Jon dan Temannya Sang Wanita Karir - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, December 30, 2014

Jon dan Temannya Sang Wanita Karir

Analogi apapun yang kau berikan, alih-alih memberikan pembelaan, itu menyerang balik pada dirimu sendiri. Untuk siapa kita bekerja? Kita mungkin berdalih, dengan kebercukupan, itulah yang dibutuhkan anak-anak kita. Tapi, pernahkan kita bertanya pada mereka, apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari kita?_Jon Q_

Jon bertemu dengan temannya di sebuah Mall. Dia bekerja di sebuah Bank Swasta. Seperti kebanyakan Bank, dia tak diperbolehkan menikah sampai beberapa tahun bekerja di Bank tersebut. Ia baru satu tahun setengah bekerja. Seperti layaknya wanita karir, siang itu mereka diskusi tentangkesetaraan kaum pria dan wanita. Berbeda dengan Jon yang Cuma pakai kolor dan sweater, temannya itu necis dan tampil menawan.

"Sendirian, Jon? Dari dulu ngotot banget nggak mau pacaran?" canda teman Jon mengawali.

"Haha, sama keponakan," balasnya. "Gue sih mau aja, siapa yang nggak mau sama gue, hehe – Jon melirik temannya itu. Tapi, prinsip tetap prinsip. Wanita di dekat gue harus dimuliakan," teman Jon itu dulu waktu SMA sempat suka padanya. Tapi, seperti kebanyakan wanita yang mendekati Jon, ia juga tak kuat – stress, dan akhirnya memilih pacaran dengan teman dekat satu sekolahnya.

"Yang sendirian itu kamu. Udah kerja, cantik, nunggu apalagi?" kata Jon.

"Enggak deh, aku sama teman kerja, tuh lagi belanja baju," katanya. "Kontrak kerja nggak bolehin kita menikah sampai 3 tahun,"

"Oh, gitu toh. Resiko jadi wanita karir – hehe,"

"Nggak juga. Wanita atau pria, di kita disamakan, nggak boleh nikah sebelum 3 tahun bekerja,'' sanggah teman Jon. ''Memang seharusnya begitu kan, pria dan wanita tak ada deskriminasi (pembedaan) lagi,"

''Deskriminasi? Maksudnya? ''

''Yaa.. nggak dibedakan lagi. Wanita punya hak sama besar dalam bekerja. Bukan lagi zamannya wanita Cuma penjaga rumah dan anak, ''

''Memangnya gitu ya, wanita menganggap itu, menjaga rumah dan anak sebagai sisi negatif? '' tanya Jon.

''Ya nggak juga. Tapi kan mesti adil, laki-laki bisa cari duit, wanita juga sama, ''

''Menurut kamu, duit yang kita cari itu, untuk siapa? ''

''Untuk anak-anak lah. Biar mereka tak kekurangan. Hidup berkecukupan, ''

''Pernah tanya nggak ke anak-anak, sebenarnya yang mereka butuhkan duit dan kebendaan kita lainnya, atau ibu dan ayahnya yang siap kapan saja di dekatnya? ''

Teman Jon terdiam.

''Jadi, menurutmu, yang kamu maksud dimuliakan, wanita itu harus di rumah, menjaga anak, rumah, dan melayani suami saja? ''

''Itu terlalu sinis. Betul, bahwa sebagian laki-laki itu kurang dewasa, menganggap dirinya lebih dominan daripada istri/wanita. Tapi, yah, aku akui dunia ini sulit sekali dibikin ideal, ''

''Maksud ideal? ''

''Wanita pada hakekatnya adalah pemimpin pria. Jika diibaratkan, wanita adalah raja, sedang pria adalah perdana menteri. Raja harus diajak diskusi tentang rakyat, tentang negara, meski yang bersentuhan dengan rakyat adalah perdana menteri. ''

''Kaitannya sama pikiran sinis yang kamu ucapkan tadi apa? ''

''Ya itu, jarang ada yang memiliki pemahaman, serendah apapun jenjang pendidikan istri, ia harus dilibatkan, diajak diskusi, dicerdaskan, bahwa tugas yang diemban wanita itu memang lebih berat. Wanita harus memilih, mana yang dibutuhkan, rumah atau tempat kerja. Jika rumah, maka ia terbayangi karir dan jenjang pendidikannya tak akan terpakai. Jika tempat kerja, maka anak yang penting diberikan apa yang diinginkan, tapi bukan yang dibutuhkan, dan suami harus memahami itu – anaknya diasuh oleh orang lain,'' Jon mulai berceloteh.

''Tapi nggak gitu juga, Jon. Sepulang kerja kan bisa kita bermain dengan anak, dialog, dan malamnya dengan suami, ''
Jon tersenyum.

''Setuju. Tapi, sekuat apapun wanita, saat pikirannya kacau, ia lebih lemah bahkan dari laki-laki yang kurang dewasa, '' kata Jon. ''Secara teoritis itu bisa, tapi secara praktis susah. Memang ada, wanita karir yang super sibuk tapi masih bisa bekerja sama dengan anak-anaknya. Tapi sebelum itu, harus ada sistem yang mengatur itu – apa saja yang harus dilakukan anak saat tidak ada orang tua. Dan lebih banyak orangtua yang tak sabar ketika sistem itu dibangun. Mereka ingin anak-anak patuh, tapi dengan tidak berada di dekatnya, ''

''Intinya, kamu lebih setuju wanita itu dikurung di rumah? Tak perlu bersentuhan dengan dunia dan kemajuan zaman? Bukannya itu tak adil? ''
Jon tertawa.

''Aku sebut tadi, pikiran seperti itu terlalu sinis. Siapa yang kita bisa ambil contoh dalam hal ini? Teorisasi para feminis atau nabi? Jangan terburu-buru menghakimi. Kenapa wahyu tentang menutup sebagian besar tubuh wanita itu turun, untuk menjaga dan memuliakan wanita yang direndahkan di jaman itu – karena bagian-bagian tubuhnya yang terlihat. Wanita boleh keluar rumah, tapi dengan menjaga harga dirinya – menutup aurat. Terlepas dari perzinaan zaman ini yang didominasi kaum wanita berkerudung, itu sisi gelapnya, '' jelas Jon. ''Setuju, wanita harus melek teknologi dan ilmu pengetahuan, tapi itu juga dikomunikasikan dengan suami. Dan suami yang baik, yang senang ketika istri cerdas, semakin paham, tanpa meninggalkan kodratnya, ''

''Kodratnya sebagai istri dan ibu? Melahirkan dan merawat anak, maksudnya? ''

''Sayangnya, iya. Kita tak bisa melawan takdir itu. Bahwa mengandung dan melahirkan itu, meskipun sebagian laki-laki ingin, tapi tak akan bisa, '' kata Jon. ''Yang laki-laki bisa adalah menjaga itu, menganggap mereka – istri dan anak – sebagai manusia yang sama haknya dengannya, kebutuhan fisik, kejiwaan/psikis, dan intelektual-spiritual sebaiknya terpenuhi. Itu mengapa aku katakan tadi, susah sekali menjadikan dunia ini ideal. Pada akhirnya, wanita lebih takut tak berkarir, miskin, dan kontinyu mendoktrin suami agar ideal, daripada mendidik anak membesarkan fisik dan pemikirannya,''

''Tapi, seakan itu tak adil. Suami bisa kemana saja, dengan istri segala sesuatunya harus izin, ''

''Tadi aku bilang, ideal itu susah sekali. Idealnya, ada komunikasi yang intim antara suami dan istri, mau kemana, mau apa, saling memberi tahu. Berdialog, diskusi bijak, mencerdaskan dan mencerahkan pemikiran istri/suami, '' kata Jon. ''Wanita mengira mereka selalu menjadi korban, deskriminasi, hak asasi, hukum, pekerjaan, sedang sebenarnya pria-lah yang lebih kasihan. Kamu lihat cewek-cewek itu yang pakai rok mini? Siapa yang menjadi korban? Mereka? Lihat – pahami – lebih luas, laki-laki tak kuat melihat itu. Mereka yang memakai terasa biasa saja, tapi laki-laki yang melihat itu dan berfantasi, ia tak akan tahan. Stress. Lebih banyak mana bintang porno wanita atau pria? Siapa lagi-lagi yang dikorbankan? Wanita? Justru pria. Wanita tak ada capeknya, semakin capek semakin sampai pada puncak klimaks. Laki-laki? 30 menit aja udah lemes kali. Lagi-lagi pria yang dikorbankan, ''

Mereka tertawa.

''Kita mau ambil contoh siapa? Margareth Thatcher? Ia mengaku sendiri lebih senang berada di tengah keluarganya. Kartini, Dewi Sartika? Bahkan Kartini mati muda karena frustasi, karena suaminya keras kepala, memegang tradisi konservatif, perempuan tak punya kemungkinan mulia dengan pemikirannya. Istri-istri nabi? Siapa? Khadijah? Dia bahkan menjadi miskin dan terancam, memilih meninggalkan semua predikat keduniawian demi suaminya. Aisyah? Zainab – bint Jahs? Mereka malah bekerja di rumah, dan sebagian besar uangnya disedekahkan untuk para sufi masjid, ''
Teman Jon melongo. Ia semakin bingung saja dengan temannya itu. Sebenarnya, Jon itu tipe laki-laki konservatif yang mendukung wanita di rumah saja, atau modern yang mendukung wanita untuk berkarir.

''Jadi, kamu ingin cari istri yang bagaimana, berkarir atau ibu rumah tangga? '' tanya teman Jon.

''Nggak tahu – hehe, '' Jon tersenyum. ''Gue serahkan pada Tuhan. Wanita seperti apa, ia akan menjadi raja yang cantik duduk di singgasananya, ''

No comments:

Post a Comment