini, isu yang dihembuskan masyarakat yang tak menyukai sekolah itu adalah, bahwa sekolah akan pindah ke belakang, kandang sapi dan kandang ayam (haha). Memang benar, kami pindah ke belakang. Tapi kini sudah bisa pakai, meski belum layak. Dan hanya untuk kelas atas (4, 5, 6). Kami dapat sepuluh siswa kelas satu, tiga siswa kelas dua – pindahan, dan dua siswa kelas 4 (pindahan), dan satu siswa kelas 5 (pindahan). Satu siswa kelas satu, dia lemah otak, usianya sudah 9 tahun, tapi masih kelas satu. Orangtuanya bekerja sebagai penjual es keliling. Dua siswa, kakak-beradik, orangtuanya memulung, rumahnya terbuat dari bambu, dengan tempelan karung dan kardus untuk jendela. Satu siswa, ibunya bahkan tak tahu dia anak siapa, bapaknya siapa. Ibunya tersebut, bekerja sebagai pengemis di terminal. Aku tidak sedang bercerita fiksi. Ini kisah nyata. Aku pikir, Tuhan kok betah benar bercanda denganku. Siapa aku diberikan tanggung jawab begini? Anak yang lemah otak itu, jika aku tak membekalinya sampai ia lulus nanti, akan jadi seperti apa masa depannya? Tak akan ku lepaskan tangan-tangan siswaku yang lemah, apapun yang terjadi. Tugasku kini menumpuk-menggunung. Fasilitas sekolah secara keseluruhan, pembinaan guru, pembinaan masyarakat, mendidik anak agar mereka berpikir mandiri, agar mereka keren, dan siap menghadapi zaman. Who am i?
***
Terakhir, karena ini hari ulang tahun salah seorang sahabat muda, aku buatkan sebuah puisi...
Tanpa kesalahan, apa jadinya dunia ini
Manusia seringkali memahami
Betapa buruk dirinya
Ketika ia telah teranggap salah

Tapi ia yang mengerti bahwa ia salah
Bahwa ia buruk
Adalah orang yang benar
Dan orang benar yang baik adalah ia yang selalu memperbaiki diri

Kita belajar dari hujan
Bumi tan pernah menolaknya
Meski membuatnya basah
Meski membuatnya tenggelam

Tapi, tanpa hujan bumi kan mati
Terbasahi dan tenggelam hanya satu fase kehidupan
Bahwa apa yang indah di hari esok
Pasti datang karena kekacauan di hari sebelumnya

Tidak ada keindahan yang datang sendiri tanpa kekacauan
Tidak ada kebahagiaan yang datang sendiri tanpa penderitaan
Tidak ada hujan yang datang tanpa kabar
Semuanya berpasangan hanya terkadang kita tak paham

Berpikirlah gagal, maka itulah yang akan kau dapatkan
Berpikirlah kau matahari, maka kau akan bersinar
Berpikirlah kau bintang, maka kau akan tinggi dan menemani kesunyian malam
Berpikirlah cerah, maka kau akan mewarnai banyak orang

Bermimpi memang menyenangkan
Tapi sebelum bermimpi, kita menghadapi kenyataan
Hidup,
Separah apapun jalan yang kita tempuh

Jangan menyerah,
Tak ada jalan yang terlalu jauh jika kita tak berhenti melangkah
Dan tak pernah mengeluh
Tak ada mimpi yang terlalu bodoh
Selama itu hanya milikmu, milik setiap kita
Berpikirlah baik, maka kebaikan adalah dirimu

Minggu, 21 September 2014

No comments:

Post a Comment