Sweet November - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, November 2, 2014

Sweet November

Sara, this life is not perfect!

Kakak perempuanku mengetuk pintu kamar, nada suaranya sendu. Ia akan pulang ke rumah suaminya. "Temani ibu, ya?" katanya. "Oke," jawabku pendek. Aku fokus menonton film Sweet November yang baru tadi siang aku download.

Di rumah, kini tinggal tiga orang. Ada dua kamar kosong, kalau kakak perempuanku itu ikut suaminya. Suasananya sepi, jadi mungkin wajar beliau merasa haru ketika akan meninggalkan kami. Kemesraan berkeluarga memang menyenangkan, indah, nikmat. Tapi, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bertahan lama. Tak akan pernah ada.

Jadi, apa yang kita keluhkan sebenarnya?

Di luar, sedang ada perayaan hari raya anak yatim, 10 Muharam. Suara ceramah seorang kyai sayup-sayup terdengar. Tapi, aku tak bisa kemana-mana. Maksudku, tubuhku tak bisa kemana-mana, hanya pikiran dan imajinasi. Semenjak kakakku menikah, aku semakin jarang keluar rumah, terlebih lagi malam hari. Bahkan, akhir-akhir ini aku sering merenung, bagaimana caranya membuat suatu alat yang sekali tekan, aku tahu yang menekannya sedang berada di mana. Alat itu untuk ibu dan bapak. Beliau tak biasa memegang handphone. Jadi, semisal ibu belanja, atau bapak yang masih bekerja ikut kontraktor membangun, mendesain jalan atau jembatan, aku bisa tahu beliau dimana dan aku segera menjemputnya. Terdengar seperti seorang pahlawan yak? (hehe)

Pernah aku katakan pada seorang siswi yang bertanya mengapa sampai saat ini aku belum menikah, bahkan pacar pun tak punya. Aku tak tertarik dengan kecantikan. Aku menghargai kecantikan, bahkan ingin selalu menggoda wanita-wanita cantik. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik. Bukan juga keturunan, kecerdasan, gelar pendidikan, bukan juga keshalihan. Ketertarikanku muncul dari hati, ketika itu tak terjelaskan, maka itu cinta. Aku akan menikah dengan ia yang siap mengikutiku di sini. Dan rasanya masih ada waktu sekitar satu tahun lagi untuk memikirkan itu. Mungkin.

Seperti dalam film Sweet November itu. Aku paham bagaimana rasa keputusasaan seseorang yang sakit dan menatap ajal lebih jelas daripada orang lain. Satu kisah yang jarang aku ceritakan di sini adalah tentang ia, seorang perempuan istimewa saat masih SMA. Seseorang yang membawaku memasuki pintu tragedi kehidupan, sekaligus menyadarkanku, bahwa tak ada satupun hal di dunia ini yang kekal, abadi, sempurna. Selalu ada kelemahan dalam setiap hal, manusia, yang tak jarang orang lain tak boleh mengetahuinya. Sesuatu yang kita sembunyikan dari orang yang sangat kita cintai, karena kita tak ingin ia menderita ketika tahu rahasia itu.

Tapi, bukankah kehidupan ini memang tak sempurna? Mengapa kita mencari kesempurnaan, sedangkan kita paham mencari itu di dunia ini hanyalah utopia?

Kau ingin seorang pria yang tampan, baik hati, cerdas, berdarah priyayi, apakah dengan itu masalah tak akan datang? Apakah dengan itu hidupmu cukup? Kebenarannya adalah, semakin istimewa apa yang kita miliki, maka semakin besar kekhawatiran kita untuk menjaganya. Adakah jaminan itu tak akan meninggalkan kita, atau sebaliknya, kita akan meninggalkannya? Apa yang sebenarnya manusia cari di dunia ini?


Lalu, Sara pun meninggalkan Nelson dalam keterlepasan total menerima bahwa ia tak ingin ajal menjemputnya, di depan orang yang mencintainya, dan dicintainya. Dan seperti November, hanya selisih satu bulan menuju akhir. Seperti kehidupan, tak ada satu pun manusia yang mampu memastikan, mungkin saja hidupnya menjelang keberakhiran : waktu, jabatan, rasa sehat, etc. Mengapa kita tak menerimanya dengan senang hati?

No comments:

Post a Comment