Air mata-air mata yang tersenyum (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, October 5, 2014

Air mata-air mata yang tersenyum (esai)

*Untuk teman-temanku

Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, agar kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang...

Kenyataan – pahit – yang akan dirasakan oleh setiap anak muda adalah, bahwa mereka tak akan selalu muda. Kekekalan tak terizinkan di dunia ini. Bahwa mereka, anak muda, cepat atau lambat harus menerima, bahwa kehidupan harus terus berjalan. Dari masa muda yang penuh gairah petualangan, menuju tahap selanjutnya, yaitu berkeluarga, membina istri dan anak-anak, membangun dunia. Tentu, kita, mereka, tiap anak muda yang pernah mengalami jatuh cinta yang begitu manis – namun gagal, tak akan bisa merasakan kenikmatan cinta yang sama dengan orang yang berbeda. Tapi, tentu saja, kita selalu bisa untuk memulai kembali. Memulai lagi rasa cinta yang baru dengan seseorang yang menjadi jodoh kita.

Jangan takut, jika kita adalah orang yang mendahulukan kebaikan, maka kebaikan kita akan menolong saat keburukan nasib datang, sebagai akibat keburukan yang kita lakukan di masa lalu. Tidak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Kesalahan akan menjelma ujian hidup, kebaikan akan menjelma menjadi solusi dan kebijaksanaan. Kebaikan dan keburukan, hidup dan mati, keberuntungan dan kemalangan, adalah satu. Seperti langit dan bumi. Kita berjalan di atas bumi – kebaikan, tapi tak jarang kita tertimpa hujan : kemalangan nasib. Karena, tanpa rasa sakit manusia menjadi tak layak menerima kebahagiaan. Tanpa dosa, manusia tak layak memasuki surga : setelah terbersihkan di neraka.

Hidup ini seringkali adalah permainan yang menyenangkan. Tentang rezeki dalam hal jodoh, seseorang yang menjadi rezeki mata kita, belum tentu menjadi rezeki hati kita. Ia yang menjadi rezeki hati kita, belum tentu menjadi rezeki jiwa/diri kita. Jikapun telah menjadi rezeki kita, bisa saja di tengah perjalanan ia terlepas – cerai, sebagai bukti bahwa ia bukan rezeki kita selamanya. Ia yang menjadi rezeki kita tahun ini, belum tentu menjadi rezeki kita tahun depan. Ia yang menjadi rezeki kita di sini, belum tentu juga menjadi rezeki kita di sana. Dan tak jarang, yang menjadi rezeki kita adalah orang yang sebelumnya belum/tidak kita cintai sama sekali. Tentu, kita mungkin tak bisa mencintainya sebesar cinta kita pada seseorang yang kita cintai di masa lalu. Tapi, kita selalu bisa untuk memulai lagi, mengawali kembali. Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh perlahan dari kebiasaan berkasih sayang. Pelan-pelan tumbuh, karena di sana, seperti pohon yang tumbuh, akan ada angin dan ujian lain yang akan menguatkan. Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, agar kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Seperti ketika pertama kali kita jatuh cinta, keraguan, posesif, kekhawatiran akan singgah di hati tiap kita yang mengawali cinta kembali. Ia yang menjadi jodohmu, adalah ia yang membuatmu tenang, tenteram, dan saling berkasih-sayang sampai ajal datang. Saling berkasih-sayang, bukan hanya saat masih bergairah, tetapi juga ketika kulit mulai berkeriput, dan hidup mulai terasa tak ada artinya lagi : kerinduan pada surga. Dan manusia spesial, adalah ia yang telah masuk dalam kondisi hati ikhlas. Ia mudah jatuh cinta, juga mudah untuk merelakan. Mesra bagai burung merpati, mudah melepaskan seperti hulu yang mengalirkan buih.

Air mata-air mata yang tersenyum

Apa yang indah dalam pandangan mata
Tak selalu sama untuk hati manusia
Keburukan dan kebaikan
Seringkali tergantung dari mana melihatnya

Sedang menunggu apakah manusia?
Rezeki harta dan tahta,
Jodoh yang tak kunjung datang,
Ataukah kematian?

Berdoalah seperti anak penggembala
Tuhan, terima kasih atas kesempatan hidup yang indah ini
Dan maafkan aku,
Jika terlalu banyak hal yang belum aku syukuri di hari yang indah ini

Mentari bersinar di ufuk timur
Menerangi jalan mereka yang berjuang
Bintang-bintang malam tersebar
Menemani kesepian mereka yang tak kunjung menemukan jawaban

Manakah yang lebih indah,
Bintang-bintang di angkasa
Pelangi yang menghapus kesedihan hujan,
Atau senyumanmu?

Tak akan ada air mata yang terjatuh
Tanpa rasa takut akan kesepian
Tanpa datangnya kesedihan yang mendalam
Tanpa kebahagiaan yang menyapa tanpa salam

Tak akan ada air mata kesedihan
Tanpa harapan yang tiba-tiba menghilang
Tanpa impian yang terpaksa harus ditinggalkan
Tanpa takdir yang terkesan kejam

Tak akan ada air mata sia-sia
Jika manusia mampu mengendalikan keinginannya
Jika manusia mampu menjadi tuan atas dirinya
Jika manusia paham sebatas apa yang mampu dilakukannya

Tiap air mata akan terhitung
Tiap tetesannya akan tercatat
Menguatkan, melegakan
Mengubah kegelapan pikiran menjadi penerimaan

Tersenyumlah seperti air mata-air mata itu
Yang keluar menenangkan hatimu
Menyadarkan,
Bahwa perjuangan tak selalu berakhir kemenangan

Tersenyumlah seperti air mata-air mata itu
Yang mengalirkan kesedihan jiwa yang rindu
Menyadarkan,
Bahwa manusia hanya mendapatkan apa yang digariskan

Tersenyumlah seperti air mata-air mata itu
Yang menghentikan rasa sakit kekecewaan
Sebagai teman siapa saja mereka yang rapuh
Menghidupkan kembali jiwa yang sejenak terbunuh

Tersenyumlah seperti air mata-air mata itu
Menjadi manusia yang bebas
Menjadi diri yang mudah mencintai seseorang
Dan mudah merelakan ketika apa yang dicintai itu pergi

Tersenyumlah seperti air mata-air mata itu
Bersyukur pada tiap cinta yang datang
Dan mudah melepaskan tanpa rasa enggan
Tersenyum mengucap selamat tinggal 

No comments:

Post a Comment