Sungguh, Aku ini Tuhan... - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, October 25, 2014

Sungguh, Aku ini Tuhan...

Kini Jon percaya, bahwa segala sesuatu memiliki batas. Termasuk, pikiran dan kapasitas kesabarannya. Ia tak lagi hidup dengan berbagai label. Ia telah melepas kembali pada Tuhannya predikat kepala sekolah dan guru sekolah. Ia kini hanya menjadi penggembala kambing. Setelah surat pengunduran dirinya diberikan, ia membeli sepasang kambing untuk ia pelihara. Jadilah ia benar-benar seorang gembel.

Jon depresi.

Entah dia kesurupan jin apa, di hadapan kambing-kambingnya ia berkhotbah.

"Sungguh, Aku ini Tuhan," kata Jon di hadapan wajah dua kambingnya. "Tapi jangan kau sembah aku, sembahlah Tuhan, Allah,"

Ia berdalih pada dirinya sendiri, bahwa ia sedang dalam dakwah secara sembunyi-sembunyi. Tiap pagi dan sore ia menemui kambing-kambingnya, untuk memberi makan dan mencerahkan mereka. Menyeret mereka dari kegelapan pikiran menuju cahaya. Minal dzulumati ilaa nuur...

"Akulah yang memberi makan padamu, tapi jangan kau sembah aku. Sembahlah Allah," katanya. "Sungguh, aku ini Allah. Tapi jangan kau sembah aku, sembahlah Allah. Aku adalah apa saja yang kau kira menenangkanmu, memberimu kenyamanan, kemudahan, kesenangan selain Allah. Aku adalah yang kau kira sebagai penolongmu, sumber pemikiran dan kebanggaanmu, kekayaan, kehormatan, pujian, segala apa yang kita harapkan dalam hidup ini selain Allah. Aku adalah berhala yang Ia ciptakan untuk mengujimu, mana yang akan kau pilih, jalanku yang mudah tapi salah atau jalan-Nya yang berat namun benar?"

"Hmbee..." jawab kambing-kambingnya.

"Tiap tiap keluarga, masyarakat, umat, diutus seorang rasul (utusan) untuknya. Dan akulah  rasul untukmu, kambing-kambingku. Aku tidak gila, engkau saja yang tak memahami apa yang ku lihat tentang dunia ini," khotbah Jon lagi.

"Hmbee.e.e.e..."

"Jangan percaya apa yang kau lihat, karena seringkali kau bisa melihat setelah kau percaya. Hiduplah penuh kesadaran sebagai kambing, jangan kau penuhi hidupmu dengan ambisi, keinginan. Karena umat-umat terdahulu dibinasakan karena keinginan yang memaksa jiwa mereka. Tetaplah tenang, sabar, saat kau berada dalam masalah, kau tahu aku tak pernah meninggalkanmu,"

"Hhmbee.e.e.e.."

"Ya, katakan itu, hmbee.e.e.e, ketika kau melewati orang-orang bodoh. Saat kau bersama orang-orang yang berhenti mencari Tuhannya, membuka pikiran bahwa sebenarnya begitu dangkal pemikiran manusia. Jangan marah, maka kau akan mendapatkan ketenangan, surga,"

"Hmbee.e.e mbee..e.e.e,"

"Berimanlah pada Allah dalam segala kerumitan hidup. Dan taatlah padaku, karena aku tak menghendaki kesulitan dalam hidupmu, dan tak akan menyesatkanmu. Kerumitan Allah masukan dalam pikiran dan hati, karena di sini, di hati kita, Ia tak lagi ada. Ingatlah Ia sebanyak-banyaknya, sepanjang hari. Datang kemudahan atau kesulitan, tetaplah tenang,"

Jon memberikan rumput pada kambing-kambingnya sebelum ia meninggalkan mereka karena malam telah datang. Ia mungkin memang depresi, tapi sesinting apapun dia, Jon sadar bahwa yang dibutuhkan pertama kambing-kambingnya adalah makan, dan pengajaran.

No comments:

Post a Comment