Apa yang salah? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, November 1, 2014

Apa yang salah?

Persoalan, seringkali tak terletak di luar diri kita. Melainkan di dalam, di hati dan pikiran kita sendiri. Terkadang, kebahagiaan adalah tentang bagaimana kita mengendalikan apa yang memang benar-benar berada dalam jangkauan kita, apa yang benar-benar kita kuasai.

Seorang adik mahasiswa mengirim sms sore-sore, bertanya tentang kabar, lalu langsung pada tujuan mengapa tiba-tiba ia mengirim sms. Bagaimana mengendalikan rasa sakit – perasaan – agar tak berpengaruh buruk pada fisik dan tindakan. Ia membaca buku kumpulan esai-ku. Dasar, bukannya baca quran, malah baca buku menyesatkan begitu. (hehe)

Beberapa hari lalu, kakak perempuanku yang baru saja menikah bertanya, mengapa setelah menikah justru ibadah ruhiah menurun semangatnya? Apakah memang yang harus didahulukan adalah keinginan suami, atau Tuhan?

Satu hal yang seringkali tak kita kenali dari diri kita sendiri adalah, bahwa pikiran selalu mengarah pada pertanyaan meragukan : apakah ada yang salah? Mengapa begini?

Pikiran tak pernah berhenti bertanya. Jika dalam kondisi nyaman ia mempertanyakan kenyamanan itu. Jika dalam kondisi rumit, ia juga mempertanyakan itu. Pada akhirnya, hidup ini enak bagi mereka yang bersyukur. Dalam kenyamanan ia bersyukur, menikmati, tapi tak berlebihan/melebihi batas. Dalam penderitaan ia juga tetap bersyukur, tersenyum, dan terus berjuang dalam ketenangan diri. Ada yang bilang, surga adalah suatu kondisi yang menenangkan. Bukan tidak ada kesusahan/penderitaan, melainkan orang-orang yang dalam kondisi itu tidak merasakan bahwa mereka sebenarnya berada dalam kesusahan/penderitaan. Aku menyebut mereka, orang-orang putus asa yang tak pernah menyerah. Orang-orang gila.

Persoalannya, manusia sebaiknya selalu mengawali dari pikiran. Merapikan pemikirannya, bahwa apa saja yang baik akan menjadi buruk jika dipikirkan secara salah. Ujian kehidupan itu buruk, berat, merepotkan, jika kita berpikir demikian. Sebaliknya, ujian kehidupan adalah baik, tepat, sesuai, jika kita berpikir juga demikian. Bahwa ujian hidup datang untuk mendewasakan. Bahwa rasa sakit kekecewaan itu menguatkan mental, memberanikan jiwa untuk hidup lebih tegar.

Lalu, apa yang salah dalam kehidupan ini?

Kita ditinggalkan kekasih, misalnya, kehilangan mimpi, gagal ujian beasiswa luar negeri, tertipu bisnis, kehilangan seseorang yang dicintai, terhina, terfitnah, apa yang salah? Bukankah kehidupan memang demikian adanya? Jika tak mau menghadapi itu, maka jangan hidup. Dan kita akan merasakan bahwa hidup ini menyenangkan, nikmat, ketika sekarat datang. Maka jangan heran, dalam kitab-kitab suci, banyak manusia yang ketika sekarat berjanji pada Tuhannya, akan berbuat kebaikan jika dikembalikan lagi dalam usia muda/sehat. Bukankah begitu, kita akan merasakan betapa berharganya sesuatu/seseorang justru ketika itu tak ada di dekat kita lagi?


Nikmatilah rasa sakit – hati, karena itu hanya satu fase dan itu mendewasakan pikiran. Tak ada yang tetap dalam kehidupan ini. Segala hal berubah dengan begitu cepatnya. Iman, semangat, uang, atau apapun dalam hidup ini, semuanya naik-turun. Ada saatnya kuat, ada kalanya lemah. Ada saatnya kita bersemangat tinggi, ada kalanya kita lelah. Bukankah itu wajar, bahwa kita tak akan selalu di atas / di bawah roda kehidupan? Hadapi, dan tetaplah tersenyum tenang. Paling tidak, itu yang aku lakukan dalam setiap rasa sakit yang datang.

2 comments:

  1. hidup yang paradoks, hidup yang sederhana namun jadi rumit karena manusia berpikir begitu..
    ijin share ya kang... :)

    ReplyDelete