Menikah itu... biasa saja, - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, October 23, 2014

Menikah itu... biasa saja,

Sejenak, rasanya rindu sekali mengenang saat aku kecil. Ada rasa yang begitu memaksa dan menjerat hati, untuk semisal bertanya pada ibu, "Ma, apakah saat aku bayi dulu, tangisanku begitu keras?" dan saat beliau berkata, "Ya, tangisanmu merepotkan. Sampai kamu SD, apa yang kau minta harus terpenuhi," lalu akan ku jawab, "Hehe, maafkan aku, Ma,"

Sejenak, aku ingin mengenang kembali saat aku mulai belajar berjalan. Saat tangannya terbuka, menyambut kedatanganku yang tertatih. Atau ketika kakak laki-lakiku yang kami sering adu argumen tapi menyimpan kerinduan yang malu-malu disembunyikan. Saat ia menggendongku ke mushola, karena aku tak punya sandal.

Tangisan keras itu, membekas kuat hingga saat ini. Si bungsu yang manja itu, menjadi seorang pemuda yang sangat keras kepala ingin mengubah dunia. Meskipun, ia sangat paham, bahwa, selain bukan dunia-lah yang harus ia ubah lebih dulu, melainkan dirinya sendiri. Juga, kenyataannya, tujuan terkadang membutakan pandangan. Tujuan menyesatkan manusia dengan sangat lembut, seperti pelukan ibu kita ketika kita belajar berjalan dahulu. Setiap manusia dipaksa melakukan perjalanan. Mulai saat kita berwujud ruh, menunggu dengan batasan waktu yang tak tentu. Kemudian, dari ruh itu mewujud menjadi satu nutfah yang juga melakukan perjalanan, bahkan, berlari menuju satu tujuan. Lalu Tuhan pun, melalui lisan Muhammad Sang Terpuji, meminta manusia untuk menengok kisah kehidupan manusia-manusia sebelumnya. Lakukanlah perjalanan, dan perhatikanlah bagaimana akhir kehidupan manusia-manusia yang tak pernah mau belajar, dan membuka pikirannya.

Dan akhirnya, aku pun pada akhirnya akan memulai perjalanan yang baru. Bersama seseorang yang telah terpilih menjadi penyempurna ruh-ku. Seseorang yang selama ini menemani tidurku, mendongengkan kisah-kisah heroik para sesepuh, akan tergantikan olehnya. Rasanya seperti seorang muda yang cengeng, yang tak mau jauh dari ibunya. Tapi, demikianlah aku. Dan akan menjadi seperti ini, menjadi diri sendiri, hingga akhir waktu. Sangat lebih baik menjadi diri sendiri yang terhina, daripada menjadi oranglain untuk mendapatkan penghormatan atau pujian. Kabarnya, buah mengkudu sebelum tahun 90-an, tak ada yang menyentuhnya kecuali nenek-nenek desa yang meracik obatnya sendiri. Buah bau dengan penampilan mengerikan, siapa yang akan mendekat? Tapi, pace tetaplah pace. Ia tak lantas menjadi apel atau jeruk agar orang-orang mendekatinya, memakannya. Lalu, waktu pun berubah. Kini buah yang mengerikan itu menjadi bahan andal untuk mengobati penyakit dan menambah stamina tubuh.

Kopi hangat semalam, tak akan terasa sama di esok harinya. Segala sesuatu ada batas waktunya. Apa yang manusia benci saat ini, bisa jadi suatu saat ia akan sangat membutuhkannya. Sebaliknya, seringkali apa yang kita cintai adalah sesuatu yang membutakan kesadaran. Maka, jatuh cinta-lah, tapi jangan berlebihan. Jangan terlalu cinta, jangan juga terlalu benci. Hati manusia seringkali berganti posisi. Terkadang di kepala, suatu saat di dada. Saat di kepala, kita membencinya dengan logika. Saat di dada, kita mencintainya dengan rasa. Katakanlah pada mereka yang membencimu : Bencilah aku, maka aku akan semakin mencintaimu. Bukan karena aku ingin memilikimu, tapi karena kesadaranku. Bahwa disini, di hati ini, sudah dan hanya ada cinta.

Dan demikianlah kehidupan. Berawal dari tangisan. Lalu melakukan perjalanan. Tiap manusia harus memeliki tujuan agar tak tersesat, namun ambisi terkadang jauh lebih mengkhawatirkan. Dan berakhir dalam pelukan – bumi. Sehangat pelukan ibu saat kita belajar berjalan dulu, demikian pula di dalam sana. Ketika segala hal terputus, kecuali kebaikan.

Dan kau tahu, sahabatku, siapa perempuan itu? She is my lovely sister. Happy wedding. ^_^

No comments:

Post a Comment