Paradoks - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, November 27, 2014

Paradoks



Setiap keberuntungan yang diterima seseorang pastilah berpijak di atas ketidakberuntungan orang lain.

Itu kata-kata dari seorang adik tingkatku. Ia sudah lulus, tapi baru akan wisuda Desember nanti. Dia bertanya begitu, dan memintaku untuk meyanggah pendapatnya itu. Temanku yang satu ini, mungkin satu-satunya teman yang selalu mampu menyanggah, bahkan menentang argumentasiku dengan teori atau hipotesis dari berbagai tokoh besar sejarah. Tapi, tentu saja, sekalipun mampu menyanggah, ia tak benar-benar mampu untuk menyangkal bahwa pernyataan yang aku sampaikan itu salah. Aku tak berkata, kecuali telah berpengalaman dalam hal itu.
            Selasa sore, kami berbincang hampir satu jam setengah. Banyak hal kami bahas, adu argumentasi, berdebat, tertawa puas tiap kali menemukan sanggahan-sanggahan yang kuat.

Ahh.. ente mah tulisannya monoton. Lagi-lagi masalah cewek, merit, punya anak, etc. Yang lain dong, servis henpon kek, motor kek, resep makanan gitu. Kata dia.

Ya ampun, blog tentang itu udah banyak keleus. Tapi blog tentang pemikiran orisinil itu jarang. Kalaupun ada, lebih sering membosankan daripada mengaduk-aduk kemapanan berpikir pembacanya. Kata saya.

Lah, blog pemikiran mah gak laku. Gak ada yang baca. Kata dia lagi.

Ya ampun, bray, lu nulis karena pengin dibaca orang yak? Wahaha, cemen banget. Kalo kita bikin makanan terus ga ada yang makan bukan karena ga enak/bayar, itu bukan salah kita. Lebih jelas lapar makanan kan daripada lapar ilmu? Padahal kita tahu hasil yang dikeluarkan otak sama perut itu beda banget. Kata saya.

Yak jangan merit mulu lah, apa kek yang rada berat. Kata dia.

Justru, lu tuh anak tunggal, ibu lu pasti pengin banget ngegendong cucu. Lu-nya aja nih, jadi anak tak bertanggung jawab, wahaha. Candaku.

Susah tauk. Lagian, gua lagi nikmatin hidup nih, kemana-mana sendirian. Merasa berpetualang banget.  Kata dia.

Aduuuh, bray, kagak ada tuh petualangan yang lebih menegangkan daripada kenalan sama cewek en cinta. Haha. Kata saya lagi.

Ya ente, kenapa belum merit? Umur kan udah 26, udah tua lu. Wahaha. Kata dia.

Kampret nih anak.

Kalo gua emang lagi ada misi besar. Kalo merit deket-deket inih, kasian dia, bakal sering gua tinggalin. Kata saya.

Yak sama kali, gua juga ada misi hidup. Kata dia.

Wahaha, misi apaan???

Cari kerja, kenalan sama cewek.

Wkwkwkwk,

Sampai hampir setengah enam kami mengobrol. Aku senang, dia mulai fokus untuk membumi, tidak seperti saat awal kami berkenalan, pemikirannya begitu melangit.

Sebenarnya, aku bisa menjawab saat itu juga dengan membalas sms-nya. Tapi, jika itu terjadi, tulisan ini tak akan ada. Masa depan selalu memberikan segala kemungkinan.

Apa yang kita sebut sebagai keberuntungan, seperti kebanyakan hal, adalah rekayasa perasaan. Bahasa lebaynya, konspirasi hati (haha). Segala sesuatu menuju kerusakan, kecuali cinta. Seseorang yang bangga, merasa beruntung mendapatkan wanita/pria yang berwajah menawan, kaya, alim, dsb, tidak ada kepastian bahwa di tengah perjalanan hidup mereka akan aman. Aku sempat juga cerita pada temanku itu tentang kata-kata Epicuros, bahwa seorang suami yang mencium kening istrinya, dalam kesadaran akan memunculkan dua perasaan yang bertentangan. Pertama rasa sayang/cinta, kedua perasaan berat bahwa suatu saat mereka akan saling meninggalkan. Paradoks hidup. Yap, waktu, semua mengalir di dalamnya, menuju kemusnahan. Kecuali, cinta. Mereka yang telah tenggelam di dalamnya akan abadi. Karena cinta bukan tentang memiliki (have), tapi menjadi (being). Tak ada perpisahan, tak ada kehilangan, tak ada perasaan buruk apapun, ketika seseorang telah tenggelam dalam cinta.

Apa yang disebut keberuntungan, kebaikan, belum tentu itu bertahan lama. Berapa banyak kisah sejarah yang mengisahkan ini.

Kita mulai dari Adam. Ia mendapatkan Hawa, teman hidup, kebaikan yang menyertai hidupnya. Apakah itu keberuntungan? Justru, jika kita senang menyalahkan orang  - lain, Hawa yang menjadikan manusia harus hidup di dunia. Oke, aku tak sedang membahas surga yang sebenarnya.
Qobil (Kain, dalam Injil), merasa beruntung dengan tubuhnya yang besar. Ia merasa beruntung dapat mengorbankan darah dan daging untuk Tuhan, sedangkan Habil hanya hasil tani. Tapi, ternyata  sebaliknya, Habil-lah yang terpilih. Apakah Habil beruntung? Justru kemenangannya berakhir kematian, bahkan terbunuh oleh kakaknya sendiri. Apakah Qobil merasa beruntung telah membunuh adiknya? Justru, ia menyesal, dan menguburkannya mencontoh burung gagak yang ia lihat.
Musa, mendapatkan kesempatan belajar dengan Khidir. Apakah itu keberuntungannya? Bahkan Musa, karena Khidir terlalu membingungkan, itu menjadi kesialannya, tak bisa memegang kata-katanya sendiri. Akan banyak sekali kisah-kisah seperti ini jika kita menengok panggung sejarah yang telah lewat.

Kita lihat dari diri kita sendiri. oke, oke, karena aku tak mau mengambil contoh orang lain, aku ambil diri sendiri.
Tentang jodoh, misalnya. Jikapun aku berkali-kali, katakanlah, gagal, apakah itu suatu ketidakberuntungan? Tentang kekayaan, pekerjaan keren yang aku tolak dengan sopan, wanita-wanita yang aku hindari justru ketika mereka ingin dekat, apakah itu suatu ketidakberuntungan? Terkadang, dunia ini bagaimana atau darimana sisi kita melihatnya. Seringkali, kita tak mau mengerti, bahwa keinginan cenderung meminta pengorbanan, yang tak jarang itu besar. Kita selalu mampu untuk berkeinginan – besar, tapi lebih sering menolak ketika pengorbanan besar dibutuhkan untuk mendapatkannya. Kita takut, dan menolak untuk disebut penakut. Sedangkan hidup ini proses, segala hal, termasuk berdamai dengan rasa takut yang terasa mengancam. Aku tak takut untuk mendekati wanita manapun. Tapi aku takut untuk mengorbankan banyak orang, meninggalkan banyak orang yang membutuhkan. Seorang penglima perang menolak untuk bertempur bukan karena ia takut mati, tapi tak mau mengambil resiko pada prajuritnya yang kelelahan dan rakyat yang ada dalam penjagaannya.


Beruntung atau tidak beruntung seringkali sebatas utopia pikiran. Dan tentang regenerasi (pernikahan), justru karena kita tahu kita tak abadi, kita sebaiknya melakukannya. 

No comments:

Post a Comment