Episode Baru 1 - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, November 23, 2014

Episode Baru 1

Pertama, tentang pernikahan sahabatku akhir Oktober lalu.

Pernah aku katakan, ia adalah seorang sahabat yang paling berat cobaannya dalam hal cinta. Putus-nyambung berkali-kali dengan beberapa pria. Itu wajar, karena bagi mereka yang suka belanja, begitu banyak baju yang terlihat cocok, namun ternyata mengecewakan. Ya, hehe, sebagian orang dengan tak sadar membendakan cintanya. Tapi, pada akhirnya sahabatku itu sadar. Ia memilih untuk bertahan, sabar, dengan lelaki yang akhirnya menjadi suaminya. Tangisannya pun berbuah hasil yang setimpal. Aku turut senang.

Aku lebih suka fasilitas MIRC, chatting, daripada Facebook, dalam beberapa segi. Karena, ada rasa penasaran yang besar, ketika kita berkenalan hanya lewat tulisan. Seperti bermain puzzle. Siapa namamu, dimana alamatmu, kerja/kuliah, apa hobimu. Di sana, ada dialog, komunikasi, chemistry yang tersambung bukan karena hal-hal bendawi/materialistik. Sebaliknya, Facebook menjadikan kita begitu materialistis. Kita lihat foto profilnya, apakah ia tampan/tak begitu tampan, berkulit cerah/gelap, apa background fotonya : mobil, rumah besar, airport, whatever hal-hal materialistik lainnya. Jika menurut kita penampilannya buruk, kita tak menanggapi sapaannya, tak mau berkomunikasi dengannya seperti berkenalan dengan teman baru. Materialis individualistik.

           Sebelum aku pulang dari Bandung, Yanti datang ke kosan adik kelas – aku menumpang di sana. Kami mengobrol banyak. Intinya, kita tak mungkin selamanya seperti itu. Muda, bebas, tak terikat waktu dan tanggung jawab di rumah kita masing-masing. Yap, mungkin itu cukup menyakitkan, untuk mereka yang menikmati masa muda tanpa kesadaran bahwa kita akan meninggalkannya. Ada dunia baru, episode baru, yang harus kita alami, kita lewati. Hingga pada akhirnya, kita sampai pada episode terakhir : kematian. Lalu apa yang dikatakan Gandhi pun rasanya kita menginginkannya. Saat aku terlahir, aku menangis dan orang-orang tersenyum. Dan ketika aku mati, biarlah orang-orang menangis, dan cukup aku yang tersenyum.

            Dia banyak bercerita, tentang pernikahan, tentang tanggung jawab keluarga, tentang mimpi membangun sebuah lembaga pendidikan. Kami bercerita banyak. Barangkali, kami terlalu muda jika harus mendidik masyarakat yang usianya lebih tua dari kita. Lebih sulit mendidik orangtua, daripada anak-anak. Dan membuat lembaga pendidikan, ikut memperbaiki bangsa ini, sama sekali tak bisa dilakukan sendiri. Kita membutuhkan banyak orang, dan bukan menyingkirkan mereka yang keras tak mau dipahamkan, melainkan merangkulnya, seberat apapun mengajaknya paham.

Kedua, tentang Gengsi.

Aku ceritakan padanya tentang gengsi sebagian besar kita – anak muda. Kita muda, punya pekerjaan, penampilan oke, punya semangat/gairah hidup yang tinggi, gengsi akan menangkap kita. Sekali lagi, ini tentang materialistis. Kemungkinannya sama besar untuk laki-laki atau perempuan, bahwa mereka yang merasa mapan, tak mau menikah dengan orang yang tak sebanding. Aku ceritakan kisahku kemarin akhir September. Teman SMP-ku menikah, aku datang di walimahannya, bahkan sampai tengah malam. Kami berbincang banyak, tapi yang paling ku suka adalah tentang kerendah-hatian. Dia bilang istrinya hanya lulusan SD, membantu toko sembako di bibi-nya. Sempat aku bercanda, ada lagi nggak yang lulusan SD seperti dia? (hehe). Aku sama sekali tak punya profil harus seperti apa istriku nanti. Banyak orang yang bilang, tampang kece begini tak punya pacar pasti karena pilah-pilih. Oke, oke, untuk sebagian orang, mereka memang harus memilih, harus seperti apa istri/suaminya kelak. Tapi, satu yang harus kita tahu, itu adalah ilusi pengendalian. Kita bisa mengendalikan tubuh mereka, tapi tidak dengan jiwa/pikirannya. Dari sana kita paham, kita selalu membutuhkan komunikasi dewasa, bijak, dan mencerahkan. Tapi aku sama sekali tak memilih. Pengalaman menunjukan, justru wanita-lah yang memilih untuk tak memilihku. Mungkin terasa sakit, tapi, sekali lagi, itu wajar. Rasa sakit kita butuhkan, sebagai bayaran menuju pemahaman yang lebih tinggi, lebih utuh tentang kebahagiaan, atau, hidup.

            Suatu saat aku menikah denga seorang gadis yang hanya lulusan SD – misalnya, aku tak punya gengsi. Akan ku kenalkan pada teman-temanku di sana, di sini, dimanapun : Ini istriku, ia hanya lulusan SD, tapi aku sangat mencintainya. Atau : Ini istriku, dia hanya lulusan SMP, tapi dia membantuku menyelesaikan tulisan-tulisanku. Aku benar-benar bersyukur bertemu dengannya. Atau : Ini istriku, dia Cuma lulusan SMA, sekarang lagi les menjahit. Nanti akan buka layanan jasa menjahit di rumahnya, khusus untuk warga kurang mampu, gratis. Dia sungguh luar biasa.

Kehidupan yang sederhana, selalu aku impikan. Kebahagiaan, adalah selalu tentang apa yang dapat kita kendalikan. Bukan tentang apa yang belum kita miliki, tapi apa yang telah ada dalam diri kita. Tapi, sepertinya kehidupan tak mengizinkannya.

Sering ku ceritakan pada teman, jikapun aku menikah, tak mungkin di kota ini. Mengapa? Orang-orang di sini mengenalku sebagai benda, pajangan, jika aku menikah, maka harus diadakan semacam showroom, harus besar karena ada keluarga besar yang juga ingin ikut merayakannya, harus menyebar undangan begitu banyak. Merepotkan. Seorang sepupu menyarankan, tamu itu bisa dikendalikan, siapa yang diundang siapa yang jangan. Tapi, setelah ku pikir lagi, itu akan menjadikan komunikasi kami renggang. Ada alasan tak logis mengapa tak mengundangnya. Yap, mereka akan berburuk sangka, bahwa mereka tak cukup penting dalam hidupku. Aku ingin pernikahan yang sederhana, semakin tak ada yang mengenalku di sana, semakin baik. Ketika aku pulang darisana kembali ke sini, aku bisa beralibi bahwa tempat itu jauh, itu akan merepotkan mereka. Mungkin ini juga gengsi, tapi aku benci dengan kemubadziran, ketidakefisienan. Aku menghindar dari sesuatu yang mewah. Tak nyaman.

            Akan sampai apa kita hidup ini, jika terus diperbudak gengsi, dan hasrat kekanak-kanakan seperti itu? Kita dilahirkan untuk memperbaiki dunia ini, bukan sebaliknya, menambah kekacauan. Gengsi hanya akan menyisakan penderitaan yang dalam saat kematian datang. Bahwa hidup ini begitu indah, mengapa aku begitu egois? Aku ingin hidup lagi, seribu tahun lagi. Seseorang menangis saat sekarat bukan karena ketakutan ruhnya terambil, tapi ketakutan yang sangat dahsyat harus meninggalkan dunia yang indah ini, lalu masuk ke dunia kematian yang sama sekali tak dikenal : akan ada apa disana. Kita melihat dunia dengan mata terbuka, dan kita melihat Tuhan saat mata kita tertutup : dari dunia. Jalan-Nya, adalah jalan mengesampingkan keinginan duniawi. Kita akan hidup/mati bahagia, ketika mampu membuka mata pada Tuhan, bahkan sebelum kematian datang.

Ketiga, Tentang sekolah
            Semalam ada musyawarah keluarga, membahas lokasi definitif sekolah. Perenungan yang panjang, rasanya aku menemukan ide yang bisa menyatukan kembali orang-orang yang awalnya membenci di sana. Tapi, persoalannya ternyata bukan itu. Di sini, ada keegoisan. Musyawarah semalam akhirnya blunder, tak jelas menghasilkan apa. Mengapa? Yap, karena keegoisan itu. Aku paham, tak ada yang bisa menguasi pikiran manusia selain Tuhan, dan manusia itu sendiri. Jika memang persoalannya telah paham, mengapa tak dari dulu diselesaikan? Atau, mengapa tak ada agenda, langkah-langkah yang akan diambil, agar kami, para guru tenang. Rasanya ingin sekali aku melepaskan tanggung jawab ini, lalu menerima amanah di tempat lain, dan ku majukan lembaga lain itu semaju-majunya. Dalam pendidikan, aku tahu apa yang aku kerjakan. Aku tahu sebatas apa pengetahuanku, dan aku tahu apa saja yang tak aku ketahui, lalu tak akan pernah sok tahu dalam hal itu. Persoalan keegoisan ini begitu menyebalkan. Jika memang merasa paham, mengapa tak diganti saja aku ini? Dalam bidang yang aku pahami, aku tak akan pernah mau dikendalikan siapapun. Persoalannya sebenarnya mudah, jika aku diberi amanah, diamlah dan lihat. Baik buruk aku yang akan tanggung jawab, penjara atau kematian tak akan menyakitiku. Lalu apa yang menyakitiku? Ketika orang lain merasa memiliki kebebasan dalam hidupku. Kamu harus begini, kamu harus begitu, mengapa tidak urus dulu hidup kita sendiri masing-masing?. Jika memang tak terima dengan sifat-ku itu – tak mau dikendalikan, ambil saja amanah itu. Hidupku mengalir, akan jadi Elang ataupun Cacing, aku bahagia. Tidak percaya? Berdoalah pada Tuhan agar aku tertakdir itu.

            Sempat aku katakan pada kakak iparku, satu tahun lagi aku tak akan mengambil uang gajiku. Selain itu, aku bernazar, aku akan menikah setelah sekolah itu memiliki lokasi definitif. Oke, aku tak sedang sok keren, meniru Mohammad Hatta yang bernazar tak akan menikah sebelum Indonesia ini merdeka. Tapi, ini adalah tentang totalitas. Kau ingin tahu seberapa gilanya aku, oke, kita lihat, sejauh mana aku mampu mempertahankan kegilaanku ini. Bagaimana jika nanti masyarakat menghina dengan sebutan jomblo tua? Ya ampun, peduli apa dengan mulut orang lain? Selama aku baik, jika mereka tak menerimaku, bukan suatu kerugian untukku. Dan kenyataannya, aku terkadang sangat rindu untuk memanen hinaan. Rasanya lama sekali aku tak terhujani ejekan, hinaan, yang ku balas dengan senyum dan salam.


            Lagipula, terkadang ada perasaan, bahwa aku belum siap membagi rahasia hidupku, bahkan dengan kekasihku. Bukan karena aku pelit atau tak menemukan cara/bahasa untuk menyampaikannya. Melainkan, ia akan terkejut betapa aneh atau gila kekasihnya ini. Semisal, kekasihku tak bisa menangis di hadapanku. Bukan karena ia takut, bahwa aku tahu ia sedang berusaha menipu-ku dengan tangisannya itu, melainkan ia merasa gila. Ia tahu bahwa aku tahu ia sedang menipu-ku, tapi aku memilih untuk masuk dalam tipuannya. Ia akan berbisik dalam hatinya, aku memiliki lelaki yang benar-benar gila. Aku mampu membaca pikirannya, dan dengan itu aku menyerahkan diriku padanya. Tapi, itu hanya permisalan. Bukankah pikiran lebih kompleks dari itu? (hehe)

Bacaan selanjutnya

Menuju episode baru II                                                           Untukmu para wanita jomblo

No comments:

Post a Comment